bukamata.id – Lamine Yamal bukan lagi sekadar talenta muda Barcelona. Di usia yang baru menginjak 19 tahun, namanya telah menjelma menjadi simbol lahirnya generasi baru sepak bola dunia. Gelar Piala Dunia 2026 yang berhasil diraih bersama Timnas Spanyol menjadi puncak perjalanan luar biasanya, sekaligus mempertegas statusnya sebagai salah satu pemain terbaik di planet ini.
Namun, di balik kecepatan, kreativitas, dan sederet rekor yang dipecahkan, ada sisi lain dari Yamal yang membuat banyak orang semakin mengaguminya. Ia dikenal sebagai sosok yang religius, tak pernah meninggalkan doa sebelum pertandingan, secara terbuka menunjukkan solidaritas kepada Palestina, hingga akhirnya menorehkan sejarah dengan mengalahkan Cristiano Ronaldo, Kylian Mbappé, dan Lionel Messi dalam satu perjalanan menuju trofi Piala Dunia.
Bagi banyak penggemar, kisah Yamal bukan hanya tentang sepak bola. Ini adalah cerita tentang keyakinan, kerja keras, keluarga, dan keberanian seorang anak muda yang berhasil mengubah mimpi menjadi kenyataan.
Profil Lamine Yamal, Anak La Masia yang Menjadi Raja Baru Sepak Bola
Lamine Yamal memiliki nama lengkap Lamine Yamal Nasraoui Ebana. Ia lahir di Esplugues de Llobregat, Barcelona, Spanyol, pada 13 Juli 2007.
Ia lahir dari keluarga multikultural. Sang ayah berasal dari Maroko, sementara ibunya berasal dari Guinea Khatulistiwa. Latar belakang tersebut membuat Yamal tumbuh dengan nilai-nilai keluarga yang kuat sekaligus identitas keislaman yang terus melekat dalam kehidupannya.
Bakatnya sudah terlihat sejak usia sangat dini. Ketika baru berusia enam tahun, pencari bakat Barcelona melihat potensinya dan mengundangnya bergabung dengan akademi legendaris La Masia.
Sejak resmi menjadi bagian Barcelona pada 2014, perkembangan Yamal melesat begitu cepat. Ia selalu bermain bersama kelompok usia yang lebih tua karena kualitasnya jauh melampaui rata-rata pemain seusianya.
Pada April 2023, dunia mulai mengenalnya ketika ia menjalani debut bersama tim utama Barcelona pada usia 15 tahun. Debut tersebut langsung memecahkan rekor sebagai salah satu pemain termuda yang pernah tampil untuk Blaugrana.
Tak lama kemudian, berbagai rekor lain terus bermunculan.
Ia menjadi pencetak gol termuda Barcelona di La Liga, starter termuda Liga Champions, pemain termuda yang tampil di El Clasico, hingga masuk nominasi Ballon d’Or saat baru berusia 17 tahun.
Karier Internasional yang Melesat Bersama Timnas Spanyol
Perjalanan Yamal bersama Timnas Spanyol berlangsung sangat cepat.
Ia memperkuat tim nasional kelompok umur sejak usia muda sebelum akhirnya mendapat panggilan ke tim senior pada September 2023.
Debutnya langsung mencuri perhatian. Di usia 16 tahun, Yamal mencetak gol dan menjadi pemain sekaligus pencetak gol termuda sepanjang sejarah Timnas Spanyol.
Namanya kemudian benar-benar melejit pada Euro 2024.
Dalam turnamen tersebut ia memecahkan berbagai rekor sebagai:
- Pemain termuda yang tampil di Euro.
- Pemain termuda yang mencetak gol di Euro.
- Pemain termuda yang tampil di fase gugur.
- Pemain termuda yang tampil di final Euro.
Gol spektakulernya ke gawang Prancis di semifinal bahkan dikenang sebagai salah satu gol terbaik turnamen.
Spanyol akhirnya keluar sebagai juara Euro 2024, sementara Yamal dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Turnamen.
Momen Paling Menyentuh di Final Piala Dunia 2026: Saat Pemain Lain Ribut, Yamal Memilih Berdoa
Puncak perjalanan Yamal datang di Final Piala Dunia 2026.
Spanyol berhasil mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106 babak tambahan waktu.
Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, suasana lapangan berubah panas. Beberapa pemain dari kedua tim sempat terlibat adu mulut dan ketegangan akibat kerasnya pertandingan final.
Namun, di tengah keributan tersebut, kamera justru menangkap sosok Lamine Yamal melakukan sesuatu yang berbeda.
Alih-alih ikut dalam selebrasi penuh emosi atau terpancing situasi, Yamal berjalan menjauh dari kerumunan.
Ia mengangkat kedua tangannya.
Lalu menundukkan kepala.
Dan berdoa.
Beberapa saat kemudian, bibirnya terlihat mengucapkan kalimat “Alhamdulillah.”
Momen sederhana itu langsung viral di berbagai media sosial dunia.
Banyak warganet menyebut tindakan tersebut menunjukkan kedewasaan luar biasa seorang pemain yang bahkan belum genap berusia 20 tahun.
Di saat banyak orang larut dalam euforia kemenangan, Yamal memilih mengawali selebrasinya dengan bersyukur kepada Tuhan.
Kebiasaan Berdoa yang Diajarkan Sang Nenek
Ternyata kebiasaan tersebut bukan sesuatu yang baru.
Dalam berbagai kisah yang beredar dari lingkungan keluarganya, Yamal memang dibiasakan untuk selalu memanjatkan doa sebelum bertanding.
Kebiasaan itu disebut berasal dari sang nenek yang sejak kecil selalu mengingatkannya agar tidak hanya mengandalkan kemampuan sendiri.
Baginya, kerja keras memang penting.
Namun hasil akhir tetap berada dalam kehendak Allah.
Nilai-nilai itu terus dibawa hingga ia tampil di panggung sepak bola terbesar dunia.
Tak heran jika banyak penggemar Muslim merasa memiliki kedekatan emosional dengan sosok Yamal.
Ia tidak banyak berbicara soal agamanya, tetapi beberapa tindakan yang ia tunjukkan di ruang publik membuat identitas keislamannya semakin dikenal.
Dukungan Lamine Yamal untuk Palestina Jadi Sorotan Dunia
Keislaman Yamal juga terlihat ketika ia menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Usai Barcelona menjuarai Liga Spanyol, Yamal tampil membawa bendera Palestina dalam parade perayaan gelar.
Momen tersebut kemudian diunggah kembali melalui akun Instagram pribadinya yang memiliki puluhan juta pengikut.
Aksinya menuai perhatian internasional.
Menteri Pertahanan Israel saat itu, Israel Katz, mengkritik tindakan pemain muda tersebut dan meminta Barcelona mengambil sikap.
Namun pemerintah Spanyol justru memberikan pembelaan.
Perdana Menteri Pedro Sánchez menegaskan bahwa tindakan Yamal merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan yang juga dirasakan oleh banyak warga Spanyol terhadap rakyat Palestina.
Sikap tersebut sejalan dengan kebijakan luar negeri Spanyol yang sejak 2024 telah mengakui Negara Palestina.
Bagi sebagian penggemarnya, keberanian Yamal menyampaikan sikap kemanusiaan membuatnya semakin dihormati, bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai figur publik yang berani menunjukkan nilai yang diyakininya.
Koleksi Prestasi yang Sulit Dipercaya untuk Pemain Berusia 19 Tahun
Usianya memang baru 19 tahun.
Namun daftar prestasi Yamal sudah setara bahkan melampaui banyak pemain senior.
Di antaranya:
- Juara Piala Dunia 2026.
- Juara Euro 2024.
- Tiga gelar La Liga bersama Barcelona.
- Juara Copa del Rey.
- Dua gelar Piala Super Spanyol.
- Pemain Muda Terbaik Euro.
- Berbagai rekor pemain termuda di La Liga, Liga Champions, dan Euro.
Nilai pasarnya pun melonjak hingga menjadi salah satu pemain termahal di dunia.
Semua itu diraih ketika sebagian besar pemain seusianya bahkan belum mendapatkan tempat utama di klub profesional.
Menaklukkan Ronaldo, Mbappé, lalu Messi dalam Satu Turnamen
Jika ada satu alasan mengapa Piala Dunia 2026 disebut sebagai momen lahirnya era baru sepak bola, jawabannya adalah perjalanan yang dilalui Lamine Yamal.
Di babak 16 besar, Spanyol menyingkirkan Portugal yang dipimpin Cristiano Ronaldo.
Pada semifinal, giliran Prancis bersama Kylian Mbappé yang harus mengakui keunggulan La Roja.
Kemudian tibalah laga final yang paling emosional.
Di seberang lapangan berdiri Lionel Messi, sosok yang sejak kecil selalu disebut Yamal sebagai idolanya.
Messi adalah pemain yang poster dan videonya sering ditonton Yamal ketika masih berlatih di La Masia.
Namun ketika peluit pertandingan dimulai, tidak ada lagi hubungan idola dan penggemar.
Yang ada hanyalah dua pemain yang sama-sama mengejar trofi terbesar dalam sepak bola.
Spanyol akhirnya menang 1-0.
Yamal mengangkat trofi Piala Dunia.
Sementara Messi harus mengakhiri turnamen dengan kekalahan di partai puncak.
Dalam satu edisi Piala Dunia, Yamal berhasil melewati tiga ikon terbesar sepak bola modern: Ronaldo, Mbappé, dan Messi.
Bukan berarti ia mengalahkan mereka seorang diri, karena sepak bola adalah olahraga tim, tetapi ia menjadi bagian penting dari keberhasilan Spanyol menyingkirkan tim-tim yang dipimpin para megabintang tersebut.
Awal Era Baru Sepak Bola Dunia?
Selama hampir dua dekade, panggung sepak bola dunia didominasi oleh Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Generasi berikutnya kemudian menghadirkan nama seperti Kylian Mbappé dan Erling Haaland.
Kini, setelah Piala Dunia 2026, satu nama baru muncul sebagai simbol pergantian generasi: Lamine Yamal.
Masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai pemain terbaik sepanjang masa. Kariernya masih panjang dan tantangan di depan masih sangat besar.
Namun satu hal sudah sulit dibantah.
Di usia 19 tahun, Yamal telah memenangkan Euro dan Piala Dunia, memecahkan puluhan rekor, menjadi ikon Barcelona, menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim yang tak lupa bersyukur, menyuarakan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina, serta menjadi bagian penting dari perjalanan Spanyol mengalahkan tim-tim yang diperkuat Cristiano Ronaldo, Kylian Mbappé, dan Lionel Messi.
Jika ia mampu menjaga konsistensi, disiplin, dan kerendahan hati yang selama ini melekat pada dirinya, bukan tidak mungkin dunia benar-benar sedang menyaksikan awal dari era baru sepak bola yang dipimpin oleh seorang anak muda bernama Lamine Yamal.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










