bukamata.id – Sebuah klip video berdurasi kurang dari 15 detik yang viral di TikTok sejak awal Februari 2026 memicu gelombang hoaks berantai.
Warganet ramai mencari “link video full” dengan klaim durasi puluhan menit, padahal hasil investigasi menunjukkan versi panjang tersebut tidak pernah ada.
Kronologi Viral Video Singkat
Klip yang pertama kali beredar sejak Senin (2/2/2026) menampilkan seorang perempuan muda berhijab pashmina hitam dan mengenakan hoodie krem di dalam kamar dengan suasana santai. Konten ini tidak mengandung unsur vulgar dan tidak melanggar kebijakan platform.
Namun, ekspresi wajah pemeran dalam video memicu spekulasi berlebihan di kolom komentar. Narasi yang menyebut “video cukur kumis” tersebar luas dan menimbulkan hoaks.
Akun populer seperti @fefeq60 dan @video.di.biyo6 mempercepat penyebaran klip melalui unggahan ulang pada Selasa (3/2/2026).
Penelusuran Hasil Investigasi
Tim redaksi melakukan penelusuran sejak Senin hingga Selasa siang dengan memeriksa arsip platform video, mesin pencari, dan akun sumber asli. Hasilnya konsisten: tidak ditemukan versi panjang klip tersebut di mana pun. Semua konten yang beredar hanyalah klip singkat dengan durasi sama.
“Kasus ini fenomena klasik media sosial: potongan video biasa diinterpretasi berlebihan hingga memicu hoaks berantai,” ujar Dr. Rini Susanti.
“Kata kunci ‘link video full’ kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mengarahkan korban ke situs phishing atau menyebarkan malware,” tambahnya.
Imbauan Kominfo dan Literasi Digital
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui kanal Siaga Hoaks mengingatkan masyarakat agar tidak gegabah mengklik tautan mencurigakan di kolom komentar atau pesan pribadi. Modus serupa sering digunakan untuk mencuri data pribadi, termasuk informasi perbankan dan akun media sosial.
Kominfo merekomendasikan empat langkah krusial untuk melindungi diri dari hoaks viral:
- Verifikasi klaim viral melalui sumber resmi atau platform terpercaya.
- Hindari mengklik tautan tidak dikenal di kolom komentar.
- Laporkan konten clickbait yang memicu kegaduhan.
- Ingat, tidak semua konten viral memiliki “makna tersembunyi”.
Fenomena ini menegaskan urgensi literasi digital di era informasi instan. Satu klip singkat bisa memicu kehebohan besar, namun kebijaksanaan dan sikap kritis menjadi benteng utama melawan hoaks yang merugikan, baik secara finansial maupun psikologis.
“Masyarakat perlu kritis sejak awal. Jika sebuah klip viral disertai ajakan mencari ‘link full’, itu sudah menjadi tanda bahaya. Keamanan digital dimulai dari kehati-hatian kita sendiri,” tegas Rini.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











