Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Polda Jabar Pastikan Hak Mahasiswa yang Diamankan Pascademo 20 Oktober Terpenuhi

Jumat, 30 Oktober 2026 12:55 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bisa Dapat Rp2,7 Juta! Ini Rincian Bansos PKH Tahap 4 2026 untuk 8 Kategori Penerima

Jumat, 30 Oktober 2026 11:45 WIB

Kualitas Udara Bandung Memburuk, Indeks AQI Sempat Capai Angka 167

Jumat, 30 Oktober 2026 11:23 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Polda Jabar Pastikan Hak Mahasiswa yang Diamankan Pascademo 20 Oktober Terpenuhi
  • Bisa Dapat Rp2,7 Juta! Ini Rincian Bansos PKH Tahap 4 2026 untuk 8 Kategori Penerima
  • Kualitas Udara Bandung Memburuk, Indeks AQI Sempat Capai Angka 167
  • Kemarau Belum Usai, Jawa Barat Justru Diintai Hujan Lebat dan Angin Kencang
  • Pengamat Nilai Transjabodetabek Blok M-Bandung Tak Efektif, Ini Alasannya
  • Jadwal Persib vs Isen Mulang Kalteng FC di Super League, Cek Harga Tiketnya
  • Wacana Transjabodetabek Blok M-Bandung, Dishub: Perlu Koordinasi Lintas Provinsi
  • Harga Emas Antam Anjlok Lagi! Hari Ini Dibanderol Rp 2.546.000 per Gram
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 30 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Bismillah Tobat! Bos Sound Horeg Resmi Pensiun: Alat Dijual, Sisanya Siap Dipakai Pengajian

By Aga GustianaJumat, 11 September 2026 09:00 WIB8 Mins Read
Pengusaha sound horeg, Setyo Budi Mularso hina fatwa MUI Jatim dengan kata goblok saat live di TV nasional (Foto: Dok. Istimewa)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di balik raungan bass yang menggetarkan kaca rumah, meretakkan tembok, dan membuat dada terasa sesak, ada sesosok nama besar yang bertahun-tahun menjadi ikon dalam industri sound horeg. Setyo Budi Mularso, pemilik Aeromax Production asal Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, adalah raja kecil di panggung hiburan dentuman ekstrem tersebut. Selama seperempat abad, gemuruh ribuan watt audio adalah napas, kebanggaan, sekaligus simbol status baginya. Namun, sebuah letupan emosi di layar kaca nasional mendadak mengubah jalan hidupnya secara drastis—membawanya dari puncak ego popularitas menuju meja makan keluarga yang penuh air mata dan penyesalan.

Semua bermula saat Budi hadir sebagai narasumber dalam program siaran langsung Catatan Demokrasi di sebuah TV nasional yang mengangkat topik hangat: “Sound Horeg: Musik Berujung Petaka”. Perdebatan sengit mengenai batas kewajaran hiburan rakyat versus norma ketertiban umum membuat tensi meninggi. Di tengah riuh dialog, Budi melepaskan kata umpatan kotor yang menyasar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, secara khusus kepada Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim, KH Ma’ruf Khozin. Umpatan yang terlontar secara live itu dengan cepat menyebar di media sosial seperti FB, IG, dan Threads, memicu gelombang kecaman hebat dari publik.

Namun, hantaman terbesar bagi Budi justru tidak datang dari netizen atau sanksi hukum, melainkan dari dalam dinding rumahnya sendiri.

Dering Telepon dan Badai di Rumah Tangga

Begitu siaran langsung berakhir, telepon genggam Budi tak berhenti berdering. Di balik layar, sang istri dan anak-anaknya menyaksikan secara utuh bagaimana sosok kepala keluarga yang mereka hormati mengucapkan kata-kata tak pantas kepada ulama di hadapan jutaan pasang mata. Ketika Budi melangkah pulang ke Karanganyar, ia tidak disambut hangat seperti biasanya, melainkan oleh suasana hening yang mencekat—yang kemudian pecah menjadi rentetan teguran keras tanpa henti.

“Otomatis anak istri menceramahi saya 24 jam di rumah,” ungkap Budi dengan nada penyesalan yang mendalam. Tidak ada bentakan kasar dari sang istri, melainkan histeris kekecewaan seorang pendamping hidup yang tersakiti oleh sikap emosional suaminya. Anak-anaknya pun turut mempertanyakan moralitas sang ayah yang selama ini menjadi teladan mereka. Poin penceramahan keluarga itu sangat menohok: untuk apa mempertahankan bisnis hiburan yang tidak hanya memicu polemik sosial, tetapi juga merusak adab dan merendahkan kehormatan para kyai?

Nasihat tanpa henti selama berhari-hari itu menjadi cermin telanjang bagi Budi. Di bawah tatapan mata istri dan anaknya, ketenaran sebagai “Raja Sound Horeg” mendadak terasa hampa dan membebani. Sang istri meminta Budi untuk kembali ke jalan yang wajar, meninggalkan panggung hura-hura yang kerap mengundang kontroversi.

Baca Juga:  Diprotes Ulama, Turnamen Domino di Kota Tasikmalaya Batal Dihelat

Menyadari kesalahannya, Budi mengambil langkah cepat. Pada Rabu malam, 9 September 2026, sekitar pukul 21.00 WIB, Budi mendatangi kediaman Ketua MUI Kabupaten Karanganyar, Dr. Badaruddin. Di sana, dengan nada bergetar dan disaksikan para tokoh setempat, Budi menyatakan penyesalan mendalam dan menyampaikan permohonan maaf terbuka yang ditujukan kepada MUI Jatim, MUI Jateng, MUI Pusat, hingga MUI Karanganyar.

“Saya sendiri sudah sampaikan saya khilaf dari pernyataan saya itu. Saya juga sudah menyampaikan dari hati yang benar-benar tulus, bahwasanya saya khilaf. Dan saya tobat,” tegas Budi.

Di sisi lain, kelapangan dada ditunjukkan oleh KH Ma’ruf Khozin. Sang kiai menyatakan telah memaafkan Budi sepenuhnya bahkan sebelum video permintaan maaf dibuat. Kiai Ma’ruf mengungkapkan bahwa sesaat setelah acara live selesai, mereka sebenarnya sudah bersalaman, bercanda, dan berfoto bersama. Mengutip Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 199 tentang perintah untuk menjadi pemaaf, Kiai Ma’ruf menegaskan tidak menyimpan rasa sakit hati sedikit pun dan memilih menjadikan insiden ini sebagai pelajaran bersama.

Melenyapkan Monster Audio: Dijual hingga Disodaqohkan untuk Pengajian

Penceramahan arsitektur moral dari anak dan istri membakar habis sisa-sisa ego Budi terhadap dunia sound horeg. Ia sampai pada satu kesimpulan radikal: ia harus mengakhiri keterlibatannya dalam fenomena audio ekstrem tersebut.

Budi secara terbuka menyatakan bakal menjual seluruh perangkat audio miliknya yang berspesifikasi horeg—perangkat raksasa dengan watt raksasa yang dirancang khusus untuk memproduksi dentuman frekuensi rendah berdaya rusak tinggi.

“Akhirnya saya putuskan kalau situasi ini sudah normal, biar saja tidak tahu-tahu dijual. Dijual itu maknanya lebih yang spek horeg. Saya kan punya spek konser. Ini yang spek horeg, settingan horeg, saya lebih baik sudah tak perlu lagi. Daripada saya diceramahi anak istri, lebih baik yang wajar-wajar saja,” aku Budi.

Secara jujur, Budi mengakui bahwa bisnis sound horeg sebenarnya tidak memberikan kontribusi finansial yang signifikan bagi kehidupannya. Motivasi utamanya selama ini hanyalah kesenangan pribadi, hobi berkumpul dengan komunitas, dan kepuasan emosional saat dipuji atas kerasnya dentuman musik.

“Di sound ini tidak begitu efektif dan signifikan untuk menambah pundi-pundi rezeki saya. Saya lebih ke hobi dan senang kumpul dengan saudara-saudara. Rezeki itu bisa didapat dengan usaha yang lain, tidak hanya dari dunia sound horeg saja,” tuturnya.

Baca Juga:  Kampanye di Jatim, Anies Janjikan Kesejahteraan Guru Diniyah

Keikhlasan Budi untuk memutar arah hidupnya tidak berhenti pada keputusan menjual aset. Sebagai bentuk penebusan dosa sosial dan rasa syukurnya atas hidayah teguran keluarga, Budi menegaskan bahwa perangkat audio miliknya—terutama yang berspesifikasi konser dan wajar—kini siap dialihfungsikan penuh untuk kegiatan kemaslahatan umat.

Budi bahkan menggratiskan penggunaan sisa perangkat sound system-nya untuk acara-acara keagamaan, seperti majelis taklim dan pengajian akbar di tempat-tempat umum.

“Kalau ada yang menghendaki, ‘Mas Budi sound-nya untuk pengajian di Alun-alun Solo, atau Alun-alun Karanganyar,’ saya berangkatkan. Untuk kemaslahatan kita berangkatkan. Bagi saya untuk sodakoh,” ucap Budi mantap. Pernyataan ini sekaligus menandai transformasi besar seorang pengusaha audio: dari pembuat dentuman kebisingan menjadi penyedia pengeras suara untuk lantunan ayat suci dan ceramah agama.

Riuh Suara Warganet: Antara Syukur, Ajakan Boikot, dan Tuntutan Hukum

Keputusan pertobatan Budi dan pengakuannya yang mendadak viral ini tak pelak memancing gelombang tanggapan riuh di jagat maya. Berbagai komentar mampir di media sosial, memperlihatkan betapa fenomena sound horeg memang menjadi isu sensitif yang membelah emosi publik.

Sebagian netizen bersyukur atas sadarnya sang pengusaha dan berharap momentum ini menjadi titik balik bagi maraknya hiburan dentuman ekstrem di daerah-daerah.

“Alhamdulillah tobat… Pumpung gusti alloh durung nyelok/manggil peno,” ujar seorang netizen yang merasa bersyukur hidayah itu datang sebelum terlambat.

Tak sedikit pula warganet yang menjadikan momentum ini sebagai gerakan bersama untuk menghentikan tradisi sound horeg secara luas, khususnya di Jawa Timur.

“Ayo Warga SeJatim tobatlah dan boycot segala atraksi kegiatan soundhoreg yg selama ini cm membawa mudharat dan ga manfaat !,” tegas netizen lainnya di kolom komentar.

Namun, tidak semua warganet bisa meredam rasa kecewanya begitu saja. Sebagian netizen merasa pola permohonan maaf setelah melakukan pelanggaran atau penistaan di media sosial sudah terlalu sering terjadi, sehingga menginginkan adanya proses hukum agar memberi efek jera.

“Ending nya sdh bisa ditebak. Harusnya jgn dimasf kan hukum ttp berjalan biar kapok,” celetuk netizen yang menyayangkan cepatnya penyelesaian lewat jalur kekeluargaan semata.

Profil Setyo Budi Mularso: Dari Jagat Audio hingga Panggung Politik

Untuk memahami betapa besarnya keputusan Budi meninggalkan sound horeg, publik perlu melihat rekam jejak dan profil pria asal Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini. Budi bukanlah pemain baru di dunia hiburan panggung; ia adalah sosok veteran yang telah memiliki akar bisnis dan jaringan sosial politik yang cukup luas.

  • Pengusaha Audio 25 Tahun: Setyo Budi Mularso telah menekuni bisnis persewaan sound system selama kurang lebih 25 tahun. Pengalamannya yang merentang sejak akhir era 1990-an membuatnya menjadi salah satu sesepuh teknisi dan pemilik audio di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
  • Pemilik Aeromax Production: Budi merupakan pendiri sekaligus pemilik dari Aeromax Production, sebuah perusahaan event production terkemuka yang berbasis di Karanganyar. Perusahaan ini tidak hanya menyediakan sound system berdaya tinggi, tetapi juga melayani berbagai kebutuhan hajatan dan pertunjukan besar seperti penyewaan tenda, tata cahaya (lighting), hingga sistem penyiaran kamera raksasa (multicam).
  • Tokoh Komunitas Sound System: Budi dikenal sangat aktif dalam berbagai forum, asosiasi, dan komunitas pengusaha maupun penggemar sound system di wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur—daerah yang menjadi epicenter kelahiran fenomena sound horeg. Kehadirannya di acara TV nasional sebagai perwakilan pengusaha menegaskan posisinya yang berpengaruh di kalangan komunitas tersebut.
  • Aktivis Politik dan Relawan: Di luar dunia hiburan, Budi memiliki jejaring politik yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia tercatat sebagai salah satu pengurus dalam organisasi relawan “Gibran Penerus Jokowi” (GPJ). Nama dan keterlibatannya secara resmi dipublikasikan di situs gibranpenerusjokowi.id sejak pertengahan Agustus 2026.
  • Akses ke Tokoh Nasional: Kedekatan politik Budi terbukti saat ia bersama jajaran pengurus relawan diterima langsung oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di kediaman pribadi Sumber, Banjarsari, Solo, pada 11 Agustus 2026. Dalam pertemuan tersebut, Budi tampil percaya diri mengenakan kemeja putih berlogo Aeromax Production—kemeja yang sama dengan yang ia kenakan saat menghadiri debat di TV nasional.
Baca Juga:  Diharamkan MUI, Ini Daftar Merek Kurma Israel dan Cara Memilihnya

Langkah Budi menjual sound horeg dan mengalihkannya untuk kegiatan sodaqoh pengajian menjadi babak baru dalam hidupnya. Dari ruang keluarga yang dipenuhi teguran anak dan istri, seorang bos audio belajar bahwa suara terbising sekalipun tak akan mampu menutupi suara hati nurani. Kini, raungan bass ribuan watt tak lagi jadi kebanggaan; kesederhanaan, keharmonisan keluarga, dan riyadhah sodaqoh menjadi jalan baru yang dipilih Setyo Budi Mularso untuk bertobat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Jawa Timur MUI Sound Horeg
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Harga Emas Antam Anjlok Lagi! Hari Ini Dibanderol Rp 2.546.000 per Gram

Dari Murah hingga Mewah, Ini Daftar Steak Enak di Bandung Pilihan Warganet

Harga Emas Antam Anjlok Rp11.000 Hari Ini! Cek Daftar Lengkapnya Sebelum Beli

Video Lama Bocor Lagi! Reaksi Dingin Eve Saat Tahu Hamil Bikin Warganet Geleng-geleng Kepala

Bosan ke Tempat yang Itu-itu Saja? Coba 5 Wisata Bogor Anti-Mainstream Ini

Kolaborasi Fiersa Besari dan Arei Hadirkan Cerita di Balik Ekspedisi Gunung Elbrus

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.