bukamata.id – Sebuah kisah mengharukan sekaligus mencengangkan datang dari Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Jaeni Tirya Sarkim, asal Desa Hulubanteng, Kecamatan Pabuaran, yang sempat dinyatakan hilang kontak selama puluhan tahun di Arab Saudi, akhirnya berhasil ditemukan dan terhubung kembali dengan keluarganya.
Jaeni mulanya merantau mengadu nasib ke Negeri Raja Salman pada tahun 1991. Pada tiga tahun pertama masa kerjanya, komunikasi dengan sanak saudara di kampung halaman masih berjalan lancar. Namun, petaka rindu itu bermula pada tahun 1994 tatkala seluruh saluran komunikasi terputus total tanpa kabar berita.
Awal Mula Hilang Kontak Sejak 1994
Anak ketiga Jaeni, Abdul Rohim (38), mengenang kembali masa-masa pilu ketika sang ibu berangkat merantau saat usianya masih menginjak tiga tahun. Rohim yang tumbuh besar bersama kembarannya, Abdul Rohman, serta seorang kakak bernama En Yulia, harus rela melewati masa kecil tanpa kasih sayang seorang ibu.
Hilangnya kontak dengan sang ibunda dipicu oleh keterbatasan akses komunikasi di masa lalu serta kendala nomor telepon.
“Karena dulu kan zaman dulu kalau telepon di wartel, di Babakan di sana. Terus tiba-tiba hilang kontak. Nomor yang di Arab tuh enggak bisa dihubungi, Ibu juga mungkin nyari ke sini enggak bisa dihubungi, makanya hilang dari tahun ’94,” kenang Rohim saat ditemui, Senin (28/9/2026).
Berbagai upaya pencarian telah ditempuh pihak keluarga selama puluhan tahun, termasuk meminta bantuan ke berbagai lembaga terkait pada tahun 2019 silam. Sayangnya, usaha tersebut sempat menemui jalan buntu sebelum akhirnya secercah harapan muncul baru-baru ini.
Titik Terang dan Panggilan Video Penuh Tangis
Keajaiban itu datang ketika Pemerintah Desa Hulubanteng menerima informasi dari perwakilan resmi Indonesia di Arab Saudi perihal adanya seorang wanita asal Cirebon yang ingin dipulangkan usai puluhan tahun tertahan.
Setelah dicocokkan, memori Jaeni terbukti kuat menyebutkan detail identitas keluarganya, mulai dari nama alamat rumah hingga mendiang orang tuanya, Ibu Ruti dan Bapak Driya. Keyakinan keluarga semakin bulat usai melihat kiriman foto paspor milik Jaeni.
Panggilan video call perdana yang difasilitasi pihak kedutaan pun berubah menjadi lautan air mata haru. Rohim mengaku nyaris lupa paras wajah ibunya lantaran ditinggal sejak balita. Kini, di usianya yang menginjak 58 atau 59 tahun, Jaeni masih bekerja di rumah majikan yang sama sejak pertama kali tiba pada 1991 silam.
“Ya alhamdulillah, ternyata benar itu Ibu saya. Ibu juga ya kita nangis lah, nangis bahagia, karena udah 35 tahun enggak ada kabar,” tutur Rohim penuh syukur.
Segera Pulang Usai Urusan Rampung
Meski sudah bisa melepas rindu lewat ponsel majikannya, kepulangan Jaeni ke Tanah Air harus tertunda sejenak lantaran anak majikannya dikabarkan sedang sakit, serta masih menunggu proses penyiapan tenaga pengganti (pembantu baru).
Menariknya, selama puluhan tahun ditinggal merantau, garis keturunan Jaeni terus bertambah. Ia kini telah resmi menjadi seorang nenek dari total 5 cucu hasil pernikahan Rohim dan saudara kembarnya. Sang ibu bahkan sudah berencana pulang usai Lebaran nanti demi merajut kembali sisa hari tua bersama anak-cucu di Cirebon.
“Sebagai anak ya udahlah, udah sepuh, waktunya kumpul lagi sama anak. Kan anak juga udah lama ditinggal. Kita kumpul bareng, nikmati masa tua lah,” pungkas Rohim penuh harap.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










