Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Duh! Rekor Indonesia vs Thailand di Final Bikin Cemas, Garuda Kini Bertekad Balas Dendam

Senin, 5 Oktober 2026 12:34 WIB
bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 2026 Cair Oktober-Desember, Begini Cara Cek Lewat HP

Senin, 5 Oktober 2026 12:06 WIB

Teja Paku Alam Dukung Penuh Timnas Indonesia, Singgung Beratnya Lawan Thailand

Senin, 5 Oktober 2026 11:36 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Duh! Rekor Indonesia vs Thailand di Final Bikin Cemas, Garuda Kini Bertekad Balas Dendam
  • Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 2026 Cair Oktober-Desember, Begini Cara Cek Lewat HP
  • Teja Paku Alam Dukung Penuh Timnas Indonesia, Singgung Beratnya Lawan Thailand
  • Diduga Sopir Mabuk, Honda City Terjun ke Parit di Bulevar Raya Summarecon Bandung
  • Traffic Light Mati, Dishub Pasang CCTV dan Bandung Targetkan Pulih 1–2 Minggu
  • Detik-Detik Pekerja Tertimbun Tanah dan Batu saat Perbaiki Kirmir Sungai Cijalupang
  • 4 Assist Lawan Bangladesh, Ole Romeny Malah Diragukan Main di Final Indonesia vs Thailand
  • Jelang Duel Port FC vs Persib, Maung Bandung Kehilangan Banyak Pemain! Ini Daftarnya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 5 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Ada Orang Utan Gak Bisa Tidur Kalau Gak Nonton Sinetron? Ini Faktanya!

By Aga GustianaJumat, 13 Maret 2026 18:52 WIB4 Mins Read
Orang utan bernama TimTom. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di atas permukaan air rawa yang tenang di Suaka Margasatwa Lamandau, sebuah perahu kayu kecil membelah sunyi. Penumpangnya bukan pemburu, bukan pula pelancong biasa. Ia adalah Timtom, seekor orang utan yang kini menjadi simbol harapan bagi konservasi primata di Kalimantan Tengah. Dengan tatapan mata yang dalam dan sikap tubuh yang tenang, Timtom duduk di haluan perahu, seolah sedang merenungi pelajaran yang baru saja ia terima dari belantara.

Potret Timtom yang “anteng” saat diantar jemput menggunakan perahu ini belakangan mencuri perhatian publik setelah diunggah oleh akun Instagram BKSDA Kalteng. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan mengembalikan insting liar yang sempat tercerabut.

Masa Lalu yang Terbelenggu di Sampit

Kisah Timtom tidak dimulai di hutan rimbun, melainkan di tengah pemukiman manusia. Pada tahun 2016, Timtom ditemukan hidup di lingkungan masyarakat di Kota Sampit, Kotawaringin Timur. Saat itu, ia hanyalah bayi mungil berusia enam bulan yang seharusnya masih mendekap erat di pelukan induknya. Alih-alih belajar memanjat pohon raksasa, Timtom justru menghabiskan masa bayinya di bawah atap manusia.

Penyerahan Timtom ke pihak berwenang menjadi titik balik hidupnya. Sejak Januari 2016, ia resmi masuk ke dalam program soft release. Kini, satu dekade telah berlalu. Timtom yang dulu bayi mungil telah bertransformasi menjadi individu berusia 10,5 tahun yang sedang menempuh “pendidikan tinggi” di Sekolah Hutan Camp Buluh, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Kurikulum Sekolah Hutan: Belajar Menjadi Liar

Rehabilitasi orang utan bukanlah proses yang instan. Ini adalah upaya “mendewasakan” kembali insting yang tumpul akibat interaksi terlalu dini dengan manusia. Di Camp Buluh, Timtom mengikuti serangkaian kurikulum alam yang ketat: memanjat, bergelantung, mencari pakan alami, hingga teknik arsitektur hutan—membangun sarang.

Salah satu metode unik yang diterapkan adalah membiasakan Timtom bermain di hutan seberang sungai depan camp. Seminggu sekali, ia diantar menggunakan perahu menuju “kelas” alaminya dan dibiarkan mandiri selama tiga hingga empat hari. Di sinilah momen ikonik itu tercipta. Saat sore hari tiba dan waktunya kembali ke camp, Timtom akan duduk manis di perahu, menatap riak air rawa seolah-olah seorang siswa yang baru saja menyelesaikan ujian berat.

Kepala BKSDA Kalteng, Andi Muhammad Khadafi, menjelaskan bahwa lokasi belajar yang dikelilingi air rawa bukan tanpa alasan. Kondisi geografis ini memaksa orang utan untuk terus berada di atas pohon. Insting memanjat pun terbentuk secara alami karena mereka enggan turun ke area yang tergenang air.

Tantangan Terbesar: Seni Membangun Rumah

Meski Timtom menunjukkan perkembangan luar biasa dalam hal memanjat dan memilah buah hutan, ia masih memiliki satu ganjalan besar untuk bisa “lulus” dan dilepasliarkan: kemampuan membangun sarang.

Bagi orang utan, sarang adalah benteng pertahanan terakhir. Namun, Timtom tampaknya sedikit “malas” dalam urusan konstruksi. Alih-alih mematahkan ranting dan menyusun dahan baru setiap malam, ia lebih sering menggunakan sarang lama bekas orang utan lain secara berulang. Perilaku ini menjadi catatan penting bagi para pendamping dari Orangutan Foundation UK (OF-UK) yang setia mengawasinya.

“Jika nanti skill membuat sarangnya sudah bagus, Timtom bisa dijadikan kandidat untuk dilepasliarkan selanjutnya,” ujar Andi Muhammad Khadafi. Kemampuan membuat sarang yang baru setiap malam adalah indikator vital keamanan mereka di alam liar agar terhindar dari predator dan parasit.

Trauma Domestikasi: Dari Sinetron ke Hutan

Proses rehabilitasi Timtom yang memakan waktu bertahun-tahun mencerminkan betapa rusaknya dampak domestikasi pada satwa liar. Andi mengungkapkan bahwa lamanya seorang individu “bersekolah” sangat bergantung pada seberapa dalam mereka terpapar gaya hidup manusia.

Ada cerita-cerita pilu sekaligus ironis di balik rehabilitasi orang utan. Andi menceritakan kisah lama tentang individu orang utan yang bahkan menolak tidur jika belum menonton sinetron—sebuah bukti nyata betapa perilaku manusia bisa merusak tatanan alami primata. Semakin tua usia orang utan saat dievakuasi dari pemeliharaan ilegal, semakin sulit pula mereka melepaskan ketergantungan pada manusia.

Dalam kasus Timtom, ketenangannya saat di atas perahu bukanlah tanda bahwa ia telah menjadi jinak sepenuhnya. Sebaliknya, itu adalah tanda bahwa ia mulai merasa aman dengan lingkungannya saat ini. “Rasa tenang itu tanda merasa aman, bukan kehilangan naluri liar,” tegas pihak BKSDA. Ketenangan adalah modal utama bagi Timtom untuk fokus menyerap ilmu bertahan hidup di hutan.

Menanti Hari Kepulangan

Harapan besar kini tertumpu pada bahu Timtom yang semakin kekar. Sekolah hutan bukan sekadar tempat penampungan, melainkan jembatan menuju kedaulatan. Timtom diharapkan tidak hanya menjadi penghuni hutan, tetapi menjadi “penjaga” yang sejati—individu yang mampu mencari makan sendiri, bereproduksi, dan mempertahankan populasinya di alam liar Kalimantan.

Saat perahu kayu itu merapat ke dermaga Camp Buluh, dan Timtom melompat kembali ke dahan-dahan pohon, para petugas hanya bisa berharap bahwa suatu saat nanti, perahu itu tidak perlu lagi menjemputnya. Suatu saat nanti, Timtom akan tetap tinggal di dalam rimba, membangun sarang kokohnya sendiri di puncak pohon tertinggi, dan benar-benar menjadi raja di rumahnya sendiri.

Perjalanan Timtom adalah pengingat bagi kita semua: bahwa tempat terbaik bagi satwa liar bukan di dalam kandang atau pelukan manusia, melainkan di bawah rimbun kanopi hutan yang luas dan bebas.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Stabil, Antam Rp2,613 Juta dan UBS Rp2,530 Juta per Gram

Mojang Bandung Gita Puspita: Aktif Berorganisasi, Mengajar, dan Terus Bertumbuh Mengejar Masa Depan

Bongkar Dapur Comeback Syahrini: Dari Alasan Vakum, Bagi-bagi Dollar, Hingga Konsultan Komedi!

Liburan ke Indramayu? Ini 4 Tempat Wisata Terbaru 2026 yang Wajib Masuk Daftar

Dede Sunandar Tumbang di Ring, Vicky Prasetyo Menangis Histeris

Jangan Cuma Jalan-jalan, Ini 5 Kuliner Khas Indramayu yang Wajib Dicicipi

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
  • Badai di Tubuh KORMI Bandung: Hibah Seret, Kudeta Kepengurusan, hingga Sentilan Guru Besar UPI
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.