bukamata.di – Di balik rimbunnya hutan bakau dan labirin sungai-sungai yang membelah tanah Papua Selatan, tersimpan sebuah narasi perjuangan yang sunyi. Di Kabupaten Asmat, pendidikan bukan sekadar urusan buku dan papan tulis, melainkan tentang ketangguhan melawan alam dan keterbatasan. Sebuah video yang diunggah oleh Malik Wibowo (@malik.wibowo.82) baru-baru ini menjadi jendela bagi publik untuk melihat betapa mahalnya harga sebuah cita-cita di “Bumi Cendrawasih.”
Perjalanan 3 Jam demi Selembar Ijazah
Siapa yang paling merasakan beratnya medan ini? Mereka adalah para siswa SMP Negeri 2 Pantai Kasuari. Dalam video tersebut, tampak tiga orang siswa yang baru saja menempuh perjalanan ekstrem dari kampung mereka, Kairin.
Apa yang mereka lakukan? Demi mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS), para remaja ini harus rela berjalan kaki selama tiga jam. Namun, ini bukan sekadar jalan santai. Mereka harus melintasi hutan lebat dan “jalur poros” yang tak lebih dari kubangan lumpur sedalam betis orang dewasa. Tanpa alas kaki, mereka meniti batang pohon tumbang yang dijadikan jembatan darurat di atas sungai kecil.
“Ini baru Pak Guru ceritain, sudah muncul. Anak-anak dari Kairin yang besok mau melaksanakan ujian akhir sekolah,” ujar Malik dalam narasinya, menyambut para pejuang pendidikan tersebut dengan nada bangga sekaligus haru.
Menginap di Sekolah: Pilihan di Tengah Keterpencilan
Mengapa mereka harus membawa tas besar, tikar, dan bantal? Di Asmat, jarak antar kampung bisa memakan waktu berjam-jam melalui sungai atau jalur darat yang sulit. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang-pergi setiap hari selama pekan ujian.
Di mana mereka tinggal? Sekolah akhirnya menjadi “rumah kedua.” Para siswa ini meminta izin untuk menginap di kompleks sekolah. Pemandangan siswa yang sedang merapikan tempat tidur sederhana di sudut ruangan kelas menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar mereka melampaui kenyamanan fasilitas yang ada.
Kearifan dan Kesederhanaan di Sela Ujian
Kapan keceriaan itu muncul? Di sela-sela ketegangan ujian, momen istirahat menjadi waktu yang sangat berharga. Malik mendokumentasikan para siswa yang duduk rapi di meja kayu panjang.
Bagaimana kondisi mereka saat istirahat? Menu yang tersaji sangatlah bersahaja: sepotong roti dan segelas minuman ringan. Tidak ada kantin mewah dengan beragam pilihan makanan. Meski begitu, senyum lebar tetap terkembang dari wajah-wajah tulus mereka.
“Bagaimana rasanya Pace? Enak?” tanya Malik kepada salah satu siswa bernama Pace Cornelis. Dengan singkat namun mantap, ia menjawab, “Enak.” Jawaban sederhana itu seolah membungkam segala keluhan tentang keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari.
Fasilitas di Atas Panggung Kayu
Realitas fisik sekolah di pedalaman Asmat juga menjadi sorotan. Sebagian besar bangunan sekolah, termasuk SMPN 2 Pantai Kasuari, dibangun dengan konsep rumah panggung dari kayu. Hal ini dilakukan karena kondisi tanah yang berawa dan sering tergenang air, terutama saat hujan turun deras.
Dalam salah satu potongan video, terlihat seorang siswa sedang menyapu lantai kayu di depan kantor sekolah. Di bagian lain, tampak seorang guru yang juga bertindak sebagai figur ayah, mendorong sepeda roda tiga milik anak kecil di selasar kayu yang basah karena hujan.
“Ujian ki lur, cuacane kayak gini (Ujian ini teman, cuacanya seperti ini),” ucap Malik dalam bahasa Jawa, menggambarkan suasana sekolah yang sepi karena hujan seringkali menghambat mobilitas warga Asmat.
Harapan di Balik Doa untuk Perdamaian
Pesan mendalam juga tersirat dari tulisan “pray for peace in the world” yang disematkan dalam video tersebut. Di tengah tantangan geografis dan ekonomi, para siswa ini tetap menjalankan rutinitas dengan khidmat, termasuk saat melakukan upacara atau apel pagi di lapangan rumput yang becek.
Video ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di sudut terjauh Indonesia, ada anak-anak bangsa yang harus bertaruh nyawa dan tenaga hanya untuk duduk di bangku sekolah. Mereka tidak butuh belas kasihan, melainkan keadilan akses dan fasilitas yang setara.
Langkah kaki di atas lumpur itu mungkin terasa berat, namun bagi anak-anak Asmat, setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Pendidikan di Asmat bukan lagi soal angka di atas kertas, melainkan tentang bagaimana bertahan dan tetap bermimpi di tengah kepungan rimba dan rawa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









