bukamata.id – Dunia sepak bola kembali dibuat terkejut oleh kisah unik dari Harry Maguire. Bek senior Manchester United itu mendadak menjadi sorotan global bukan karena performa di lapangan, melainkan karena cara tak biasa yang ia lakukan setelah dicoret dari skuad Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2026.
Alih-alih tenggelam dalam kekecewaan, mantan kapten Inggris itu justru terlihat berjualan stiker Panini di kawasan Rockefeller Center, New York, sebuah aksi yang langsung viral di media sosial.
Dari Panggilan Canggung Tuchel ke Jalanan New York
Kabar tak dipanggilnya Maguire datang langsung dari pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, melalui panggilan video yang disebut berlangsung canggung.
Bagi pemain berusia 33 tahun itu, keputusan tersebut jelas mengejutkan. Namun ia memilih tidak memperpanjang drama.
“Saya sempat terkejut, tapi ini bagian dari sepak bola,” ungkap Maguire dalam sebuah wawancara.
Tak lama setelah kabar itu, Maguire justru terbang ke Amerika Serikat dan melakukan hal yang sama sekali tidak terduga: berinteraksi dengan fans muda sambil menjual stiker Panini Piala Dunia.
Viral di Rockefeller Center: Maguire Jadi Sorotan Warga New York
Di tengah keramaian Rockefeller Center, Maguire terlihat santai menyapa anak-anak yang tidak menyangka bisa bertemu bintang Premier League secara langsung.
Bukan sekadar hadir, ia bahkan ikut “berjualan” stiker koleksi Panini yang biasa dikoleksi penggemar sepak bola.
Momen itu langsung viral di media sosial. Banyak yang menyebut aksi Maguire sebagai bentuk “humble moment” dari seorang pemain elite yang baru saja kehilangan tempat di turnamen terbesar dunia.
Warganet pu berbondong-bondong turut memenuhi kolom komentar di akun Instagram @undercover.id.
“The real captain! Soon you will be out captain again harry!” tulis akun @adh***
“Membalas dengan elegan,” tulis akun @kul***
“Panini pun harganya nggak murah,” tulis akun @iin***
Muncul di Podcast, Suasana Canggung dengan Gary Lineker
Tak berhenti di sana, Maguire juga menghadiri acara di bar fans Manchester United di Times Square, serta menjadi tamu spesial dalam podcast “The Rest is Football” bersama Gary Lineker di Netflix.
Namun suasana sempat canggung ketika Lineker tanpa sadar menyinggung soal pemain yang tidak dipanggil ke skuad Inggris, sebelum akhirnya buru-buru mengoreksi ucapannya.
Momen itu kembali memperkuat narasi bahwa keputusan Tuchel memang masih menjadi perbincangan hangat di dunia sepak bola Inggris.
Tuchel Buka Suara: “Keputusan Ini Paling Sulit”
Di sisi lain, Thomas Tuchel akhirnya menjelaskan alasan di balik keputusan kontroversial tersebut.
Ia mengaku sangat berat meninggalkan nama-nama besar seperti Maguire, Phil Foden, hingga Cole Palmer.
“Ini keputusan yang sangat sulit. Saya menghormati semua pemain,” ujar Tuchel.
Menurutnya, keputusan itu diambil berdasarkan evaluasi panjang dari pemusatan latihan UEFA Nations League, di mana konsistensi tim menjadi faktor utama.
Tuchel juga menegaskan bahwa bukan karena kualitas individu, tetapi lebih pada keseimbangan skuad dan kebutuhan taktik.
Maguire Tetap Loyal: “Saya Bangga Jadi Bagian Inggris”
Meski kecewa, Maguire tetap menunjukkan sikap profesional. Ia menyampaikan dukungan penuh kepada rekan-rekannya yang akan berlaga di Piala Dunia 2026.
“Saya selalu bangga mengenakan seragam Inggris. Saya doakan yang terbaik untuk mereka,” tulisnya di media sosial.
Di balik kontroversi, sikap ini justru mendapat banyak pujian dari fans.
Dari Kapten Inggris ke Sorotan Dunia: Perjalanan Karier Maguire
Harry Maguire atau Jacob Harry Maguire lahir di Sheffield, Inggris, pada 5 Maret 1993.
Kariernya dimulai dari akademi Sheffield United, tempat ia berkembang hingga debut profesional pada 2011. Di klub ini, ia mencatat lebih dari 160 penampilan dan menjadi pemain kunci di lini pertahanan.
Perjalanan kariernya kemudian berlanjut:
- Hull City (2014): transfer £2,5 juta
- Wigan Athletic (pinjaman 2015)
- Leicester City (2017): jadi pemain utama dan terbaik klub
- Manchester United (2019): rekor transfer £80 juta (bek termahal dunia saat itu)
Di Manchester United, Maguire bahkan sempat menjadi kapten tim dan membawa klub meraih:
- Piala FA 2023–2024
- Piala EFL 2022–2023
- Final Liga Europa 2021 & 2025
Di level internasional, ia menjadi bagian penting Timnas Inggris di Euro 2020, Piala Dunia 2018 dan 2022.
Meski kariernya naik turun, Maguire tetap dikenal sebagai pemain dengan mental kuat dan kepemimpinan tinggi.
Camavinga: Dicoret Prancis, Pilih Harvard
Di sisi lain, gelandang Real Madrid Eduardo Camavinga juga menjadi sorotan setelah tidak masuk skuad Timnas Prancis untuk Piala Dunia 2026.
Pelatih Didier Deschamps menyebut keputusan itu murni karena alasan teknis dan persaingan ketat di lini tengah.
Namun berbeda dengan Maguire yang tetap aktif di dunia sepak bola dan fans, Camavinga memilih jalur berbeda dengan mengikuti kursus di Harvard Business School di Amerika Serikat sebagai bentuk pengembangan diri di luar lapangan.
Sepak Bola Bukan Hanya Soal Lapangan
Kisah Harry Maguire dan Eduardo Camavinga memperlihatkan satu hal penting: karier sepak bola modern tidak lagi hanya soal bermain di Piala Dunia.
Ada yang memilih tetap dekat dengan fans seperti Maguire, ada juga yang memilih pendidikan seperti Camavinga. Keduanya menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari babak baru.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









