Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Misteri Poster Munaslub Golkar 29 November: Siapa ‘Gank Solo’ & Komprador di Balik Layar?

Sabtu, 7 November 2026 15:57 WIB

Link Video Viral Durasi 9 Menit 48 Detik Jadi Buruan Netizen, Karyawan HWI Jepara Terseret?

Sabtu, 7 November 2026 13:30 WIB
BSU cair

Gaji di Atas Rp3,5 Juta Masih Bisa Dapat BSU 2026? Cek Ketentuan UMK dan Syarat Lengkapnya!

Sabtu, 7 November 2026 13:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Misteri Poster Munaslub Golkar 29 November: Siapa ‘Gank Solo’ & Komprador di Balik Layar?
  • Link Video Viral Durasi 9 Menit 48 Detik Jadi Buruan Netizen, Karyawan HWI Jepara Terseret?
  • Gaji di Atas Rp3,5 Juta Masih Bisa Dapat BSU 2026? Cek Ketentuan UMK dan Syarat Lengkapnya!
  • Daftar Tim Lolos 16 Besar ACL 2: Persib Bandung Bersanding dengan Raksasa Asia
  • Viral Video Camat Injak Punggung Pria Demi Seberangi Kubangan, Pemkab Buka Suara!
  • Tragedi Ngaliwet di Garut: Cuma Gegara Sambal Asin, Paman Tega Tikam Keponakan Hingga Tewas
  • Larangan Spanduk Karhutla Berujung Hujatan! Klarifikasi Mentah, Oki Rengga Dituding Star Syndrome dan Jumawa!
  • Bencana Beneran Dianggap Arena Bermain? Ria Ricis Diamuk Warganet!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 7 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Akad di Tanah Luwu, Cinta dari Afrika: Cerita Pernikahan Alifah dan Malik

By Aga GustianaSelasa, 23 Desember 2025 13:26 WIB5 Mins Read
Alifah dan Malik. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pagi di Dusun Salumakarra, Kelurahan Noling, Kecamatan Bua Ponrang, Kabupaten Luwu, Sabtu (20/12/2025), terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya karena prosesi akad nikah yang digelar khidmat, tetapi juga karena sosok pengantin pria yang membuat warga seolah lupa berkedip. Tinggi menjulang, berkulit gelap, dan berpostur besar, pria itu berdiri gagah di samping mempelai perempuan asal Luwu. Namanya Malik Maluil-Kuel Jok, pria asal Sudan Selatan yang kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Luwu.

Pernikahan Malik dengan Alifah Walidain Nur bukan sekadar perayaan dua insan. Ia menjelma menjadi cerita tentang perjumpaan budaya, jarak ribuan kilometer, dan keyakinan bahwa cinta dapat menemukan jalannya sendiri, bahkan melintasi benua.

Warga yang datang menyaksikan akad nikah tak henti-hentinya melirik Malik. Tinggi badannya yang mencapai 2,08 meter membuatnya tampak kontras di antara kerumunan. Tak sedikit yang diam-diam meminta foto bersama, mengabadikan momen langka itu. Bagi warga Salumakarra, pernikahan lintas Afrika–Asia ini adalah pengalaman yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.

“Malik ini sering diminta foto sama warga,” cerita salah satu kerabat mempelai perempuan sambil tersenyum.

Alifah Walidain Nur (29) sendiri bukan sosok asing di lingkungannya. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara, sekaligus satu-satunya anak perempuan dalam keluarga pasangan Abdul Rahman Nur dan Wahidah. Kakak kandung Alifah, Muhammad Muhajir Nur (35), mengisahkan posisi istimewa sang adik di keluarga.

“Adek ini, anak ketiga dari lima bersaudara. Satu-satunya anak perempuan di keluarga. Namanya Alifah Walidain Nur (29),” ujar Muhajir saat ditemui di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bua Ponrang, Senin (22/12/2025) sekitar pukul 12.12 Wita.

Sebagai satu-satunya anak perempuan, keputusan Alifah untuk menikah dengan pria asing tentu menjadi perhatian besar keluarga. Namun, Muhajir menegaskan bahwa pernikahan ini bukan keputusan yang diambil secara terburu-buru. Prosesnya panjang, penuh pertimbangan, dan diawali komunikasi intens antar keluarga sejak tiga bulan sebelum akad.

“Pernikahannya berlangsung tanggal 20 Desember, proses awalnya sudah dari tiga bulan lalu. Sudah mulai ada komunikasi, sehingga ditetapkan tanggal,” akunya.

Meski pengantinnya datang dari benua lain, prosesi pernikahan tetap dijalankan sesuai adat Luwu dan syariat Islam. Panai’—uang adat dalam pernikahan Bugis-Luwu—tetap diberlakukan, meski besarannya hanya diketahui sang ibu.

“Ya, (pakai adat Luwu) proses nikahnya sesuai dengan syarat dan ketentuan agama. Pakai panai’, hanya mama yang tahu. Kita anaknya, bahkan adik tidak tahu,” beber Muhajir.

Baginya, adat dan agama tidak pernah saling meniadakan.

“Saya rasa adat dan agama itu tidak pernah bertolak belakang. Adat dan agama selalu sejajar. Dan itulah yang kita rasakan hari ini,” ungkapnya.

Dukungan keluarga menjadi fondasi kuat bagi Alifah. Muhajir menegaskan, sejak awal keluarga memilih berdiri di belakang keputusan sang adik.

“Respon keluarga saat mendengar kabar pernikahan ini, pastinya selalu mendukung apa yang menjadi keputusan adik. Karena adik ini bukan adik yang kecil lagi,” jelasnya.

Kisah pertemuan Alifah dan Malik sendiri bermula dari perkenalan sederhana melalui seorang teman. Dari pertemuan itu, komunikasi intens terjalin, sebagian besar melalui media sosial.

“Proses perkenalannya itu berdasarkan dari teman. Diperkenalkan. Akhirnya terjalin komunikasi. Lebih banyak berkomunikasi lewat media sosial,” jelas Muhajir sambil tersenyum.

Tak ada kendala bahasa di antara keduanya. Latar belakang akademik Alifah menjadi jembatan penting. Ia pernah menjadi dosen di UIN Palopo dan sempat mengajar di Al-Azhar, Mesir.

“Adik saya pernah menjadi dosen di UIN Palopo, walau beberapa bulan, dan terakhir sampai dia menikah, pernah di Al-Azhar Mesir mengajar,” akunya.

Alifah fasih berbahasa Arab dan cukup menguasai bahasa Inggris, membuat komunikasi lintas budaya terasa lebih cair.

“Bahasa saya rasa tidak ada kendala, karena adik saya fasih bahasa Arab. Karena saya kakaknya, fasih bahasa Inggris, karena saya pernah tinggal lama di Australia,” katanya.

Meski demikian, Muhajir tak menampik sempat muncul kekhawatiran. Status Malik sebagai warga negara asing membuat keluarga merasa perlu memastikan latar belakang calon menantu mereka.

“Sampai dengan akad nikahnya, kekhawatiran itu sudah menghilang. Awalnya memang kita (keluarga), saya sebagai kakaknya, otomatis mengecek, apakah ini betul atau tidak,” ujarnya.

Hasil penelusuran itu justru membuka cerita menarik tentang Malik. Ia adalah mantan atlet basket profesional yang pernah bermain di Amerika dan beberapa negara Eropa sebelum memutuskan pensiun.

“Background Malik ini adalah atlet. Dulunya dia atlet basket. Sempat main di beberapa negara di Eropa, sebelumnya juga pernah bermain di Amerika sebelum memutuskan pensiun,” katanya.

Meski berasal dari Sudan Selatan, Malik tumbuh besar di Amerika. Karakter dan gaya hidupnya lebih mencerminkan budaya Barat.

“Karakter budaya, sebenarnya si Malik hampir seluruhnya hidupnya dihabiskan di negara barat. Istilahnya western country. Jadi gaya dari Sudannya itu sudah tidak saya lihat. Yang saya lihat justru Amerikanya,” terangnya.

Namun, satu hal yang paling menenangkan keluarga adalah nilai agama Malik.

“Nilai yang perlu dijaga, kami sebagai orang Luwu yang tinggal di Salumakarra, yang penting itu agamanya. Si Malik ini agamanya Islam sejak dari kecil. Bahkan bapaknya itu guru besar ilmu agama, bapaknya pernah di Al-Azhar, Eropa dan Amerika,” katanya.

Kepala KUA Bua Ponrang, Arifing, memastikan proses administrasi pernikahan berjalan lancar.

“Kendala administrasi tidak ada, mungkin hanya persoalan waktu saja. Karena mereka butuh proses untuk mengurus di kedutaan,” kata Arifing.

Ia menambahkan, prosesi ijab kabul berlangsung khidmat.

“Prosesi ijab kabul pakai bahasa Arab,” tandasnya.

Kisah Alifah dan Malik pun menuai beragam reaksi di media sosial. Banyak netizen tersentuh oleh perjuangan jarak dan perbedaan.

“Ih gk bisa bayangin sepanjang apa perjalanan dari Afrika ke Luwu, besar bgt perjuangan kalian pasti yaa,” tulis seorang netizen.

“Anaknyaaa calon tinggi dapet bapak yg tinggi sekalii,” ujar netizen lainnya.

Bagi Muhajir, pernikahan ini bukan hanya tentang kebahagiaan adiknya, tetapi juga pesan bagi banyak orang.

“Pesan ke adik, sebagai keluarga, kakak dari yang dipersunting warga asing ini, harapannya pernikahan menjadi contoh teman-teman di luar yang mungkin ragu. Bahwa ini mudah-mudahan menjadi inspirasi,” katanya.

Dari Salumakarra hingga Sudan Selatan, kisah ini menjadi bukti bahwa cinta, ketika disertai keyakinan dan restu, mampu menjembatani jarak sejauh apa pun.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Link Video Viral Durasi 9 Menit 48 Detik Jadi Buruan Netizen, Karyawan HWI Jepara Terseret?

BSU cair

Gaji di Atas Rp3,5 Juta Masih Bisa Dapat BSU 2026? Cek Ketentuan UMK dan Syarat Lengkapnya!

Larangan Spanduk Karhutla Berujung Hujatan! Klarifikasi Mentah, Oki Rengga Dituding Star Syndrome dan Jumawa!

Bencana Beneran Dianggap Arena Bermain? Ria Ricis Diamuk Warganet!

BSU cair

BSU 2026 Rp900 Ribu Cair Kapan? Cek Syarat Gaji UMK dan Cara Validasi Data via JMO

Dicari Warganet! Link Video Viral ‘Hampir 10 Menit’ Karyawan HWI Jepara, Asli atau Hoaks?

Terpopuler
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ramai Dicari Netizen! Terbongkar Kebenaran Isu Link Video Egar dan Fina Asal Banyuwangi
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Lagi Dicari Netizen, Terungkap Isi Sebenarnya di Balik Video Viral Egar dan Fina Asal Banyuwangi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.