bukamata.id – Jakarta, Sabtu sore, 7 Maret 2026. Jarum jam baru saja melewati angka 16.30 WIB ketika sebuah pesan singkat menyebar cepat di berbagai grup percakapan, memutus keriuhan akhir pekan dengan keheningan yang menyesakkan. Kabar itu datang dari keluarga besar Harry Aprianto, membawa duka yang tak terperikan: Oxavia Aldiano, atau yang lebih dikenal dunia sebagai Vidi Aldiano, telah berpulang.
Belum genap satu jam kabar itu tersiar, jagat maya langsung dibanjiri air mata digital. Di platform Instagram dan X, deretan musisi papan atas Indonesia seolah kehilangan kata-kata. Komposer ternama Andi Rianto, yang kerap menjadi saksi kejeniusan Vidi di studio rekaman, mengunggah layar hitam pekat dengan tulisan singkat namun sarat luka: “Selamat jalan Vidi Aldiano.”
Tak berselang lama, Melly Goeslaw turut menyampaikan salam perpisahan yang menyayat hati. “Innalillahi wainailaihi rojiun, selamat jalan Vidi, selamat kembali ke pangkuan Allah SWT, InsyaAllah Surga Firdaus tempatmu,” tulis Melly.
Kalimat serupa juga datang dari Cynthia Lamusu yang tampak terguncang hebat: “YA ALLAH… Vidiiiiii… Selamat Jalan… InsyaAllah Husnul Khotimah,” tulisnya diiringi deretan emotikon tangis.
Sementara Kiki Farel mendoakan agar sahabatnya itu mendapatkan ketenangan yang selama ini ia cari: “Selamat jalan Vidi, insya Allah ditempatkan di tempat yang tenang, lapang, dan bahagia di sana.”
Gelombang duka ini menjadi bukti nyata betapa Vidi bukan sekadar penyanyi, melainkan simpul persahabatan di industri hiburan Indonesia. Namun, bagi keluarganya, ini adalah kepulangan seorang anak yang sangat dicintai.
“Vidi wafat didampingi seluruh keluarga besar yang ikhlas akan kepergiannya menghadap Allah SWT, 7 Maret jam 16:33. Selamat jalan menuju Cahaya Ilahi, Nak,” bunyi petikan pesan resmi dari sang ayah, Harry Kiss.
Perjalanan Melawan Badai Sunyi
Kabar duka ini, meski mengejutkan, seolah menjadi titik akhir dari perjuangan panjang yang telah dijalani Vidi selama tujuh tahun terakhir. Sejak vonis kanker ginjal menghampirinya pada 2019, hidup suami Sheila Dara Aisha ini berubah menjadi rangkaian jadwal rumah sakit dan meja operasi.
Oktober 2025 menjadi salah satu momen terakhir publik melihat Vidi di depan kamera. Saat itu, penampilannya memicu spekulasi luas. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus, kulitnya terlihat pucat namun bersih, atau yang sering disebut warganet sebagai efek glowing. Namun, bagi Vidi, perubahan fisik itu bukanlah soal estetika.
“Kalau merasa lebih bagus, makasih, tapi glowing enggak cukup. Yang cukup itu harus sehat,” ujarnya kala itu di Jakarta Pusat. Dengan nada dingin namun tegar, ia menjelaskan bahwa berat badannya yang turun drastis adalah bagian dari rangkaian diet ketat untuk mendukung pengobatannya. “Gendut atau kurus, yang penting sehat. Semoga saya bisa sehat terus.”
Keinginan untuk sehat adalah doa yang tak putus-putus ia rapalkan. Perjuangannya membawa Vidi hingga ke Singapura dan Penang, Malaysia. Di media sosial, ia sering membagikan momen pengobatannya dengan sebutan “Cancer Warrior”, memberikan semangat bagi sesama pejuang sakit tanpa pernah kehilangan senyum lebarnya yang khas.
Anak Ajaib dengan Nama Penuh Makna
Vidi Aldiano lahir di Jakarta pada 29 Maret 1990. Nama pemberian ayahnya, Harry Kiss, bukanlah sekadar nama keren. Oxavia bermakna keseimbangan, sebuah doa agar hidupnya selalu berada di titik tengah, tidak berlebihan. Sementara Aldiano adalah akronim dari “Alhamdulillah dia nongol”.
Nama belakang itu lahir dari sebuah ketegangan maut saat proses persalinan. Sang ibu dan Vidi kecil hampir tidak selamat karena kondisi medis yang kritis. Saat keduanya berhasil melewati masa kritis, ayahnya berucap syukur dengan kalimat itu. Sejak lahir, Vidi memang sudah terbiasa berjuang untuk hidup.
Darah musik mengalir kental di nadinya. Ia adalah cucu dari penyanyi keroncong legendaris S. Darsih Kissowo. Sejak usia 2,5 tahun, ia sudah menjuarai lomba menyanyi. Bakatnya ditempa melalui piano dan biola sejak sekolah dasar. Namun, jalannya menuju puncak popularitas tidak semudah membalik telapak tangan.
Ditolak Label hingga Menjadi Raja Panggung
Dunia mungkin mengenal Vidi melalui Nuansa Bening, lagu daur ulang milik Keenan Nasution yang ia bawakan kembali dengan napas baru pada 2008. Namun, sebelum lagu itu meledak, Vidi sempat mencicipi pahitnya penolakan. Album perdananya, Pelangi di Malam Hari, diproduksi secara independen setelah demo rekamannya ditolak oleh berbagai label besar.
Kesuksesan Nuansa Bening kemudian mengubah segalanya. Vidi bukan hanya sekadar penyanyi; ia adalah seorang penghibur yang cerdas. Kariernya membentang selama 18 tahun, melahirkan empat album studio seperti Yang Kedua (2011), Persona (2016), hingga Senandika (2022). Ia juga tercatat sebagai musisi Indonesia yang visioner, terbukti dari kolaborasi internasionalnya bersama Lay Zhang dan Lauv lewat lagu Run Back to You pada 2024 lalu.
Kehebatan Vidi tak hanya di atas panggung. Ia adalah anomali di industri hiburan: seorang artis yang sangat mengedepankan pendidikan. Vidi menyabet gelar sarjana dari Universitas Pelita Harapan dengan IPK 3,62, lalu terbang ke Inggris untuk meraih gelar Magister dari University of Manchester dengan predikat Cum Laude. Bagi Vidi, intelektualitas dan kreativitas adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.
Sheila Dara: Cinta yang Menemani Hingga Garis Finis
Di balik ketegaran Vidi, ada sosok Sheila Dara Aisha. Hubungan yang dimulai dari lokasi syuting serial Stereo pada 2015 itu sempat mengalami pasang surut. Mereka pernah berpisah pada 2018, namun takdir membawa mereka kembali bersatu pada 2020.
Vidi melamar Sheila tepat di hari ulang tahunnya, 31 Maret 2021, dan keduanya resmi menikah pada Januari 2022. Sheila bukan sekadar istri bagi Vidi; ia adalah jangkar di tengah badai kesehatan yang berkecamuk. Sheila tetap setia mendampingi setiap sesi kemoterapi, setiap perjalanan ke rumah sakit di luar negeri, hingga momen terakhir di Sabtu sore yang kelabu itu.
Warisan Senyuman dan Semangat
Kini, sang “Penenun Harmoni” telah meletakkan mikrofone-nya untuk selamanya. Di usia 35 tahun, Vidi Aldiano meninggalkan warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar trofi AMI Awards atau deretan lagu hits. Ia meninggalkan sebuah standar tentang bagaimana menjadi pejuang hidup yang tetap anggun di bawah tekanan.
Vidi telah menuntaskan dietnya, menuntaskan pengobatannya, dan menuntaskan tugasnya menghibur jutaan jiwa. Ia kini tidak perlu lagi merisaukan apakah wajahnya tampak pucat atau tidak. Ia telah melangkah menuju “Cahaya Ilahi” sebagaimana pesan keluarganya—sebuah tempat di mana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi sel kanker, hanya ada nuansa bening yang abadi.
Selamat jalan, Oxavia Aldiano. Terima kasih untuk setiap nada yang kau titipkan di hati kami.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









