bukamata.id – Awal Ramadhan kembali diwarnai kegaduhan di media sosial. Warganet TikTok ramai membicarakan link video cukur kumis 35 menit yang mendadak beredar di kolom komentar hingga grup percakapan.
Sejumlah unggahan mengklaim video tersebut sebagai versi “full”, bahkan disebut sudah dilengkapi percakapan asli. Klaim ini membuat rasa penasaran publik meningkat, namun di sisi lain memicu kekhawatiran terkait keamanan digital.
Dari Versi Tanpa Suara ke Klaim Ada Percakapan
Video “cukur kumis” sebenarnya sudah beredar sejak beberapa waktu lalu. Versi awal yang viral hanya menampilkan visual tanpa konteks jelas, disertai musik latar tanpa suara percakapan.
Belakangan, muncul klaim adanya versi baru yang memuat audio asli. Istilah pencarian seperti “video cukur kumis ada percakapannya” pun mulai ramai digunakan di berbagai platform.
Di sejumlah forum, beredar potongan transkrip yang diklaim berasal dari versi bersuara tersebut. Namun hingga kini, keaslian audio maupun isi lengkap video tersebut belum pernah diverifikasi secara independen.
Durasi 35 Menit Bikin Penasaran
Isu semakin meluas setelah muncul klaim video berdurasi sekitar 35 menit. Durasi panjang ini dinilai tidak lazim untuk konten TikTok, sehingga justru memicu rasa ingin tahu lebih besar.
Sejumlah akun memanfaatkan narasi “full video” untuk menarik klik dan interaksi. Fenomena ini selaras dengan perubahan pola konsumsi konten, di mana sebagian pengguna kini mulai tertarik pada tayangan berdurasi lebih panjang.
Namun, pakar keamanan digital mengingatkan bahwa tren tersebut kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan tautan tidak resmi.
Ancaman Link Palsu dan Malware
Di balik viralnya link video cukur kumis 35 menit, terdapat risiko keamanan siber yang tidak bisa diabaikan. Banyak tautan yang mengklaim mengarah ke video lengkap justru berpotensi mengandung malware atau modus penipuan digital.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika sebelumnya telah memblokir ratusan ribu tautan dengan pola serupa sejak 2024. Judul-judul provokatif seperti “link rahasia” atau “full tanpa sensor” kerap digunakan untuk mengeksploitasi rasa penasaran publik.
Cuplikan video juga diduga sengaja dipotong tanpa konteks guna mendorong pengguna mencari versi lengkap melalui link mencurigakan.
Imbauan Bijak Bermedia Sosial di Bulan Ramadhan
Hingga kini, tidak ada kepastian mengenai keaslian audio maupun isi video yang disebut lebih lengkap tersebut. Warganet diimbau untuk tidak mudah percaya terhadap klaim sepihak yang beredar tanpa sumber jelas.
Menahan diri untuk tidak mengeklik tautan mencurigakan, memverifikasi informasi, serta menjaga keamanan data pribadi menjadi langkah penting agar terhindar dari penipuan digital.
Di momen Ramadhan, kewaspadaan dalam bermedia sosial menjadi hal yang tak kalah penting agar ruang digital tetap aman dan kondusif.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











