bukamata.id – Pernyataan dari kreator konten asal Malaysia-Inggris, Mark O’dea, yang menyebut batik sebagai budaya “tradisional Malaysia” dalam sebuah acara promosi film The Fantastic Four: First Steps di Sydney, memicu gelombang respons dari warganet Indonesia. Banyak netizen yang merasa pernyataan tersebut mengaburkan akar sejarah batik yang sejatinya berasal dari Indonesia, khususnya dari wilayah Jawa.
Melalui kolom komentar di akun Instagram pribadinya, @markodea8, Mark menjelaskan bahwa pernyataannya tidak bermaksud mengklaim batik sebagai milik eksklusif Malaysia. Ia hanya menekankan bahwa batik juga memiliki peran budaya di negaranya. Namun, klarifikasi itu tidak sepenuhnya meredakan reaksi publik di Indonesia.
Sejarah Batik: Jejak Budaya yang Mendunia
Batik merupakan salah satu warisan budaya tertua di Nusantara yang berkembang pesat di tanah Jawa. Secara etimologis, istilah “batik” berasal dari bahasa Jawa, yakni gabungan kata “amba” (menulis) dan “titik” (titik atau titik-titik), yang menggambarkan teknik menggambar motif pada kain menggunakan malam (lilin) panas.
Sejarah batik di Indonesia memiliki keterkaitan erat dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit, serta meluas pada era Kesultanan Mataram dan diteruskan di lingkungan keraton Solo dan Yogyakarta. Awalnya, seni batik hanya digunakan di kalangan bangsawan istana, namun seiring waktu, keterampilan membatik menyebar ke masyarakat umum.
Berbagai teknik membatik seperti batik tulis, batik cap, hingga batik printing pun berkembang. Motif batik bukan sekadar dekoratif, melainkan sarat makna filosofis dan simbolik, seperti motif parang, kawung, dan lereng yang mencerminkan nilai kehidupan dan struktur sosial.
Selain tekniknya yang khas, pewarnaan batik tradisional juga menggunakan bahan-bahan alami, seperti soga, mengkudu, hingga tanah liat. Setiap daerah di Indonesia pun menghadirkan corak dan gaya batik yang berbeda-beda—seperti Batik Pekalongan, Batik Cirebon, hingga Batik Papua.
Pengakuan Dunia terhadap Batik Indonesia
Pengakuan internasional terhadap batik sebagai warisan budaya Indonesia ditetapkan secara resmi oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009, dalam sidang Komite Antar Pemerintah tentang Warisan Budaya Takbenda yang digelar di Abu Dhabi. Sejak saat itu, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Batik Nasional.
Sebelum pengakuan ini, batik telah diperkenalkan ke panggung dunia oleh Presiden Soeharto dalam berbagai forum internasional, termasuk konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengajuan resmi batik ke UNESCO dilakukan pada 4 September 2008, dan diterima pada Januari 2009.
Melalui Keputusan Presiden No. 33 Tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional sebagai bentuk penghargaan atas pengakuan dunia tersebut. Hari ini menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas dan kebanggaan nasional melalui pelestarian budaya membatik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








