Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Perpisahan Robi Darwis dengan Persib, Tinggalkan Jejak dan Kenangan Manis

Jumat, 26 Juni 2026 05:00 WIB

Dicari Netizen! Link Video Viral TikTok Ibu Handuk Putih Picu Rasa Penasaran Publik

Jumat, 26 Juni 2026 04:00 WIB
Robi Darwis

Dari Akademi hingga Juara Liga, Perjalanan Robi Darwis Bersama Persib Resmi Berakhir

Jumat, 26 Juni 2026 03:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Perpisahan Robi Darwis dengan Persib, Tinggalkan Jejak dan Kenangan Manis
  • Dicari Netizen! Link Video Viral TikTok Ibu Handuk Putih Picu Rasa Penasaran Publik
  • Dari Akademi hingga Juara Liga, Perjalanan Robi Darwis Bersama Persib Resmi Berakhir
  • Kejutan Akhir Pekan 26 Juni 2026! Klaim Kode Redeem FF Terbaru Ini untuk Dapatkan Skin Senjata dan Bundel Gratis
  • Edisi Terbatas 26 Juni 2026! Borong Ratusan Primogem Gratis Lewat 6 Kode Redeem Genshin Impact Terbaru Ini
  • Duel Hidup-Mati Grup F Piala Dunia 2026: Prediksi Skor dan Statistik Agresif Jepang vs Swedia
  • Borong Primogem Gratis! Segera Tukar 6 Kode Redeem Genshin Impact Terbaru Juni 2026 Ini Sebelum Hangus
  • Regulasi Baru Mulai 1 Juli 2026: Registrasi Kartu SIM Wajib Rekam Wajah, Ini Skema Daftarnya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 26 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Bukan untuk Orang Lemah! Intip Realita ‘Jalur Poros’ Siswa di Pedalaman Asmat Papua

By Aga GustianaJumat, 1 Mei 2026 09:53 WIB4 Mins Read
Siswa di Pedalaman Papua. (Foto: Instagram @malik.wibowo.82)
ADVERTISEMENT

bukamata.di – Di balik rimbunnya hutan bakau dan labirin sungai-sungai yang membelah tanah Papua Selatan, tersimpan sebuah narasi perjuangan yang sunyi. Di Kabupaten Asmat, pendidikan bukan sekadar urusan buku dan papan tulis, melainkan tentang ketangguhan melawan alam dan keterbatasan. Sebuah video yang diunggah oleh Malik Wibowo (@malik.wibowo.82) baru-baru ini menjadi jendela bagi publik untuk melihat betapa mahalnya harga sebuah cita-cita di “Bumi Cendrawasih.”

Perjalanan 3 Jam demi Selembar Ijazah

Siapa yang paling merasakan beratnya medan ini? Mereka adalah para siswa SMP Negeri 2 Pantai Kasuari. Dalam video tersebut, tampak tiga orang siswa yang baru saja menempuh perjalanan ekstrem dari kampung mereka, Kairin.

Apa yang mereka lakukan? Demi mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS), para remaja ini harus rela berjalan kaki selama tiga jam. Namun, ini bukan sekadar jalan santai. Mereka harus melintasi hutan lebat dan “jalur poros” yang tak lebih dari kubangan lumpur sedalam betis orang dewasa. Tanpa alas kaki, mereka meniti batang pohon tumbang yang dijadikan jembatan darurat di atas sungai kecil.

“Ini baru Pak Guru ceritain, sudah muncul. Anak-anak dari Kairin yang besok mau melaksanakan ujian akhir sekolah,” ujar Malik dalam narasinya, menyambut para pejuang pendidikan tersebut dengan nada bangga sekaligus haru.

Baca Juga:  Viral Video ‘3 vs 1’ TKW Taiwan: Jebakan Link Phishing di Balik Konten Sensasional

Menginap di Sekolah: Pilihan di Tengah Keterpencilan

Mengapa mereka harus membawa tas besar, tikar, dan bantal? Di Asmat, jarak antar kampung bisa memakan waktu berjam-jam melalui sungai atau jalur darat yang sulit. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang-pergi setiap hari selama pekan ujian.

Di mana mereka tinggal? Sekolah akhirnya menjadi “rumah kedua.” Para siswa ini meminta izin untuk menginap di kompleks sekolah. Pemandangan siswa yang sedang merapikan tempat tidur sederhana di sudut ruangan kelas menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar mereka melampaui kenyamanan fasilitas yang ada.

Kearifan dan Kesederhanaan di Sela Ujian

Kapan keceriaan itu muncul? Di sela-sela ketegangan ujian, momen istirahat menjadi waktu yang sangat berharga. Malik mendokumentasikan para siswa yang duduk rapi di meja kayu panjang.

Bagaimana kondisi mereka saat istirahat? Menu yang tersaji sangatlah bersahaja: sepotong roti dan segelas minuman ringan. Tidak ada kantin mewah dengan beragam pilihan makanan. Meski begitu, senyum lebar tetap terkembang dari wajah-wajah tulus mereka.

Baca Juga:  Siswa SMAN 5 Bandung Tewas Terkapar di Jalan Cihampelas, Polisi Endus Keterlibatan Kelompok SMAN 2

“Bagaimana rasanya Pace? Enak?” tanya Malik kepada salah satu siswa bernama Pace Cornelis. Dengan singkat namun mantap, ia menjawab, “Enak.” Jawaban sederhana itu seolah membungkam segala keluhan tentang keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari.

Fasilitas di Atas Panggung Kayu

Realitas fisik sekolah di pedalaman Asmat juga menjadi sorotan. Sebagian besar bangunan sekolah, termasuk SMPN 2 Pantai Kasuari, dibangun dengan konsep rumah panggung dari kayu. Hal ini dilakukan karena kondisi tanah yang berawa dan sering tergenang air, terutama saat hujan turun deras.

Dalam salah satu potongan video, terlihat seorang siswa sedang menyapu lantai kayu di depan kantor sekolah. Di bagian lain, tampak seorang guru yang juga bertindak sebagai figur ayah, mendorong sepeda roda tiga milik anak kecil di selasar kayu yang basah karena hujan.

“Ujian ki lur, cuacane kayak gini (Ujian ini teman, cuacanya seperti ini),” ucap Malik dalam bahasa Jawa, menggambarkan suasana sekolah yang sepi karena hujan seringkali menghambat mobilitas warga Asmat.

Baca Juga:  Viral Link Video Mirip Xysil, Tampilkan Aksi Dewasa?

Harapan di Balik Doa untuk Perdamaian

Pesan mendalam juga tersirat dari tulisan “pray for peace in the world” yang disematkan dalam video tersebut. Di tengah tantangan geografis dan ekonomi, para siswa ini tetap menjalankan rutinitas dengan khidmat, termasuk saat melakukan upacara atau apel pagi di lapangan rumput yang becek.

Video ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di sudut terjauh Indonesia, ada anak-anak bangsa yang harus bertaruh nyawa dan tenaga hanya untuk duduk di bangku sekolah. Mereka tidak butuh belas kasihan, melainkan keadilan akses dan fasilitas yang setara.

Langkah kaki di atas lumpur itu mungkin terasa berat, namun bagi anak-anak Asmat, setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Pendidikan di Asmat bukan lagi soal angka di atas kertas, melainkan tentang bagaimana bertahan dan tetap bermimpi di tengah kepungan rimba dan rawa.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

berita viral Kabupaten Asmat Papua Selatan Pendidikan Papua Perjuangan Siswa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Dicari Netizen! Link Video Viral TikTok Ibu Handuk Putih Picu Rasa Penasaran Publik

Kode Redeem FF

Kejutan Akhir Pekan 26 Juni 2026! Klaim Kode Redeem FF Terbaru Ini untuk Dapatkan Skin Senjata dan Bundel Gratis

Edisi Terbatas 26 Juni 2026! Borong Ratusan Primogem Gratis Lewat 6 Kode Redeem Genshin Impact Terbaru Ini

Borong Primogem Gratis! Segera Tukar 6 Kode Redeem Genshin Impact Terbaru Juni 2026 Ini Sebelum Hangus

Regulasi Baru Mulai 1 Juli 2026: Registrasi Kartu SIM Wajib Rekam Wajah, Ini Skema Daftarnya

Saingi Pasar Tablet Murah, Intip Spesifikasi Poco Pad C1 yang Dibanderol Rp2 Jutaan

Terpopuler
  • Viral Handuk Putih Anak vs Ibu, Warganet Berburu Link Asli! Ternyata Isinya Bikin Kaget
  • Viral! Video ‘Handuk Putih Ibu dan Anak’ Bikin Netizen Penasaran, Ini Faktanya
  • Cut Salwa Jadi Trending Topic, Benarkah Ada Video 10 Menit? Ini Fakta yang Terungkap
  • Api Mendadak Berkobar di RM Tamagochi Bandung, Diduga Berawal dari Meja Konsumen
  • Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.