bukamata.id – Di era serba instan ini, pernikahan sering kali identik dengan kepraktisan. Mulai dari undangan digital, katering paket lengkap, hingga souvenir yang tinggal pilih di e-commerce lalu dicetak massal oleh mesin. Namun, sebuah pemandangan berbeda justru terlihat di sebuah rumah di kawasan Depok, Jawa Barat.
Seorang pria paruh baya tampak duduk tekun menghadapi meja kerjanya. Di tangannya, sebuah spidol khusus dan kuas bergerak lincah di atas permukaan cermin kecil berbalut kulit, dompet kartu, dan gantungan kunci. Pria itu adalah Temi Bokumi, seorang ayah yang memilih menantang arus modernisasi demi satu alasan sederhana: kebahagiaan putrinya.
Tidak tanggung-tanggung, Ayah Temi—begitu ia akrab disapa—menggambar sendiri 300 buah souvenir untuk hari pernikahan anak perempuannya. Tanpa cetakan digital, tanpa bantuan mesin, semuanya digoreskan satu per satu secara manual menggunakan tangan. Sebuah hadiah istimewa yang ia siapkan langsung dengan peluh dan ketulusannya untuk para tamu undangan.
Motivasi Terbesar: “Saya Pengen Nyenengin Anak Saya”
Bagi pemilik akun Instagram @bokumiart ini, menggambar sebenarnya bukan hal baru. Dalam pemaparannya kepada VOLIX, Ayah Temi mengaku bahwa kegemaran mencorat-coret kanvas dan kertas sudah ia tekuni sejak dirinya masih kecil. Hobi yang kini telah mendarah daging itu bertransformasi menjadi sebuah karya seni yang sarat akan nilai emosional.
Namun, proyek 300 souvenir kali ini terasa sangat berbeda dari karya-karya yang pernah ia buat sebelumnya. Ada getaran emosi dan motivasi yang jauh lebih besar di balik setiap goresan spidolnya.
“Saya pengen nyenengin anak saya,” ujarnya singkat namun sarat makna.
Kalimat sederhana itu merangkum segalanya. Alih-alih mengeluarkan anggaran untuk memesan souvenir jadi yang seragam dan kaku, Ayah Temi memilih untuk meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya. Ia ingin memastikan bahwa setiap tamu yang hadir di hari bahagia anaknya tidak sekadar membawa pulang barang pajangan, melainkan sebuah karya seni yang memiliki sentuhan personal yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh mesin secanggih apa pun.
Melihat dedikasi tersebut, sang anak dan calon menantunya pun dibuat takjub sekaligus terharu. Dalam sebuah video yang beredar, sang anak sempat terkejut melihat tumpukan bahan souvenir polos yang menggunung di atas meja. “Om mau gambar sebanyak ini emang?” tanya sang calon menantu dengan nada tidak percaya.
Dengan senyum tipis khas seorang ayah yang penuh keyakinan, Ayah Temi menjawab, “Iya dong. Tenang, beres!”
Ragam Karakter dan Detail Unik di Setiap Goresan
Menyaksikan proses pembuatan souvenir ini bak melihat seorang maestro yang sedang berada di studionya. Media yang digunakan pun beragam dan sangat fungsional untuk kehidupan sehari-hari, mulai dari gantungan kunci cermin, dompet koin, hingga card holder (dompet kartu) berbahan kulit sintetis dengan warna-warni pastel yang estetik, seperti biru muda, merah bata, hijau sage, hingga merah muda.
Hebatnya lagi, Ayah Temi tidak membuat satu pola yang sama untuk semua souvenir. Setiap barang memiliki jiwanya sendiri dengan karakter pop culture dan motif yang bervariasi. Beberapa di antaranya menampilkan:
- Karakter ikonik anime seperti Naruto lengkap dengan ikat kepala khas Konoha.
- Karakter Luffy dari One Piece dengan topi jeraminya.
- Simbol pahlawan super legendaris seperti Superman dan Batman.
- Motif floral (bunga-bunga kecil) yang tampak manis saat digantungkan di tas perempuan.
- Hingga pola etnik, abstrak, dan pola mata unik yang penuh dengan paduan warna kontras yang hidup.
Setiap garis digambar dengan presisi, dikombinasikan dengan teknik dotting (titik-titik warna) untuk memberikan tekstur dan dimensi pada hasil akhir. Proses yang melelahkan ini ia lakukan dengan sabar di teras rumah, ditemani puluhan spidol warna-warni dan secangkir minuman hangat. Ketika seluruh 300 souvenir itu selesai, ia menunjukkannya dengan bangga sembari berpose dua jari. “300 souvenir, siap berangkat. Dari ayah,” ucapnya penuh kepuasan.
Sosok di Balik Kebahagiaan Itu: Uni Lulu
Lalu, siapakah putri beruntung yang mendapatkan curahan kasih sayang luar biasa ini? Dia adalah Lulu Khansa, atau yang lebih dikenal luas oleh publik dengan nama panggung Uni Lulu (Instagram: @sakhansa).
Bagi pengguna media sosial, nama Uni Lulu mungkin sudah tidak asing lagi. Gadis cantik kelahiran 23 Juni 1999 asal Depok, Jawa Barat ini dikenal sebagai seorang selebgram dan gamer. Di usianya yang menginjak awal 20-an, Lulu yang menganut agama Islam ini telah berhasil membangun basis penggemarnya sendiri dengan jumlah followers yang kini mencapai lebih dari 24 ribu di Instagram.
Kreativitas dan dunia digital tampaknya memang mengalir kuat di keluarga ini. Uni Lulu sendiri merupakan adik kandung dari YouTuber komedi ternama, Faiz Sadad. Bersama saudara-saudaranya yang lain, yaitu Gina Dhia dan Naufal Agra, mereka tumbuh di lingkungan keluarga yang hangat dan saling mendukung. Berbeda dari sang kakak yang lebih aktif di platform YouTube dengan konten-konten sketsanya, Lulu memilih jalurnya sendiri sebagai kreator konten di Instagram dan menyelami hobinya di bidang musik, menyanyi, serta dunia gaming.
Pernikahan Lulu menjadi momen transisi besar dalam hidupnya, dan sang ayah memastikan bahwa langkah baru putrinya ini dilepas dengan restu terbaik yang diwujudkan melalui karya seni.
Tamparan Kehangatan yang Membuat Netizen Terharu
Aksi manis Ayah Temi yang mendokumentasikan proses pembuatan souvenir ini seketika viral dan memicu gelombang emosional di jagat maya. Di tengah banyaknya kisah renggangnya hubungan antara anak dan orang tua di era modern, figur Ayah Temi hadir seperti oase yang menyejukkan. Netizen berbondong-bondong membanjiri kolom komentar dengan nada pujian, haru, bahkan rasa iri yang positif.
Banyak netizen yang menyoroti bagaimana sebuah hobi jika dilakukan atas dasar cinta tidak akan terasa sebagai beban kerja yang berat.
“Kaya gitu gak kerasa banget lo karena hobby. Saluttt pakk..” tulis salah satu netizen, mengagumi stamina dan fokus sang ayah.
Sementara itu, netizen lain melihat momen ini sebagai standar tertinggi dari figur seorang ayah ideal (fatherhood goal). Pesan emosional pun tersampaikan secara mendalam kepada siapa saja yang menyaksikannya.
“Ayah Temi, terimakasih sudah menunjukan kalau di dunia ini masih ada bapak yang sangat mencintai anaknya, semoga kelak aku bisa memberikan anakku nanti seorang ayah yang baik seperti ayahnya,” ungkap netizen lainnya dengan penuh haru.
Lebih dari Sekadar Souvenir
Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh Ayah Temi Bokumi lewat 300 souvenir buatan tangannya adalah sebuah pengingat penting bagi kita semua. Bahwa kemewahan sebuah pesta pernikahan tidak melulu diukur dari seberapa mahal vendor yang disewa atau seberapa megah gedung yang dipesan.
Kemewahan sejati justru terletak pada keintiman, waktu yang dikorbankan, dan ketulusan hati yang dilibatkan di dalamnya. Bagi Uni Lulu dan suaminya, 300 souvenir tersebut bukan sekadar buah tangan untuk para tamu undangan. Benda-benda kecil itu adalah simbol abadi dari cinta seorang ayah yang tak terbatas—sebuah pelukan hangat dalam bentuk goresan warna-warni yang akan terus menyertai babak baru kehidupan sang putri tercinta.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










