Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Catat! 5 Tempat Kuliner di Bandung Ini Punya Menu Unik, Cocok Buat Wisata Kuliner

Rabu, 14 Oktober 2026 05:00 WIB

Mau Nonton Persib Vs Cong Viettel? Catat Lokasi dan Jam Penukaran Tiketnya!

Rabu, 14 Oktober 2026 04:00 WIB
Bansos

Saldo KKS Masih Kosong? Ini Cara Cek Status Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026

Rabu, 14 Oktober 2026 03:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Catat! 5 Tempat Kuliner di Bandung Ini Punya Menu Unik, Cocok Buat Wisata Kuliner
  • Mau Nonton Persib Vs Cong Viettel? Catat Lokasi dan Jam Penukaran Tiketnya!
  • Saldo KKS Masih Kosong? Ini Cara Cek Status Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026
  • Menggugah Selera! Ini 5 Spot Kuliner Hits di Cimahi yang Bikin Ketagihan
  • Destinasi Wisata Pilihan di Sekitar Stasiun Cimahi untuk Liburan Singkat
  • Mentereng! Ini Catatan Statistik John Herdman Selama Nahkodai Timnas Indonesia
  • PMI Asal Bandung Barat Diduga Disekap di Dubai, Keluarga Menanti Kabar
  • Klok Minta Bobotoh Terus Bersama Persib, Target Besar Menanti di ACL Two
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 14 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

25 Tahun Mengabdi Gaji 500 Ribu, Penjaga Sekolah Ini Jalan Kaki 9KM dan Tinggal di Rumah Reyot

By SusanaRabu, 11 Maret 2026 10:26 WIB4 Mins Read
Rumah Cacang Hidayat . Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Perjuangan panjang seorang penjaga sekolah di Kabupaten Lebak, Banten, menyentuh hati banyak orang. Selama lebih dari dua dekade, Cacang Hidayat tetap setia mengabdi di dunia pendidikan meski hidup dalam keterbatasan ekonomi dan tinggal di rumah yang nyaris roboh.

Pria berusia 55 tahun itu merupakan warga Kampung Sanding, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur. Sejak Juni 2001, ia bekerja sebagai penjaga sekolah sekaligus pengelola perpustakaan di SMP Negeri 2 Cibadak, Kabupaten Lebak.

Pengabdian selama hampir 25 tahun tersebut ternyata tidak diiringi dengan kesejahteraan yang memadai. Cacang hanya menerima gaji antara Rp550 ribu hingga Rp800 ribu per bulan sebagai tenaga honorer.

Meski demikian, ia tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.

Berjalan Kaki 9 Kilometer Setiap Hari

Setiap pagi, Cacang harus berjalan kaki sejauh 8 hingga 9 kilometer menuju sekolah tempatnya bekerja. Perjalanan pulang pergi itu memakan waktu hampir dua jam.

Rutinitas tersebut sudah ia jalani sejak pertama kali bekerja lebih dari dua dekade lalu.

Perjalanan panjang itu bukan perkara mudah, apalagi usia Cacang yang kini tidak lagi muda. Namun, ia tetap bertahan demi tanggung jawabnya menjaga sekolah dan melayani siswa yang membutuhkan akses ke perpustakaan.

Bagi Cacang, pendidikan adalah hal penting yang harus dijaga meskipun dirinya hidup dalam keterbatasan.

Gaji Honorer untuk Menghidupi Delapan Anggota Keluarga

Penghasilan yang diterima Cacang tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

Dari gaji Rp550 ribu hingga Rp800 ribu per bulan, ia harus menafkahi delapan anggota keluarga. Cacang memiliki enam anak, dengan anak sulungnya masih duduk di bangku kelas XII sekolah menengah atas.

“Minimal Rp550 ribu. Kadang ditambah sedikit karena sudah lama kerja,” ujarnya.

Untuk bertahan hidup, Cacang mengandalkan hasil kebun kecil di sekitar rumah. Selain itu, istrinya juga bekerja serabutan, mulai dari menjadi asisten rumah tangga hingga buruh pembibitan jamur.

Pendapatan sang istri pun tidak menentu, biasanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per minggu jika ada pekerjaan.

Tinggal di Rumah Reyot yang Nyaris Ambruk

Kondisi ekonomi yang terbatas membuat Cacang tidak mampu memperbaiki rumahnya secara layak. Rumah yang ia tempati bersama keluarga bahkan sudah mengalami kerusakan sejak lebih dari satu dekade lalu.

Atap rumah banyak yang bocor, kayu penyangga mulai lapuk, dan sebagian bangunan pernah roboh setelah tertimpa pohon tumbang.

Saat musim hujan tiba, seluruh anggota keluarga terpaksa berkumpul di satu kamar yang masih cukup kuat untuk ditempati.

“Kalau hujan, rumah ini sudah enggak layak huni. Bocor di mana-mana,” tuturnya.

Meski tinggal di rumah yang rawan roboh, Cacang tetap memilih bertahan karena tidak memiliki kemampuan finansial untuk memperbaikinya.

Penantian Panjang Akhirnya Berbuah Hasil

Di tengah segala keterbatasan yang dialaminya, secercah harapan akhirnya datang. Setelah bertahun-tahun mengikuti seleksi sejak 2003, Cacang akhirnya dinyatakan lolos sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Pada Senin, 22 Desember 2025, ia resmi dilantik oleh Bupati Lebak sebagai PPPK.

Pelantikan tersebut menjadi momen yang sangat mengharukan bagi Cacang setelah hampir seperempat abad mengabdi sebagai tenaga honorer.

“Sangat senang, ini penantian panjang saya sejak lama. Akhirnya jadi pegawai yang digaji negara juga,” kata Cacang dengan penuh syukur usai pelantikan.

Dengan status barunya sebagai PPPK, ia akan mendapatkan kepastian hukum sebagai tenaga pemerintah sekaligus penghasilan yang lebih layak.

Harapan Sederhana: Rumah yang Layak untuk Keluarga

Meski telah berhasil menjadi PPPK, harapan Cacang sebenarnya sangat sederhana. Ia hanya ingin memiliki rumah yang layak huni untuk keluarganya.

Rumah yang aman dari kebocoran dan ancaman roboh menjadi impian kecil yang selama ini belum bisa ia wujudkan.

Kisah perjuangan Cacang Hidayat menjadi gambaran nyata tentang dedikasi tenaga honorer di dunia pendidikan yang sering kali bekerja dalam keterbatasan.

Banyak pihak berharap kisah ini dapat sampai kepada pemerintah daerah maupun pihak terkait sehingga ada perhatian nyata bagi mereka yang telah lama mengabdi namun masih hidup dalam kesulitan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bansos

Saldo KKS Masih Kosong? Ini Cara Cek Status Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026

PMI Asal Bandung Barat Diduga Disekap di Dubai, Keluarga Menanti Kabar

Warga Keluhkan Lagi Kebisingan, Lapangan Padel di Surya Sumantri Bakal Diperiksa

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

BSU Oktober 2026 Rp900 Ribu Belum Pasti Cair, Ini Penjelasan Kemnaker

Satu Mahasiswa Di-DO! Telkom University Jatuhkan Sanksi ke 4 Pelaku Perundungan Asrama

Dugaan Bullying di Kuningan, Siswa SMP Dilarikan ke RS Usai Telan Cairan Karbol

Terpopuler
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Ilustrasi video syur
    Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.