Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ini Modus Ustaz SAM Diduga Pelecehan Santri, Janji Beasiswa Jadi Alat Kepercayaan

Selasa, 17 Maret 2026 20:21 WIB

Video Ibu Tiri dan Anak Tiri di Sawit Muncul di TikTok, Ada Link Telegram?

Selasa, 17 Maret 2026 20:00 WIB
Persib

Persib di Puncak Klasemen, Bojan Hodak Sebut Super League Masuk Periode Penentu

Selasa, 17 Maret 2026 19:32 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ini Modus Ustaz SAM Diduga Pelecehan Santri, Janji Beasiswa Jadi Alat Kepercayaan
  • Video Ibu Tiri dan Anak Tiri di Sawit Muncul di TikTok, Ada Link Telegram?
  • Persib di Puncak Klasemen, Bojan Hodak Sebut Super League Masuk Periode Penentu
  • Suaranya Mirip Dubbing Iklan, Ibu-Ibu Viral Ini Maki Pengunjung Minimarket Pakai Bahasa ‘Naskah Sinetron’!
  • Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!
  • Kata Inara Rusli Soal Video Syur: Akui Ada Rekaman, Bantah Tuduhan Perzinaan
  • Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa
  • Kantongi Belasan Miliar dari Kompetisi Asia, Intip Proyek ‘Los Galacticos’ Persib Bandung Musim Depan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 17 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bukan Mitra, Tapi Babu: Kapitalisme Ojol dan Tipu Daya Teknologi

By AdminSabtu, 14 Juni 2025 14:44 WIB5 Mins Read
Penta Peturun, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

SHOSHANA Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism menunjuk bahwa kapitalisme kontemporer tak hanya mengeksploitasi tenaga kerja, melainkan juga mengubah pengalaman manusia menjadi data yang dapat dipanen dan diperjualbelikan. Slavoj Žižek menambahkan gagasan “ideologi cyber-fetishisme”: bagaimana teknologi menyamarkan hubungan eksploitasi di balik narasi kemajuan dan efisiensi. Sementara Antonio Gramsci memberi kita kerangka untuk memahami hegemoni baru yang terbentuk melalui “common sense” digital, yang menormalisasi prekarisasi kerja.

Di Indonesia, konvergensi perspektif ini terealisasi nyata dalam kalkulasi data aktif dan pasif nasib 4,2 juta driver ojek online. Menurut BPS 2024, mereka berjuang agar diakui sebagai buruh, bukan sekadar “mitra bisnis” seperti diklaim platform digital. Data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan hanya sebagian kecil yang menjadi peserta mandiri, selebihnya bekerja tanpa jaminan sosial. Ironisnya, di tengah semua itu, Presiden Prabowo Subianto mendorong aplikasi memberikan “bonus hari raya” pada Idul Fitri 1446, mengambil jalan tengah walau pertanyaan mendasar soal status ketenagakerjaan belum tuntas.

Žižek dan “Enlightened False Consciousness”

Katakan seorang driver berkata kepada Pramoedya:

“Tuan, saya tahu kami bukan mitra sejati, tapi apa yang bisa kami lakukan? Kami harus tetap bekerja untuk makan anak.”

Inilah yang Žižek sebut enlightened false consciousness, kesadaran akan penindasan, namun tetap terperangkap karena pilihan lainnya sangat terbatas. Driver tahu platform tak peduli keselamatan mereka, namun tetap membuka aplikasi, menunggu orderan. Narasi “mitra bisnis” menjadi ilusi, sementara struktur yang menjerat tetap berdiri tegak.

Narasi “Ekonomi Berbagi” dan Kritik Ideologis

Žižek mengecam narasi “ekonomi berbagi” sebagai ideologi murni. Ketika Wakil Menaker Immanuel Ebenezer (Noel) menyatakan di sidang ILO, “Ojol adalah manusia yang harus dimanusiakan, bukan algoritma data dalam status kemitraan,”
itu merupakan pengakuan bahwa selama ini mereka diperlakukan seperti perpanjangan mesin.

Baca Juga:  Detik-detik Ojol Tewas Tertabrak Mobil Rantis Brimob Saat Unjuk Rasa di DPR

Di sidang International Labour Conference di Jenewa, Juni 2025, ILO memutuskan bahwa driver ojol adalah pekerja digital yang berhak atas perlindungan buruh. Konvensi ini akan ditetapkan resmi pada 2026.

Gramsci menyebut proses ini sebagai “war of position”, perebutan ruang diskursif lewat serikat buruh global yang berhasil meruntuhkan narasi kemitraan buatan platform.

Data sebagai Senjata: Mengungkap Ketimpangan

Pramoedya percaya bahwa kebenaran sejati berada pada kehidupan orang-orang kecil, bukan retorika penguasa. Berikut fakta yang menegaskan nasib driver:

Total driver aktif: ±2 juta; baru ±250 ribu yang terdaftar BPJS Ketenagakerjaan masih ±1,75 juta yang tanpa jaminan JKK dan JKM.

Rata-rata pendapatan bruto: Rp 2,1 juta/bulan, jauh di bawah UMR di banyak kota.

Setelah potongan operasional (bensin, servis, helm, jaket, ponsel), pendapatan bersih hanya ±Rp 1,4 juta, sebuah “kemerdekaan digital” yang menindas.

Ekonomi platform RI bernilai US$27 miliar dan tumbuh 35 % per tahun, tapi sebagian besar keuntungan dinikmati korporasi multinasional, bukan para driver. Platform mengubah terms and conditions secara sepihak, bukan kemitraan, melainkan bentuk modern perbudakan berbaju teknologi.

Baca Juga:  Ojol Protes Kekerasan di Cimekar, Polisi Terjunkan Tim Mediasi

Politik Kedermawanan Terhadap Realitas Struktural

Saat Presiden Prabowo menyebut soal penambahan bonus hari raya (BHR) sekitar Rp 1 juta, bahkan ada yang hanya dapat Rp 50 ribu atau tidak sama sekali, itu mencerminkan kontradiksi mendalam. Pramoedya tentu akan melihatnya sebagai mentalitas priyayi: memberi belas kasih tanpa mengubah struktur yang menindas. BHR ini adalah contoh paling jelas dari charity capitalism.

Žižek menyebutnya “ideology at its purest”: tindakan tampak progresif namun menyokong status quo. Meski Indonesia mendukung keputusan ILO, implementasi di tingkat nasional masih minim regulasi substantif, konvensi bisa saja jadi slogan kosong.

Dari Cultuurstelsel ke Algoritma

Dalam Bumi Manusia, pribumi dibentuk sebagai kelas terbawah, tunduk pada “cambuk” kolonial. Kini, algoritma platform digital menyandang peran cambuk baru yang tak terlihat, rating, suspend akun, dan manipulasi order menjadi alat kedisiplinan.

Driver bukan sekadar memberi layanan; mereka juga menyediakan data tentang pola hidup yang diubah jadi “behavioral futures” dan diperjualbelikan. Ini adalah kolonialisme data, lebih dalam dari kolonialisme fisik.

Bagian paling ironis: platform memberi narasi “jadilah bos untuk diri sendiri” sambil memberlakukan kontrol lebih ketat daripada hubungan kerja tradisional, GPS, rating, tracking penolakan order, semuanya mencerminkan bentuk baru dominasi.

Perjuangan Kemanusiaan: War of Position Digital

Bayangkan seorang driver bertanya:

“Mereka bilang kami mitra, tapi kenapa diperlakukan seperti babu? Kenapa rating bisa bikin kami kehilangan order? Kenapa kami gak boleh pilih order jauh?”

Baca Juga:  Ribuan Ojol Demo di Gedung Sate, Tuntut Perubahan Tarif yang Dinilai Merugikan

Perjuangan untuk status hukum adalah perjuangan untuk kemanusiaan, hak upah minimum, jaminan sosial, perlindungan kerja. Gramsci melihat ini sebagai “war of position”: narasi kemitraan harus dilawan lewat kesadaran kritis dan solidaritas kolektif.

GARDA dan Aliansi Driver Online adalah organic intellectuals, intelektual organik dari kelas pekerja yang merumuskan kesadaran kritis, tak hanya soal tarif, tapi soal posisi manusia di hadapan algoritma.

Melawan Amnesia Digital: Žižekian Wake‑Up Call

Pramoedya menegaskan pentingnya ingatan kolektif untuk melawan penindasan. Kata dia “jangan jadi bangsa amnesia.” Dalam konteks digital, amnesia ini menjadi normalisasi eksploitasi. Žižek menambahkan bahwa kita tak benar-benar lupa, tetapi melakukan “disavowal”:

“Saya tahu driver dieksploitasi, tapi tetap pakai aplikasi karena praktis.”

Tindakan kita, memberi rating rendah karena terlambat, memilih opsi termurah, hal itu secara tak sadar memperkuat sistem. Namun kita menolak tanggung jawab dengan mengatakan, “Itu tugas platform, bukan saya.”

Gramsci mengatakan ini bagian dari hegemoni platform: konsumen dipisahkan dari realitas produksi, sehingga eksploitasi tak terlihat.

Perlawanan terhadap kapitalisme pengawasan harus dimulai dari menolak amnesia ini, seperti yang dilakukan Pramoedya lewat penulisan: mendokumentasikan dan menyuarakan pengalaman driver sebagai bagian dari sejarah perjuangan kelas digital. Ini soal empati dan gagasan struktural.

Penulis: Penta Peturun (Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI)

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

babu ojol mitra ojol Ojol perbudakan ojol tipu daya teknologi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ini Modus Ustaz SAM Diduga Pelecehan Santri, Janji Beasiswa Jadi Alat Kepercayaan

Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!

Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa

Polisi Umumkan Tol Gedebage Dibuka 24 Jam saat Arus Mudik Lebaran 2026

Laba Tembus Rp1,15 Triliun, bank bjb Buktikan Ketahanan Finansial di Tengah Gejolak Ekonomi 2025

Bukan Sembarang Prajurit! Prada Nawawi Harumkan Indonesia di Langit Libya, Netizen: Tentara Allah!

Terpopuler
  • Viral Video Kebun Sawit Ibu Tiri vs Anak Tiri, Apa Isinya? Hati-hati Jebakan Batman!
  • Video Aksi Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit Viral, Link Diburu Netizen
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Netizen Penasaran! Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Banyak yang Buru Link Aslinya
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Waspada Klaim Full Durasi Video Ukhti Mukena Pink ‘No Sensor’, Ini Faktanya
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Hati-hati! Link Video Viral Mukena Pink ‘No Sensor’ Bisa Sebarkan Malware
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.