Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kolaborasi Berkelanjutan AQUA dan DMI: Hadirkan Kebahagiaan Umroh bagi Garda Terdepan Pelayanan Umat

Selasa, 22 September 2026 21:40 WIB

Oktober Mencekam! Persib Harus Jalani 7 Pertandingan di Tengah Jadwal Super Padat

Selasa, 22 September 2026 20:31 WIB

MENGEJUTKAN! 12 Tahun Tanpa Gosip Miring, Borok Rumah Tangga Sara Wijayanto dan Demian Akhirnya Terbongkar?!

Selasa, 22 September 2026 20:26 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kolaborasi Berkelanjutan AQUA dan DMI: Hadirkan Kebahagiaan Umroh bagi Garda Terdepan Pelayanan Umat
  • Oktober Mencekam! Persib Harus Jalani 7 Pertandingan di Tengah Jadwal Super Padat
  • MENGEJUTKAN! 12 Tahun Tanpa Gosip Miring, Borok Rumah Tangga Sara Wijayanto dan Demian Akhirnya Terbongkar?!
  • Sempat Diejek Semut Lawan Gajah, Tukang Pemilah Sampah Ini Menangi Pilkades di Bekasi
  • Jersey Supporter Edition Persib ACL Two 2026/27 Resmi Tersedia Dengan Harga Rp249 Ribu
  • Detik-detik Penutupan Bursa Transfer, Persib Pilih Tutup Buku atau Bikin Kejutan di Ujung Waktu?
  • Pesta Miras Oplosan Maut di Cianjur: 4 Tewas, Dua Remaja Putri Masih Kritis di Rumah Sakit
  • Usai 12 Tahun Menikah, Sara Wijayanto Resmi Gugat Cerai Demian Aditya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 23 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Akad di Tanah Luwu, Cinta dari Afrika: Cerita Pernikahan Alifah dan Malik

By Aga GustianaSelasa, 23 Desember 2025 13:26 WIB5 Mins Read
Alifah dan Malik. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pagi di Dusun Salumakarra, Kelurahan Noling, Kecamatan Bua Ponrang, Kabupaten Luwu, Sabtu (20/12/2025), terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya karena prosesi akad nikah yang digelar khidmat, tetapi juga karena sosok pengantin pria yang membuat warga seolah lupa berkedip. Tinggi menjulang, berkulit gelap, dan berpostur besar, pria itu berdiri gagah di samping mempelai perempuan asal Luwu. Namanya Malik Maluil-Kuel Jok, pria asal Sudan Selatan yang kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Luwu.

Pernikahan Malik dengan Alifah Walidain Nur bukan sekadar perayaan dua insan. Ia menjelma menjadi cerita tentang perjumpaan budaya, jarak ribuan kilometer, dan keyakinan bahwa cinta dapat menemukan jalannya sendiri, bahkan melintasi benua.

Warga yang datang menyaksikan akad nikah tak henti-hentinya melirik Malik. Tinggi badannya yang mencapai 2,08 meter membuatnya tampak kontras di antara kerumunan. Tak sedikit yang diam-diam meminta foto bersama, mengabadikan momen langka itu. Bagi warga Salumakarra, pernikahan lintas Afrika–Asia ini adalah pengalaman yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.

“Malik ini sering diminta foto sama warga,” cerita salah satu kerabat mempelai perempuan sambil tersenyum.

Alifah Walidain Nur (29) sendiri bukan sosok asing di lingkungannya. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara, sekaligus satu-satunya anak perempuan dalam keluarga pasangan Abdul Rahman Nur dan Wahidah. Kakak kandung Alifah, Muhammad Muhajir Nur (35), mengisahkan posisi istimewa sang adik di keluarga.

“Adek ini, anak ketiga dari lima bersaudara. Satu-satunya anak perempuan di keluarga. Namanya Alifah Walidain Nur (29),” ujar Muhajir saat ditemui di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bua Ponrang, Senin (22/12/2025) sekitar pukul 12.12 Wita.

Sebagai satu-satunya anak perempuan, keputusan Alifah untuk menikah dengan pria asing tentu menjadi perhatian besar keluarga. Namun, Muhajir menegaskan bahwa pernikahan ini bukan keputusan yang diambil secara terburu-buru. Prosesnya panjang, penuh pertimbangan, dan diawali komunikasi intens antar keluarga sejak tiga bulan sebelum akad.

“Pernikahannya berlangsung tanggal 20 Desember, proses awalnya sudah dari tiga bulan lalu. Sudah mulai ada komunikasi, sehingga ditetapkan tanggal,” akunya.

Meski pengantinnya datang dari benua lain, prosesi pernikahan tetap dijalankan sesuai adat Luwu dan syariat Islam. Panai’—uang adat dalam pernikahan Bugis-Luwu—tetap diberlakukan, meski besarannya hanya diketahui sang ibu.

“Ya, (pakai adat Luwu) proses nikahnya sesuai dengan syarat dan ketentuan agama. Pakai panai’, hanya mama yang tahu. Kita anaknya, bahkan adik tidak tahu,” beber Muhajir.

Baginya, adat dan agama tidak pernah saling meniadakan.

“Saya rasa adat dan agama itu tidak pernah bertolak belakang. Adat dan agama selalu sejajar. Dan itulah yang kita rasakan hari ini,” ungkapnya.

Dukungan keluarga menjadi fondasi kuat bagi Alifah. Muhajir menegaskan, sejak awal keluarga memilih berdiri di belakang keputusan sang adik.

“Respon keluarga saat mendengar kabar pernikahan ini, pastinya selalu mendukung apa yang menjadi keputusan adik. Karena adik ini bukan adik yang kecil lagi,” jelasnya.

Kisah pertemuan Alifah dan Malik sendiri bermula dari perkenalan sederhana melalui seorang teman. Dari pertemuan itu, komunikasi intens terjalin, sebagian besar melalui media sosial.

“Proses perkenalannya itu berdasarkan dari teman. Diperkenalkan. Akhirnya terjalin komunikasi. Lebih banyak berkomunikasi lewat media sosial,” jelas Muhajir sambil tersenyum.

Tak ada kendala bahasa di antara keduanya. Latar belakang akademik Alifah menjadi jembatan penting. Ia pernah menjadi dosen di UIN Palopo dan sempat mengajar di Al-Azhar, Mesir.

“Adik saya pernah menjadi dosen di UIN Palopo, walau beberapa bulan, dan terakhir sampai dia menikah, pernah di Al-Azhar Mesir mengajar,” akunya.

Alifah fasih berbahasa Arab dan cukup menguasai bahasa Inggris, membuat komunikasi lintas budaya terasa lebih cair.

“Bahasa saya rasa tidak ada kendala, karena adik saya fasih bahasa Arab. Karena saya kakaknya, fasih bahasa Inggris, karena saya pernah tinggal lama di Australia,” katanya.

Meski demikian, Muhajir tak menampik sempat muncul kekhawatiran. Status Malik sebagai warga negara asing membuat keluarga merasa perlu memastikan latar belakang calon menantu mereka.

“Sampai dengan akad nikahnya, kekhawatiran itu sudah menghilang. Awalnya memang kita (keluarga), saya sebagai kakaknya, otomatis mengecek, apakah ini betul atau tidak,” ujarnya.

Hasil penelusuran itu justru membuka cerita menarik tentang Malik. Ia adalah mantan atlet basket profesional yang pernah bermain di Amerika dan beberapa negara Eropa sebelum memutuskan pensiun.

“Background Malik ini adalah atlet. Dulunya dia atlet basket. Sempat main di beberapa negara di Eropa, sebelumnya juga pernah bermain di Amerika sebelum memutuskan pensiun,” katanya.

Meski berasal dari Sudan Selatan, Malik tumbuh besar di Amerika. Karakter dan gaya hidupnya lebih mencerminkan budaya Barat.

“Karakter budaya, sebenarnya si Malik hampir seluruhnya hidupnya dihabiskan di negara barat. Istilahnya western country. Jadi gaya dari Sudannya itu sudah tidak saya lihat. Yang saya lihat justru Amerikanya,” terangnya.

Namun, satu hal yang paling menenangkan keluarga adalah nilai agama Malik.

“Nilai yang perlu dijaga, kami sebagai orang Luwu yang tinggal di Salumakarra, yang penting itu agamanya. Si Malik ini agamanya Islam sejak dari kecil. Bahkan bapaknya itu guru besar ilmu agama, bapaknya pernah di Al-Azhar, Eropa dan Amerika,” katanya.

Kepala KUA Bua Ponrang, Arifing, memastikan proses administrasi pernikahan berjalan lancar.

“Kendala administrasi tidak ada, mungkin hanya persoalan waktu saja. Karena mereka butuh proses untuk mengurus di kedutaan,” kata Arifing.

Ia menambahkan, prosesi ijab kabul berlangsung khidmat.

“Prosesi ijab kabul pakai bahasa Arab,” tandasnya.

Kisah Alifah dan Malik pun menuai beragam reaksi di media sosial. Banyak netizen tersentuh oleh perjuangan jarak dan perbedaan.

“Ih gk bisa bayangin sepanjang apa perjalanan dari Afrika ke Luwu, besar bgt perjuangan kalian pasti yaa,” tulis seorang netizen.

“Anaknyaaa calon tinggi dapet bapak yg tinggi sekalii,” ujar netizen lainnya.

Bagi Muhajir, pernikahan ini bukan hanya tentang kebahagiaan adiknya, tetapi juga pesan bagi banyak orang.

“Pesan ke adik, sebagai keluarga, kakak dari yang dipersunting warga asing ini, harapannya pernikahan menjadi contoh teman-teman di luar yang mungkin ragu. Bahwa ini mudah-mudahan menjadi inspirasi,” katanya.

Dari Salumakarra hingga Sudan Selatan, kisah ini menjadi bukti bahwa cinta, ketika disertai keyakinan dan restu, mampu menjembatani jarak sejauh apa pun.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

MENGEJUTKAN! 12 Tahun Tanpa Gosip Miring, Borok Rumah Tangga Sara Wijayanto dan Demian Akhirnya Terbongkar?!

Usai 12 Tahun Menikah, Sara Wijayanto Resmi Gugat Cerai Demian Aditya

Staycation di Bandung Makin Berkesan, 3 Hotel Ini Punya View Kota dari Ketinggian

Pernah Hampir Jadi Suami Amanda Rigby, Nofel Saleh Hilabi Kini Buka Suara

Wisata Kuliner di Sumedang: Menikmati Sajian Sunda Otentik Berlatar Alam Pegunungan yang Asri

Cuma Rp15 Ribuan! 4 Nasi Kuning Terenak di Bandung, Ada yang Buka sampai Dini Hari

Terpopuler
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • Bukan Uang Biasa? Jejak Tanda Tangan Purbaya di Rp100 Ribu Mulai Dicari Kolektor
  • 118 Gempa dalam 38 Hari, Apa yang Sebenarnya Bergerak di Bawah Kabupaten Bandung?
  • Unjani dan Djarum Foundation Kolaborasi Dorong Green Campus dan Green Leadership
  • Mind Blowing: Fakta-Fakta ‘Make in Indonesia’ Implementasi Diam-Diam Konsep ‘Indonesia Incorporated’ Presiden Prabowo
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.