bukamata.id – Jagat media sosial Indonesia kembali diramaikan oleh dua kata kunci yang mendadak meroket di mesin pencarian: “Teh Pucuk viral” dan “KKN 17 menit.”
Banyak warganet mengaku menemukan tautan yang diklaim berisi video berdurasi 17 menit dan disebut-sebut beredar di Telegram. Namun, benarkah video tersebut nyata? Atau ini hanya pola lama konten sensasional yang dikemas ulang untuk memancing klik?
Dari Video Pendek ke Klaim 17 Menit
Viralnya isu ini bermula dari potongan video singkat yang beredar di TikTok dan grup percakapan. Cuplikan tersebut memperlihatkan dua orang berada di dalam kamar, dengan detail kecil seperti botol minuman kemasan yang kemudian menjadi sorotan.
Dari potongan singkat itulah muncul berbagai narasi liar. Sejumlah akun mulai menyematkan judul provokatif, bahkan mengaitkannya dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nusa Tenggara Barat.
Angka “17 menit” ikut dicantumkan dalam berbagai unggahan untuk meningkatkan rasa penasaran publik. Padahal, hingga saat ini belum ada bukti autentik mengenai keberadaan versi lengkap berdurasi 17 menit tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana fragmen visual sederhana dapat berkembang menjadi klaim besar hanya karena dikemas dengan judul yang sensasional.
Kenapa Disebut “Teh Pucuk Viral”?
Istilah “Teh Pucuk viral” muncul karena nama produk minuman yang terlihat dalam cuplikan video dijadikan sebagai “kata kunci umpan” untuk mempercepat penyebaran konten.
Namun hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari pihak merek terkait konten tersebut. Istilah itu lebih banyak digunakan sebagai label clickbait dibandingkan representasi fakta yang terverifikasi.
Strategi ini umum digunakan dalam pola viral digital: menyebut merek populer agar konten lebih mudah masuk algoritma dan memancing rasa ingin tahu pengguna media sosial.
Link Beredar, Tapi Tidak Selalu Aman
Seiring meningkatnya rasa penasaran, warganet mulai berburu tautan yang diklaim sebagai link video KKN 17 menit versi lengkap. Namun, banyak di antaranya justru mengarah ke situs mencurigakan.
Beberapa tautan meminta pengguna memasukkan data pribadi, login ulang akun media sosial, atau diarahkan ke halaman dengan iklan berlebihan. Pola ini dikenal sebagai modus penipuan digital yang memanfaatkan tren viral untuk menjebak korban.
Pakar literasi digital mengingatkan bahwa risiko mengklik tautan palsu jauh lebih besar dibandingkan manfaat mengetahui isi video yang belum tentu ada atau belum terverifikasi.
Pola Lama yang Terulang
Kasus “Teh Pucuk viral” dan “KKN 17 menit” memperlihatkan pola yang berulang di media sosial:
- Potongan video singkat beredar.
- Judul provokatif disematkan.
- Klaim video panjang dimunculkan.
- Link palsu disebarkan.
- Publik terpancing rasa penasaran.
Siklus ini bukan hal baru, namun selalu efektif menarik perhatian, terutama ketika dibungkus dengan unsur sensasi dan angka durasi tertentu.
Di tengah derasnya arus informasi digital, publik diimbau untuk tetap kritis, tidak mudah percaya pada klaim yang belum terverifikasi, serta menghindari mengklik tautan mencurigakan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










