Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Putri KW Mengamuk di Kejuaraan Dunia 2026! De Guzman Dibuat Tak Berkutik

Senin, 17 Agustus 2026 18:08 WIB

Eliano Reijnders Siap Main! Kabar Ini Bikin Igor Tolic Punya Senjata Tambahan Lawan Bali United

Senin, 17 Agustus 2026 17:03 WIB

Duka Gempa Flores M 7,7: Korban Meninggal Tembus 55 Orang, 132 Warga Luka-luka

Senin, 17 Agustus 2026 16:24 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Putri KW Mengamuk di Kejuaraan Dunia 2026! De Guzman Dibuat Tak Berkutik
  • Eliano Reijnders Siap Main! Kabar Ini Bikin Igor Tolic Punya Senjata Tambahan Lawan Bali United
  • Duka Gempa Flores M 7,7: Korban Meninggal Tembus 55 Orang, 132 Warga Luka-luka
  • 32 Tahun Tak Diangkat, Tumpukan Sampah Ditemukan di Saluran Air Bandung
  • Usai Ditutup Berbulan-bulan, Alun-alun Bandung Resmi Dibuka Kembali
  • VIRAL! Buka Baju dan Tantang Duel Karena Parkiran, Identitas Sosok Ini Dikuliti Netizen!
  • 20.500 Narapidana di Jabar Terima Remisi HUT ke-81 RI, 346 Langsung Bebas
  • Cristiano Ronaldo Isyaratkan Pensiun, Sudah Siapkan Hobi Baru
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 17 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Bukan untuk Orang Lemah! Intip Realita ‘Jalur Poros’ Siswa di Pedalaman Asmat Papua

By Aga GustianaJumat, 1 Mei 2026 09:53 WIB4 Mins Read
Siswa di Pedalaman Papua. (Foto: Instagram @malik.wibowo.82)
ADVERTISEMENT

bukamata.di – Di balik rimbunnya hutan bakau dan labirin sungai-sungai yang membelah tanah Papua Selatan, tersimpan sebuah narasi perjuangan yang sunyi. Di Kabupaten Asmat, pendidikan bukan sekadar urusan buku dan papan tulis, melainkan tentang ketangguhan melawan alam dan keterbatasan. Sebuah video yang diunggah oleh Malik Wibowo (@malik.wibowo.82) baru-baru ini menjadi jendela bagi publik untuk melihat betapa mahalnya harga sebuah cita-cita di “Bumi Cendrawasih.”

Perjalanan 3 Jam demi Selembar Ijazah

Siapa yang paling merasakan beratnya medan ini? Mereka adalah para siswa SMP Negeri 2 Pantai Kasuari. Dalam video tersebut, tampak tiga orang siswa yang baru saja menempuh perjalanan ekstrem dari kampung mereka, Kairin.

Apa yang mereka lakukan? Demi mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS), para remaja ini harus rela berjalan kaki selama tiga jam. Namun, ini bukan sekadar jalan santai. Mereka harus melintasi hutan lebat dan “jalur poros” yang tak lebih dari kubangan lumpur sedalam betis orang dewasa. Tanpa alas kaki, mereka meniti batang pohon tumbang yang dijadikan jembatan darurat di atas sungai kecil.

“Ini baru Pak Guru ceritain, sudah muncul. Anak-anak dari Kairin yang besok mau melaksanakan ujian akhir sekolah,” ujar Malik dalam narasinya, menyambut para pejuang pendidikan tersebut dengan nada bangga sekaligus haru.

Menginap di Sekolah: Pilihan di Tengah Keterpencilan

Mengapa mereka harus membawa tas besar, tikar, dan bantal? Di Asmat, jarak antar kampung bisa memakan waktu berjam-jam melalui sungai atau jalur darat yang sulit. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang-pergi setiap hari selama pekan ujian.

Di mana mereka tinggal? Sekolah akhirnya menjadi “rumah kedua.” Para siswa ini meminta izin untuk menginap di kompleks sekolah. Pemandangan siswa yang sedang merapikan tempat tidur sederhana di sudut ruangan kelas menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar mereka melampaui kenyamanan fasilitas yang ada.

Kearifan dan Kesederhanaan di Sela Ujian

Kapan keceriaan itu muncul? Di sela-sela ketegangan ujian, momen istirahat menjadi waktu yang sangat berharga. Malik mendokumentasikan para siswa yang duduk rapi di meja kayu panjang.

Bagaimana kondisi mereka saat istirahat? Menu yang tersaji sangatlah bersahaja: sepotong roti dan segelas minuman ringan. Tidak ada kantin mewah dengan beragam pilihan makanan. Meski begitu, senyum lebar tetap terkembang dari wajah-wajah tulus mereka.

“Bagaimana rasanya Pace? Enak?” tanya Malik kepada salah satu siswa bernama Pace Cornelis. Dengan singkat namun mantap, ia menjawab, “Enak.” Jawaban sederhana itu seolah membungkam segala keluhan tentang keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari.

Fasilitas di Atas Panggung Kayu

Realitas fisik sekolah di pedalaman Asmat juga menjadi sorotan. Sebagian besar bangunan sekolah, termasuk SMPN 2 Pantai Kasuari, dibangun dengan konsep rumah panggung dari kayu. Hal ini dilakukan karena kondisi tanah yang berawa dan sering tergenang air, terutama saat hujan turun deras.

Dalam salah satu potongan video, terlihat seorang siswa sedang menyapu lantai kayu di depan kantor sekolah. Di bagian lain, tampak seorang guru yang juga bertindak sebagai figur ayah, mendorong sepeda roda tiga milik anak kecil di selasar kayu yang basah karena hujan.

“Ujian ki lur, cuacane kayak gini (Ujian ini teman, cuacanya seperti ini),” ucap Malik dalam bahasa Jawa, menggambarkan suasana sekolah yang sepi karena hujan seringkali menghambat mobilitas warga Asmat.

Harapan di Balik Doa untuk Perdamaian

Pesan mendalam juga tersirat dari tulisan “pray for peace in the world” yang disematkan dalam video tersebut. Di tengah tantangan geografis dan ekonomi, para siswa ini tetap menjalankan rutinitas dengan khidmat, termasuk saat melakukan upacara atau apel pagi di lapangan rumput yang becek.

Video ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di sudut terjauh Indonesia, ada anak-anak bangsa yang harus bertaruh nyawa dan tenaga hanya untuk duduk di bangku sekolah. Mereka tidak butuh belas kasihan, melainkan keadilan akses dan fasilitas yang setara.

Langkah kaki di atas lumpur itu mungkin terasa berat, namun bagi anak-anak Asmat, setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Pendidikan di Asmat bukan lagi soal angka di atas kertas, melainkan tentang bagaimana bertahan dan tetap bermimpi di tengah kepungan rimba dan rawa.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

berita viral Kabupaten Asmat Papua Selatan Pendidikan Papua Perjuangan Siswa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

uang rupiah

Daftar 10 Kota dengan Gaji Paling Fantastis di Dunia, Ada dari Indonesia?

Kode Redeem FF Hari Ini 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis Spesial HUT RI ke-8

Harga Emas Antam Hari Ini Stabil, Buyback Rp2,525 Juta per Gram: Cek Daftar Lengkapnya

Pagi-Pagi ke Bandung? 5 Tempat Sarapan Hits Ini Bisa Jadi Pilihan

Berburu Promo 17 Agustus! Ada Makan Rp81 Ribu hingga Buy 1 Free 1 di Restoran Ini

Ga Nyangka! Legenda Kung Fu Beri Penghormatan, Jackie Chan Akhirnya Akui Kekuatan Silat Indonesia

Terpopuler
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Mengenal Susanah, Ibu Pengupas Bawang Asal Bogor yang Disebut Prabowo Diupah Rp700 Ribu per Kg
  • BPRS HIK Parahyangan Akui Hadapi Penyesuaian Likuiditas, Dana Deposito Tetap Jadi Kewajiban
  • Jelang HUT RI ke-81, Warga Cikutra Bikin Terowongan Merah Putih Sepanjang 180 Meter
  • Kode Redeem ML 14 Agustus 2026 Terbaru, Ada Diamond dan Skin Gratis Hari Ini
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.