Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital

Sabtu, 3 Oktober 2026 09:43 WIB

Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor

Sabtu, 3 Oktober 2026 09:15 WIB

Naik Kelas Lewat Gentengisasi: Asa Baru Perajin Tanah Liat Plered Purwakarta

Sabtu, 3 Oktober 2026 08:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital
  • Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor
  • Naik Kelas Lewat Gentengisasi: Asa Baru Perajin Tanah Liat Plered Purwakarta
  • Wisata Kuliner Sukabumi 2026: 10 Rekomendasi Tempat Makan Paling Legendaris dan Wajib Dicoba
  • Bansos Oktober 2026 Cair! Ada BSU Rp900 Ribu hingga Beras 30 Kg, Ini Rinciannya
  • Influenza A Merebak di Bandung Barat, 31 Orang Terkonfirmasi Positif
  • BSU Oktober-Desember 2026 Dibayar Sekaligus, Total Bantuan Rp900 Ribu
  • Surga Tersembunyi di Tanah Sunda: 6 Destinasi Wisata Sukabumi Paling Hits untuk Liburan Akhir Pekan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 3 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Bukan untuk Orang Lemah! Intip Realita ‘Jalur Poros’ Siswa di Pedalaman Asmat Papua

By Aga GustianaJumat, 1 Mei 2026 09:53 WIB4 Mins Read
Siswa di Pedalaman Papua. (Foto: Instagram @malik.wibowo.82)
ADVERTISEMENT

bukamata.di – Di balik rimbunnya hutan bakau dan labirin sungai-sungai yang membelah tanah Papua Selatan, tersimpan sebuah narasi perjuangan yang sunyi. Di Kabupaten Asmat, pendidikan bukan sekadar urusan buku dan papan tulis, melainkan tentang ketangguhan melawan alam dan keterbatasan. Sebuah video yang diunggah oleh Malik Wibowo (@malik.wibowo.82) baru-baru ini menjadi jendela bagi publik untuk melihat betapa mahalnya harga sebuah cita-cita di “Bumi Cendrawasih.”

Perjalanan 3 Jam demi Selembar Ijazah

Siapa yang paling merasakan beratnya medan ini? Mereka adalah para siswa SMP Negeri 2 Pantai Kasuari. Dalam video tersebut, tampak tiga orang siswa yang baru saja menempuh perjalanan ekstrem dari kampung mereka, Kairin.

Apa yang mereka lakukan? Demi mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS), para remaja ini harus rela berjalan kaki selama tiga jam. Namun, ini bukan sekadar jalan santai. Mereka harus melintasi hutan lebat dan “jalur poros” yang tak lebih dari kubangan lumpur sedalam betis orang dewasa. Tanpa alas kaki, mereka meniti batang pohon tumbang yang dijadikan jembatan darurat di atas sungai kecil.

“Ini baru Pak Guru ceritain, sudah muncul. Anak-anak dari Kairin yang besok mau melaksanakan ujian akhir sekolah,” ujar Malik dalam narasinya, menyambut para pejuang pendidikan tersebut dengan nada bangga sekaligus haru.

Baca Juga:  Link Video Cut Salwa Ramai Diburu Netizen, Isinya Bikin Penasaran!

Menginap di Sekolah: Pilihan di Tengah Keterpencilan

Mengapa mereka harus membawa tas besar, tikar, dan bantal? Di Asmat, jarak antar kampung bisa memakan waktu berjam-jam melalui sungai atau jalur darat yang sulit. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang-pergi setiap hari selama pekan ujian.

Di mana mereka tinggal? Sekolah akhirnya menjadi “rumah kedua.” Para siswa ini meminta izin untuk menginap di kompleks sekolah. Pemandangan siswa yang sedang merapikan tempat tidur sederhana di sudut ruangan kelas menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar mereka melampaui kenyamanan fasilitas yang ada.

Kearifan dan Kesederhanaan di Sela Ujian

Kapan keceriaan itu muncul? Di sela-sela ketegangan ujian, momen istirahat menjadi waktu yang sangat berharga. Malik mendokumentasikan para siswa yang duduk rapi di meja kayu panjang.

Bagaimana kondisi mereka saat istirahat? Menu yang tersaji sangatlah bersahaja: sepotong roti dan segelas minuman ringan. Tidak ada kantin mewah dengan beragam pilihan makanan. Meski begitu, senyum lebar tetap terkembang dari wajah-wajah tulus mereka.

Baca Juga:  Geger! Cara Tak Terduga Sekolah di China Bikin Siswa Laki-laki Rajin Masuk Kelas

“Bagaimana rasanya Pace? Enak?” tanya Malik kepada salah satu siswa bernama Pace Cornelis. Dengan singkat namun mantap, ia menjawab, “Enak.” Jawaban sederhana itu seolah membungkam segala keluhan tentang keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari.

Fasilitas di Atas Panggung Kayu

Realitas fisik sekolah di pedalaman Asmat juga menjadi sorotan. Sebagian besar bangunan sekolah, termasuk SMPN 2 Pantai Kasuari, dibangun dengan konsep rumah panggung dari kayu. Hal ini dilakukan karena kondisi tanah yang berawa dan sering tergenang air, terutama saat hujan turun deras.

Dalam salah satu potongan video, terlihat seorang siswa sedang menyapu lantai kayu di depan kantor sekolah. Di bagian lain, tampak seorang guru yang juga bertindak sebagai figur ayah, mendorong sepeda roda tiga milik anak kecil di selasar kayu yang basah karena hujan.

“Ujian ki lur, cuacane kayak gini (Ujian ini teman, cuacanya seperti ini),” ucap Malik dalam bahasa Jawa, menggambarkan suasana sekolah yang sepi karena hujan seringkali menghambat mobilitas warga Asmat.

Baca Juga:  Bikin Penasaran! Apa Isi Video Ibu Tiri di Kebun Sawit yang Sedang Viral? Link Diburu Netizen

Harapan di Balik Doa untuk Perdamaian

Pesan mendalam juga tersirat dari tulisan “pray for peace in the world” yang disematkan dalam video tersebut. Di tengah tantangan geografis dan ekonomi, para siswa ini tetap menjalankan rutinitas dengan khidmat, termasuk saat melakukan upacara atau apel pagi di lapangan rumput yang becek.

Video ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di sudut terjauh Indonesia, ada anak-anak bangsa yang harus bertaruh nyawa dan tenaga hanya untuk duduk di bangku sekolah. Mereka tidak butuh belas kasihan, melainkan keadilan akses dan fasilitas yang setara.

Langkah kaki di atas lumpur itu mungkin terasa berat, namun bagi anak-anak Asmat, setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Pendidikan di Asmat bukan lagi soal angka di atas kertas, melainkan tentang bagaimana bertahan dan tetap bermimpi di tengah kepungan rimba dan rawa.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

berita viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital

Wisata Kuliner Sukabumi 2026: 10 Rekomendasi Tempat Makan Paling Legendaris dan Wajib Dicoba

Surga Tersembunyi di Tanah Sunda: 6 Destinasi Wisata Sukabumi Paling Hits untuk Liburan Akhir Pekan

BSU cair

Panduan Lengkap Cek Penerima BSU 2026: Subsidi Upah Rp900 Ribu Cair Sekaligus untuk 3 Bulan

Keren Banget! Skill Futsal Bocah SD Asal Deli Serdang Bikin Pelatih Timnas Indonesia Putri Kepincut

Gaya Hidup Sekaligus Mesin Uang: Alasan Kuat Properti Kota Baru Parahyangan Diserbu Investor Urban

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Badai di Tubuh KORMI Bandung: Hibah Seret, Kudeta Kepengurusan, hingga Sentilan Guru Besar UPI
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.