bukamata.id – Banjir besar melanda hampir seluruh wilayah Bali sejak Selasa (9/9/2025) malam hingga Rabu (10/9/2025) dini hari. Hujan deras tanpa henti membuat rumah-rumah terendam, jalan raya lumpuh, hingga sejumlah bangunan roboh.
Warga Bertahan di Atap Rumah
Di Denpasar, ketinggian air mencapai dua hingga tiga meter. Warga yang tak sempat menyelamatkan diri memilih bertahan di lantai dua rumah, bahkan ada yang naik ke atap demi menghindari derasnya arus.
“Ada warga yang sampai naik ke atap rumah,” ujar Brama Budiyanto, Pembina Arjuna Rescue Basarnas Bali dikutip Rabu (10/9/2025).
Kisah Bayi di Atas Genteng
Salah satu kisah yang menggetarkan terjadi di Pulau Biak. Seorang bayi ditemukan masih hidup, bertahan di atas genteng rumah sebelum berhasil dievakuasi tim SAR. Tangisan kecilnya menjadi tanda bahwa harapan belum sepenuhnya tenggelam bersama banjir.
Runtuhnya Bangunan di Jalan Sulawesi
Namun, tidak semua cerita berakhir bahagia. Di Jalan Sulawesi, enam toko ambruk diterjang luapan Tukad Badung sekitar pukul 03.00 Wita.
Tiga orang dinyatakan selamat, sementara tiga lainnya masih hilang. Rizal Husain (63) masih ingat jelas suara terakhir kakaknya, Maimunah (75), yang sempat menelpon sebelum sambungan terputus.
Luka Kehilangan di Jalan Hasanuddin
Di Jalan Hasanuddin, seorang suami berhasil keluar dari reruntuhan dengan luka di kaki. Namun ia kehilangan istri, anak, dan mertuanya yang hanyut terbawa banjir. Suara retakan bangunan menjadi tanda kehancuran yang hanya menyisakan duka.
Bagi banyak warga, detik-detik air masuk rumah adalah pengalaman yang tak akan terlupa. Wayan Ardita, penghuni kos di Jalan Nusa Kambangan, menceritakan bagaimana gerbang rumahnya dihantam derasnya banjir.
“Jam 5 sudah mulai naik airnya ke kos saya. Saya tutup gerbang, tiba-tiba ditabrak air,” ucapnya.
Jalan Raya Lumpuh dan Akses Terputus
Tak hanya rumah dan toko, jalan raya pun lumpuh. Jalur vital Denpasar–Gilimanuk sempat tak bisa dilalui kendaraan. Pohon tumbang, tiang listrik miring, hingga jaringan internet terputus, menambah panjang daftar kesulitan warga.
Tim gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan lokal terus berjibaku mengevakuasi korban. Kepala BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, menggambarkan kondisi petugas yang juga sempat terkepung banjir.
“Pergerakan kita agak sulit karena jalan raya sebagian besar air tinggi,” ujarnya.
Di tengah kepungan air, warga Bali menunjukkan ketangguhan khas mereka. Ada yang saling membantu mengemasi barang, ada yang mengungsikan tetangga, dan ada pula yang rela membuka rumahnya untuk tempat singgah.
BMKG memprediksi hujan masih berlanjut hingga Rabu (10/9/2025). Warga diminta tetap waspada. Sementara itu, kisah bayi di atas genteng, telepon terakhir seorang kakak, dan tangan-tangan yang saling menggenggam di tengah air bah menjadi pengingat: bencana selalu meninggalkan luka, tapi juga melahirkan kekuatan untuk bangkit bersama.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










