bukamata.id – Piala Dunia 2026 baru saja dimulai. Namun alih-alih disambut euforia sepak bola, turnamen terbesar di dunia ini justru dibayangi gelombang kontroversi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di media sosial, muncul satu pertanyaan yang terus berulang dari para penggemar sepak bola dunia: apakah Piala Dunia 2026 adalah Piala Dunia terburuk dalam sejarah modern?
Pertanyaan itu memang terdengar berlebihan. Sebab di atas lapangan, turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tetap menghadirkan pemain-pemain terbaik dunia serta atmosfer kompetisi tertinggi.
Namun sebelum satu pun pertandingan fase grup dimainkan, publik lebih banyak membicarakan persoalan imigrasi, keamanan, harga tiket, diskriminasi perlakuan terhadap peserta, hingga isu politik dibandingkan sepak bolanya sendiri.
Fenomena ini menjadi kontras jika dibandingkan dengan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu edisi paling berkesan dalam sejarah.
Ketika Piala Dunia Lebih Banyak Membahas Imigrasi daripada Sepak Bola
Kontroversi pertama muncul dari kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang sangat ketat. Kasus paling menyita perhatian adalah yang dialami wasit asal Somalia, Omar Artan.
Pria berusia 34 tahun itu sebenarnya sudah mengantongi visa resmi dan ditunjuk FIFA untuk bertugas di Piala Dunia 2026. Ia bahkan berpeluang menjadi wasit Somalia pertama dalam sejarah yang tampil di ajang tersebut.
Namun impian itu hancur sesaat setelah mendarat di Miami. Artan ditahan selama 11 jam, diinterogasi, lalu dipulangkan. Penyebabnya bukan karena pelanggaran hukum, melainkan karena namanya dianggap mirip dengan seorang tokoh kelompok militan di Somalia.
“Saya hanya ingin menjalankan tugas sebagai wasit di Piala Dunia,” ujar Artan.
Kasus ini memicu kritik luas karena dianggap menunjukkan bagaimana prosedur keamanan berpotensi mengalahkan prinsip keadilan dalam olahraga.
Pemain Irak Diperiksa 7 Jam
Masalah serupa juga dialami Timnas Irak. Striker andalan mereka, Aymen Hussein, harus menjalani pemeriksaan selama tujuh jam setibanya di Bandara O’Hare, Chicago.
Telepon genggamnya diperiksa secara mendalam oleh petugas imigrasi.
Meski akhirnya diizinkan masuk, fotografer resmi Timnas Irak justru ditolak masuk ke Amerika Serikat dan langsung dipulangkan.
Situasi tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan bagaimana sebuah negara tuan rumah bisa menciptakan hambatan administratif terhadap peserta turnamen yang seharusnya mendapatkan perlindungan penuh dari FIFA.
Senegal dan Uzbekistan Merasa Diperlakukan Berbeda
Kontroversi berikutnya muncul dari perlakuan terhadap beberapa tim peserta. Timnas Senegal menjadi sorotan setelah video pemeriksaan mereka viral di media sosial.
Para pemain, termasuk bintang mereka Sadio Mane, terlihat berdiri di atas landasan pacu bandara sementara koper mereka dibongkar satu per satu.
Anjing pelacak, alat pemindai logam, hingga pemeriksaan tubuh dilakukan langsung di area terbuka.
Tak lama kemudian, Timnas Uzbekistan mengalami pengalaman serupa di New York.
Pemain, staf, hingga perlengkapan tim diperiksa menggunakan anjing pelacak dan metal detector. Bahkan papan taktik milik pelatih turut diperiksa.
Pelatih Uzbekistan, Fabio Cannavaro, menyindir kejadian tersebut.
“Mereka bilang ini aturan. Tapi pada akhirnya, pemeriksaan ini hanya untuk kami saja.”
Pernyataan itu memunculkan pertanyaan besar mengenai konsistensi perlakuan terhadap seluruh peserta.
Iran Dipaksa Pulang Pergi Meksiko-Amerika
Masalah lain muncul akibat ketegangan geopolitik. Timnas Iran tidak diizinkan bermarkas di Amerika Serikat meskipun seluruh pertandingan grup mereka dimainkan di sana.
Akibatnya, Team Melli harus menjadikan Tijuana, Meksiko, sebagai markas sementara.
Setiap kali bertanding, mereka harus melakukan perjalanan lintas negara.
Beberapa pejabat federasi Iran bahkan dilaporkan tidak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat.
Belum pernah dalam sejarah modern Piala Dunia ada tim peserta yang harus menghadapi hambatan logistik semacam ini akibat hubungan diplomatik antara negara peserta dan negara tuan rumah.
Inggris Kemalingan, Dekat Markas Latihan Terjadi Penembakan
Jika masalah imigrasi belum cukup, isu keamanan juga menjadi sorotan. Mobil logistik Timnas Inggris dibobol maling saat perjalanan menuju Kansas City.
Sejumlah sepatu pemain, termasuk milik Jude Bellingham dan Harry Kane, dilaporkan hilang.
Peristiwa itu terjadi hanya beberapa hari sebelum pertandingan pertama Inggris.
Yang lebih mengkhawatirkan, kawasan dekat markas latihan Inggris sebelumnya juga sempat diguncang insiden penembakan yang menyebabkan sembilan orang terluka.
Meski tidak berkaitan langsung dengan tim, kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan keamanan tuan rumah.
Harga Tiket Mencapai Rp198 Juta
Bagi suporter, persoalan terbesar mungkin justru datang dari harga tiket. FIFA menerapkan sistem dynamic pricing yang membuat harga terus berubah mengikuti permintaan pasar.
Akibatnya, tiket final sempat dijual hingga sekitar Rp198 juta. Bahkan beberapa kategori premium mencapai miliaran rupiah.
Kelompok pendukung sepak bola di Eropa menuding FIFA mengubah Piala Dunia menjadi produk eksklusif yang semakin sulit dijangkau penggemar biasa.
Alih-alih menjadi pesta rakyat dunia, Piala Dunia dinilai semakin menyerupai hiburan premium untuk kalangan tertentu.
Piala Dunia Terbesar, Tapi Apakah Lebih Baik?
Piala Dunia 2026 juga menjadi edisi pertama yang diikuti 48 negara. Jumlah pertandingan melonjak dari 64 menjadi 104 laga.
Pendukung format baru menganggap perubahan ini membuat sepak bola lebih inklusif. Namun para pengkritik menilai kualitas kompetisi justru berpotensi menurun.
Banyak pertandingan dianggap kehilangan gengsi karena terlalu banyak peserta dan terlalu banyak tim yang lolos ke fase gugur.
Warganet Ramai-Ramai Pertanyakan Kelayakan Amerika Serikat sebagai Tuan Rumah
Berbagai kontroversi yang muncul menjelang dan saat berlangsungnya Piala Dunia 2026 juga memicu reaksi keras dari warganet di media sosial. Sejumlah penggemar sepak bola dunia menilai banyaknya persoalan yang terjadi telah mengurangi esensi Piala Dunia sebagai ajang yang menyatukan berbagai bangsa.
Komentar-komentar tersebut bermunculan setelah berbagai video pemeriksaan ketat terhadap tim peserta, kasus penolakan masuk terhadap wasit FIFA, hingga persoalan visa sejumlah delegasi menjadi viral di media sosial.
Di akun Instagram @footyvibe_, sejumlah warganet mempertanyakan kebijakan yang diterapkan Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah turnamen.
“Kebiasaan cari masalah sama negara lain jadi curigaan wkwk,” tulis akun @ba***.
“Lain kali pilih tuan rumah yang nggak problematik,” komentar akun @san***.
Sementara akun @rai*** menulis, “AS nggak cocok jadi tuan rumah apa pun. Makanya nanti kalau dia jadi tamu bikin ribet balik aja.”
Komentar lain juga menyoroti keputusan FIFA menunjuk Amerika Serikat sebagai tuan rumah.
“Bisa-bisanya FIFA tunjuk Amerika sebagai tuan rumah,” tulis akun @mhi***.
Meski komentar-komentar tersebut belum tentu merepresentasikan seluruh opini publik, reaksi yang muncul menunjukkan bahwa berbagai persoalan di luar lapangan telah menjadi perhatian besar para penggemar sepak bola dunia.
Alih-alih membahas peluang juara, performa pemain bintang, atau strategi tim peserta, sebagian percakapan publik justru lebih banyak diwarnai kritik terhadap kebijakan imigrasi, keamanan, dan penyelenggaraan turnamen.
Fenomena ini menjadi sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah Piala Dunia, di mana biasanya perhatian utama publik tertuju pada pertandingan dan drama yang terjadi di atas lapangan hijau.
Bandingkan dengan Afrika Selatan 2010
Menariknya, kritik terhadap Piala Dunia 2026 membuat banyak penggemar kembali bernostalgia dengan Afrika Selatan 2010.
Turnamen itu juga tidak sempurna. Bola Jabulani dikritik para pemain. Suara Vuvuzela membuat banyak penonton televisi mengeluh.
Namun semua kontroversi tersebut lahir dari sepak bola dan budaya lokal, bukan dari persoalan politik atau birokrasi.
Afrika Selatan 2010 menghadirkan momen-momen yang masih hidup hingga sekarang.
Gol spektakuler Siphiwe Tshabalala pada laga pembuka. Drama handball Luis Suarez yang menghancurkan mimpi Ghana.
Lahirnya juara baru dunia melalui gol Andres Iniesta. Kemunculan generasi emas Spanyol.
Awal rivalitas abadi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di panggung terbesar dunia.
Belum lagi lagu Waka Waka milik Shakira dan Wavin’ Flag dari K’naan yang hingga kini masih identik dengan Piala Dunia.
Afrika Selatan 2010 terasa seperti perayaan sepak bola global.
Sementara Piala Dunia 2026, setidaknya hingga saat ini, justru lebih sering dibicarakan karena persoalan di luar lapangan.
Masih Terlalu Dini Menyebut yang Terburuk
Meski kritik terus bermunculan, menyebut Piala Dunia 2026 sebagai edisi terburuk dalam sejarah tentu masih terlalu dini.
Turnamen ini baru dimulai.
Masih ada peluang bagi pertandingan-pertandingan spektakuler, kejutan, dan kisah heroik yang dapat mengubah persepsi publik.
Bahkan seremoni pembukaan yang menghadirkan Shakira, Burna Boy, Katy Perry, Lisa BLACKPINK, Alessia Cara, dan Michael Buble menunjukkan bahwa FIFA tetap berupaya menciptakan pesta olahraga yang megah.
Namun satu hal yang sulit dibantah.
Belum pernah dalam sejarah modern Piala Dunia, isu imigrasi, keamanan, visa, konflik geopolitik, harga tiket, dan diskriminasi perlakuan terhadap peserta menjadi pembahasan yang begitu dominan bahkan sebelum bola pertama ditendang.
Dan itulah alasan mengapa semakin banyak penggemar sepak bola mulai bertanya:
Apakah Piala Dunia 2026 akan dikenang karena kualitas pertandingannya, atau justru karena segudang kontroversi yang mengiringinya?
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









