bukamata.id – Nama Agustina Hastarini atau Tina Astari tengah menjadi perhatian publik setelah beredarnya surat permintaan pendampingan kunjungan luar negeri dari Kementerian Koperasi dan UMKM. Surat yang ditujukan kepada sejumlah Kedutaan Besar RI di Eropa ini menyebutkan bahwa Tina akan melakukan lawatan budaya ke beberapa kota selama dua pekan, dari 30 Juni hingga 14 Juli 2025.
Namun, siapa sebenarnya Tina Astari? Sosok yang kini menjadi sorotan ini ternyata memiliki perjalanan karier yang cukup beragam, mulai dari dunia hiburan, bisnis, hingga lingkungan birokrasi pemerintahan.
Karier di Dunia Hiburan hingga Layar Lebar
Lahir di Jakarta pada 19 Agustus 1979, Tina Astari dikenal sebagai aktris sinetron pada era 2000-an. Ia sempat membintangi sejumlah judul populer seperti Darah Gudang, Zahra, Sinar, hingga Wanita Perindu Surga. Tak hanya di layar kaca, Tina juga tampil di layar lebar dalam film Lari dari Blora (2008) dan The Promise (2017).
Menjadi Pebisnis dan Istri Pejabat
Setelah menikah dengan Maman Abdurrahman—yang kini menjabat sebagai Menteri Koperasi dan UKM—pada 20 November 2011, Tina mulai dikenal sebagai figur publik di kalangan pejabat negara. Pasangan ini dikaruniai dua anak, yakni Merpati Cattleya dan Garuda Bimasena.
Di luar peran sebagai istri pejabat, Tina juga menjalankan usaha di sektor kecantikan. Ia mendirikan dua brand skincare, Larina Beauty dan Freshphoria, yang aktif dipromosikan melalui media sosial. Tina juga tercatat menjabat sebagai Penasihat Dharma Wanita Persatuan di Kementerian Koperasi dan UKM.
Surat Misi Budaya Tuai Kritik Publik
Kontroversi bermula dari beredarnya surat resmi berkop Kementerian Koperasi dan UKM yang meminta fasilitasi kunjungan Tina Astari ke sejumlah negara Eropa. Dalam surat tertanggal 2025 tersebut, Tina disebut akan mengikuti misi budaya ke kota-kota seperti Istanbul, Pomorie, Sofia, Amsterdam, Brussels, Paris, Lucerne, Milan, dan Roma.
Surat yang ditandatangani oleh Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Arif Rahman Hakim, menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan memperkuat hubungan budaya serta mendukung diplomasi lunak Indonesia melalui partisipasi istri pejabat negara.
Namun publik mempertanyakan urgensi dan relevansi kegiatan tersebut. Warganet ramai mengkritisi apakah perjalanan itu dibiayai oleh negara, serta mempertanyakan kaitannya dengan tugas dan fungsi Kementerian Koperasi dan UKM yang tidak berhubungan langsung dengan misi kebudayaan.
Reaksi Netizen: “Misi Budaya atau Jalan-Jalan?”
Respons di media sosial tak terbendung. Beberapa akun mempertanyakan sumber anggaran kegiatan ini, sementara yang lain menyoroti ketidaksesuaian lembaga pelaksana.
“Istri menteri masih ditanggung APBN juga? Serius nanya dengan nada soft spoken,” tulis akun @tianznugroho.
“Misi budaya? Bukannya itu ranah Kementerian Kebudayaan?” kritik @samsukasambat.
“Spill dong rundown acaranya,” tambah akun @fedianakmal.
Kritik publik juga mengarah pada prinsip efisiensi yang sedang digalakkan pemerintah. Banyak yang mempertanyakan apakah perjalanan tersebut benar-benar membawa manfaat konkret atau sekadar simbolis.
Menteri Maman Buka Suara
Menanggapi polemik ini, Menteri Koperasi dan UKM Maman Abdurrahman menyatakan bahwa pihaknya tengah mengecek keabsahan surat tersebut.
“Saya lagi cek surat itu. Nanti saya kabari ya. Makasih ya atas atensinya,” ujar Maman saat dikonfirmasi awak media.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











