bukamata.id – Di sebuah rumah sederhana di Padukuhan Jerukan, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, hidup seorang bocah bernama Ahmad Tri Efendi atau akrab disapa Fendi.
Di usia yang seharusnya dipenuhi dengan aktivitas belajar di bangku sekolah dasar, Fendi justru menjalani peran besar sebagai perawat bagi ibunya yang sakit.
Kisah bocah kelahiran 2015 itu menjadi sorotan publik karena keputusan besarnya: berhenti sekolah demi merawat ibunya yang mengalami kebutaan dan kelumpuhan. Keputusan itu diambil Fendi bukan tanpa alasan. Sejak tiga tahun lalu, sang ibu, Siaminah, mengalami kondisi kesehatan yang memburuk hingga tak lagi mampu beraktivitas secara mandiri.
Rutinitas Fendi: Dari Memasak hingga Menyuapi Ibunya
Setiap pagi, saat anak-anak lain bersiap menuju sekolah, Fendi justru memulai harinya dengan membantu kebutuhan rumah tangga. Di rumah berdinding batako yang belum diplester dan berlantai semen sederhana, ia menyiapkan makanan untuk ibunya bersama sang ayah.
Ayah Fendi, Slamet, sebenarnya juga sedang berjuang melawan kondisi kesehatan yang menurun. Meski fisiknya semakin lemah, Slamet masih berusaha membantu di dapur dengan menyiapkan bumbu masakan.
Setelah itu, Fendi melanjutkan proses memasak di dapur sederhana. Ketika makanan telah siap, ia menyuapi ibunya dengan sabar. Tidak hanya itu, ia juga memberikan minum serta membantu berbagai kebutuhan ibunya sehari-hari.
“Masak, ambilin minum, bantu masak tempe dan tahu,” kata Fendi sederhana.
Peran tersebut dijalani Fendi hampir setiap hari sejak ia memutuskan berhenti sekolah.
Awal Penyakit yang Mengubah Hidup Keluarga
Siaminah awalnya hanya mengalami migrain yang sering kambuh. Namun lama-kelamaan penglihatannya mulai kabur. Dalam tiga tahun terakhir, ia kehilangan penglihatan sepenuhnya.
Kondisinya semakin memburuk setelah mengalami stroke sehingga kini lebih banyak terbaring di rumah.
Keluarga sempat membawa Siaminah berobat ke dokter. Namun keterbatasan biaya membuat perawatan lebih banyak dilakukan di rumah.
Di tengah situasi sulit tersebut, Fendi memutuskan untuk berhenti sekolah agar dapat merawat ibunya sekaligus membantu ayahnya yang juga sakit.
Beban Berat Keluarga yang Bertahan dengan Bantuan Sosial
Fendi merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak sulungnya, Wahyu Adi Saputra, harus bekerja sejak lulus sekolah menengah pertama untuk membantu ekonomi keluarga.
Sementara kakak keduanya, Ayu Ambarwati, masih bersekolah di tingkat SMP.
Kondisi ekonomi keluarga memang sangat terbatas. Mereka mengandalkan bantuan sosial pemerintah seperti Program Keluarga Harapan, Bantuan Pangan Non Tunai, serta jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan.
Meski demikian, bantuan tersebut belum sepenuhnya mampu menutup kebutuhan hidup keluarga, terutama karena ayah Fendi juga sudah dua tahun terakhir tidak bekerja akibat sakit.
Tetangga dan Guru Berusaha Membujuk Fendi Kembali Sekolah
Kisah Fendi membuat warga sekitar dan tokoh masyarakat merasa iba. Banyak pihak berusaha membujuknya agar kembali bersekolah.
Namun hingga kini, Fendi tetap memilih tinggal di rumah untuk menjaga ibunya.
Kepala Padukuhan Jerukan, Winarsih, mengatakan berbagai upaya telah dilakukan agar Fendi mau kembali melanjutkan pendidikan.
“Fendi sudah dibujuk oleh tetangga dan guru-gurunya untuk kembali ke sekolah, tetapi tidak mau,” ujar Winarsih.
Pemerintah setempat juga mulai berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul untuk memberikan pendampingan lanjutan kepada keluarga tersebut.
Berjuang Membantu Ekonomi Keluarga
Selain merawat ibunya, Fendi juga berusaha membantu ekonomi keluarga dengan cara sederhana. Ia kerap mencari rumput untuk neneknya, Wakinem, dengan upah seadanya.
Uang yang diperoleh digunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari.
Meski usianya masih sangat kecil, Fendi menunjukkan tanggung jawab besar terhadap keluarganya.
Kisah Fendi Viral dan Tuai Reaksi Warganet
Kisah perjuangan Fendi juga ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet yang terharu sekaligus mempertanyakan perhatian terhadap keluarga tersebut.
Komentar tersebut muncul di akun Instagram @cruside pada Minggu (15/3/2026).
Sebagian warganet memuji keteguhan hati Fendi.
“Masya Allah anak sekecil ini sudah berani mengambil keputusan besar,” tulis akun @iru***.
Komentar lain juga mendoakan masa depan Fendi.
“Calon orang sukses ini, Aamiin Ya Allah,” tulis akun @evi***.
Namun ada pula yang mempertanyakan peran pemerintah dalam membantu keluarga tersebut.
“Di mana peran negara? Pak Kadesnya, Pak Camatnya, sampai Presiden?” tulis akun @iva***.
Harapan Besar untuk Masa Depan Fendi
Kisah Fendi menggambarkan realitas pahit yang masih dialami sebagian keluarga di daerah. Di satu sisi, keberanian dan pengorbanan seorang anak untuk keluarganya menuai simpati luas.
Di sisi lain, kisah ini juga menjadi pengingat pentingnya dukungan sosial dan pendidikan bagi anak-anak agar tetap bisa meraih masa depan yang lebih baik.
Bagi warga sekitar, harapan terbesar tetap sama: Fendi bisa kembali bersekolah tanpa harus meninggalkan tanggung jawab merawat ibunya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









