bukamata.id – Di atas permukaan air rawa yang tenang di Suaka Margasatwa Lamandau, sebuah perahu kayu kecil membelah sunyi. Penumpangnya bukan pemburu, bukan pula pelancong biasa. Ia adalah Timtom, seekor orang utan yang kini menjadi simbol harapan bagi konservasi primata di Kalimantan Tengah. Dengan tatapan mata yang dalam dan sikap tubuh yang tenang, Timtom duduk di haluan perahu, seolah sedang merenungi pelajaran yang baru saja ia terima dari belantara.
Potret Timtom yang “anteng” saat diantar jemput menggunakan perahu ini belakangan mencuri perhatian publik setelah diunggah oleh akun Instagram BKSDA Kalteng. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan mengembalikan insting liar yang sempat tercerabut.
Masa Lalu yang Terbelenggu di Sampit
Kisah Timtom tidak dimulai di hutan rimbun, melainkan di tengah pemukiman manusia. Pada tahun 2016, Timtom ditemukan hidup di lingkungan masyarakat di Kota Sampit, Kotawaringin Timur. Saat itu, ia hanyalah bayi mungil berusia enam bulan yang seharusnya masih mendekap erat di pelukan induknya. Alih-alih belajar memanjat pohon raksasa, Timtom justru menghabiskan masa bayinya di bawah atap manusia.
Penyerahan Timtom ke pihak berwenang menjadi titik balik hidupnya. Sejak Januari 2016, ia resmi masuk ke dalam program soft release. Kini, satu dekade telah berlalu. Timtom yang dulu bayi mungil telah bertransformasi menjadi individu berusia 10,5 tahun yang sedang menempuh “pendidikan tinggi” di Sekolah Hutan Camp Buluh, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Kurikulum Sekolah Hutan: Belajar Menjadi Liar
Rehabilitasi orang utan bukanlah proses yang instan. Ini adalah upaya “mendewasakan” kembali insting yang tumpul akibat interaksi terlalu dini dengan manusia. Di Camp Buluh, Timtom mengikuti serangkaian kurikulum alam yang ketat: memanjat, bergelantung, mencari pakan alami, hingga teknik arsitektur hutan—membangun sarang.
Salah satu metode unik yang diterapkan adalah membiasakan Timtom bermain di hutan seberang sungai depan camp. Seminggu sekali, ia diantar menggunakan perahu menuju “kelas” alaminya dan dibiarkan mandiri selama tiga hingga empat hari. Di sinilah momen ikonik itu tercipta. Saat sore hari tiba dan waktunya kembali ke camp, Timtom akan duduk manis di perahu, menatap riak air rawa seolah-olah seorang siswa yang baru saja menyelesaikan ujian berat.
Kepala BKSDA Kalteng, Andi Muhammad Khadafi, menjelaskan bahwa lokasi belajar yang dikelilingi air rawa bukan tanpa alasan. Kondisi geografis ini memaksa orang utan untuk terus berada di atas pohon. Insting memanjat pun terbentuk secara alami karena mereka enggan turun ke area yang tergenang air.
Tantangan Terbesar: Seni Membangun Rumah
Meski Timtom menunjukkan perkembangan luar biasa dalam hal memanjat dan memilah buah hutan, ia masih memiliki satu ganjalan besar untuk bisa “lulus” dan dilepasliarkan: kemampuan membangun sarang.
Bagi orang utan, sarang adalah benteng pertahanan terakhir. Namun, Timtom tampaknya sedikit “malas” dalam urusan konstruksi. Alih-alih mematahkan ranting dan menyusun dahan baru setiap malam, ia lebih sering menggunakan sarang lama bekas orang utan lain secara berulang. Perilaku ini menjadi catatan penting bagi para pendamping dari Orangutan Foundation UK (OF-UK) yang setia mengawasinya.
“Jika nanti skill membuat sarangnya sudah bagus, Timtom bisa dijadikan kandidat untuk dilepasliarkan selanjutnya,” ujar Andi Muhammad Khadafi. Kemampuan membuat sarang yang baru setiap malam adalah indikator vital keamanan mereka di alam liar agar terhindar dari predator dan parasit.
Trauma Domestikasi: Dari Sinetron ke Hutan
Proses rehabilitasi Timtom yang memakan waktu bertahun-tahun mencerminkan betapa rusaknya dampak domestikasi pada satwa liar. Andi mengungkapkan bahwa lamanya seorang individu “bersekolah” sangat bergantung pada seberapa dalam mereka terpapar gaya hidup manusia.
Ada cerita-cerita pilu sekaligus ironis di balik rehabilitasi orang utan. Andi menceritakan kisah lama tentang individu orang utan yang bahkan menolak tidur jika belum menonton sinetron—sebuah bukti nyata betapa perilaku manusia bisa merusak tatanan alami primata. Semakin tua usia orang utan saat dievakuasi dari pemeliharaan ilegal, semakin sulit pula mereka melepaskan ketergantungan pada manusia.
Dalam kasus Timtom, ketenangannya saat di atas perahu bukanlah tanda bahwa ia telah menjadi jinak sepenuhnya. Sebaliknya, itu adalah tanda bahwa ia mulai merasa aman dengan lingkungannya saat ini. “Rasa tenang itu tanda merasa aman, bukan kehilangan naluri liar,” tegas pihak BKSDA. Ketenangan adalah modal utama bagi Timtom untuk fokus menyerap ilmu bertahan hidup di hutan.
Menanti Hari Kepulangan
Harapan besar kini tertumpu pada bahu Timtom yang semakin kekar. Sekolah hutan bukan sekadar tempat penampungan, melainkan jembatan menuju kedaulatan. Timtom diharapkan tidak hanya menjadi penghuni hutan, tetapi menjadi “penjaga” yang sejati—individu yang mampu mencari makan sendiri, bereproduksi, dan mempertahankan populasinya di alam liar Kalimantan.
Saat perahu kayu itu merapat ke dermaga Camp Buluh, dan Timtom melompat kembali ke dahan-dahan pohon, para petugas hanya bisa berharap bahwa suatu saat nanti, perahu itu tidak perlu lagi menjemputnya. Suatu saat nanti, Timtom akan tetap tinggal di dalam rimba, membangun sarang kokohnya sendiri di puncak pohon tertinggi, dan benar-benar menjadi raja di rumahnya sendiri.
Perjalanan Timtom adalah pengingat bagi kita semua: bahwa tempat terbaik bagi satwa liar bukan di dalam kandang atau pelukan manusia, melainkan di bawah rimbun kanopi hutan yang luas dan bebas.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








