Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Link Video ‘Bandar Membara Bergetar’ Trending, Warganet Diminta Waspada

Minggu, 3 Mei 2026 16:04 WIB

Bukan Anak Biasa! Aksi Gila Elnathan di Lintasan Slalom Bikin Dunia Skating Heboh

Minggu, 3 Mei 2026 15:12 WIB

Mencekam! Detik-Detik Longsor Hantam Proyek PLTA Upper Cisokan Viral

Minggu, 3 Mei 2026 14:15 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Link Video ‘Bandar Membara Bergetar’ Trending, Warganet Diminta Waspada
  • Bukan Anak Biasa! Aksi Gila Elnathan di Lintasan Slalom Bikin Dunia Skating Heboh
  • Mencekam! Detik-Detik Longsor Hantam Proyek PLTA Upper Cisokan Viral
  • Bojan Hodak Waspada! PSIM Yogyakarta Siap Jadi Ancaman Persib
  • VIRAL! Link Video ‘Bandar Membara Bergetar’, Netizen Ramai Cari Tautan Asli
  • Ricuh May Day Bandung: 6 Pelajar Jadi Tersangka Perusakan Fasilitas Publik
  • TRANSFER MEGA! Persib Siap Borong Pemain Brasil, Belanda hingga Irak
  • Jangan Lewatkan! Kode FF Sultan 3 Mei 2026 Banyak Hadiah Langka
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 3 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Bukan untuk Orang Lemah! Intip Realita ‘Jalur Poros’ Siswa di Pedalaman Asmat Papua

By Aga GustianaJumat, 1 Mei 2026 09:53 WIB4 Mins Read
Siswa di Pedalaman Papua. (Foto: Instagram @malik.wibowo.82)
ADVERTISEMENT

bukamata.di – Di balik rimbunnya hutan bakau dan labirin sungai-sungai yang membelah tanah Papua Selatan, tersimpan sebuah narasi perjuangan yang sunyi. Di Kabupaten Asmat, pendidikan bukan sekadar urusan buku dan papan tulis, melainkan tentang ketangguhan melawan alam dan keterbatasan. Sebuah video yang diunggah oleh Malik Wibowo (@malik.wibowo.82) baru-baru ini menjadi jendela bagi publik untuk melihat betapa mahalnya harga sebuah cita-cita di “Bumi Cendrawasih.”

Perjalanan 3 Jam demi Selembar Ijazah

Siapa yang paling merasakan beratnya medan ini? Mereka adalah para siswa SMP Negeri 2 Pantai Kasuari. Dalam video tersebut, tampak tiga orang siswa yang baru saja menempuh perjalanan ekstrem dari kampung mereka, Kairin.

Apa yang mereka lakukan? Demi mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS), para remaja ini harus rela berjalan kaki selama tiga jam. Namun, ini bukan sekadar jalan santai. Mereka harus melintasi hutan lebat dan “jalur poros” yang tak lebih dari kubangan lumpur sedalam betis orang dewasa. Tanpa alas kaki, mereka meniti batang pohon tumbang yang dijadikan jembatan darurat di atas sungai kecil.

“Ini baru Pak Guru ceritain, sudah muncul. Anak-anak dari Kairin yang besok mau melaksanakan ujian akhir sekolah,” ujar Malik dalam narasinya, menyambut para pejuang pendidikan tersebut dengan nada bangga sekaligus haru.

Baca Juga:  Viral! Perempuan Ngamuk di Masjid Jogokariyan, Bawa-bawa Nama Prabowo

Menginap di Sekolah: Pilihan di Tengah Keterpencilan

Mengapa mereka harus membawa tas besar, tikar, dan bantal? Di Asmat, jarak antar kampung bisa memakan waktu berjam-jam melalui sungai atau jalur darat yang sulit. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang-pergi setiap hari selama pekan ujian.

Di mana mereka tinggal? Sekolah akhirnya menjadi “rumah kedua.” Para siswa ini meminta izin untuk menginap di kompleks sekolah. Pemandangan siswa yang sedang merapikan tempat tidur sederhana di sudut ruangan kelas menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar mereka melampaui kenyamanan fasilitas yang ada.

Kearifan dan Kesederhanaan di Sela Ujian

Kapan keceriaan itu muncul? Di sela-sela ketegangan ujian, momen istirahat menjadi waktu yang sangat berharga. Malik mendokumentasikan para siswa yang duduk rapi di meja kayu panjang.

Bagaimana kondisi mereka saat istirahat? Menu yang tersaji sangatlah bersahaja: sepotong roti dan segelas minuman ringan. Tidak ada kantin mewah dengan beragam pilihan makanan. Meski begitu, senyum lebar tetap terkembang dari wajah-wajah tulus mereka.

Baca Juga:  Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit: Dari TikTok Hingga Ancaman Pidana UU ITE

“Bagaimana rasanya Pace? Enak?” tanya Malik kepada salah satu siswa bernama Pace Cornelis. Dengan singkat namun mantap, ia menjawab, “Enak.” Jawaban sederhana itu seolah membungkam segala keluhan tentang keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari.

Fasilitas di Atas Panggung Kayu

Realitas fisik sekolah di pedalaman Asmat juga menjadi sorotan. Sebagian besar bangunan sekolah, termasuk SMPN 2 Pantai Kasuari, dibangun dengan konsep rumah panggung dari kayu. Hal ini dilakukan karena kondisi tanah yang berawa dan sering tergenang air, terutama saat hujan turun deras.

Dalam salah satu potongan video, terlihat seorang siswa sedang menyapu lantai kayu di depan kantor sekolah. Di bagian lain, tampak seorang guru yang juga bertindak sebagai figur ayah, mendorong sepeda roda tiga milik anak kecil di selasar kayu yang basah karena hujan.

“Ujian ki lur, cuacane kayak gini (Ujian ini teman, cuacanya seperti ini),” ucap Malik dalam bahasa Jawa, menggambarkan suasana sekolah yang sepi karena hujan seringkali menghambat mobilitas warga Asmat.

Baca Juga:  Jagat Maya Geger! Video Kebaya Hitam Viral di TikTok, Netizen Buru Versi Tanpa Sensor

Harapan di Balik Doa untuk Perdamaian

Pesan mendalam juga tersirat dari tulisan “pray for peace in the world” yang disematkan dalam video tersebut. Di tengah tantangan geografis dan ekonomi, para siswa ini tetap menjalankan rutinitas dengan khidmat, termasuk saat melakukan upacara atau apel pagi di lapangan rumput yang becek.

Video ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di sudut terjauh Indonesia, ada anak-anak bangsa yang harus bertaruh nyawa dan tenaga hanya untuk duduk di bangku sekolah. Mereka tidak butuh belas kasihan, melainkan keadilan akses dan fasilitas yang setara.

Langkah kaki di atas lumpur itu mungkin terasa berat, namun bagi anak-anak Asmat, setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Pendidikan di Asmat bukan lagi soal angka di atas kertas, melainkan tentang bagaimana bertahan dan tetap bermimpi di tengah kepungan rimba dan rawa.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

berita viral Kabupaten Asmat Papua Selatan Pendidikan Papua Perjuangan Siswa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Link Video ‘Bandar Membara Bergetar’ Trending, Warganet Diminta Waspada

VIRAL! Link Video ‘Bandar Membara Bergetar’, Netizen Ramai Cari Tautan Asli

Jangan Lewatkan! Kode FF Sultan 3 Mei 2026 Banyak Hadiah Langka

Link Video Viral Batang Membara: Diiming-iming Cuan Rp250 Juta Lewat Telegram

Update Skor! Kode Redeem FC Mobile 3 Mei 2026: Amankan Pack Pemain Bintang dan Ribuan Gems Gratis

Garena Free Fire

Update Hari Ini! Kode Redeem FF 3 Mei 2026: Klaim Emote Langka dan Diamond Gratis Sekarang

Terpopuler
  • Link Video Viral Vell Blunder Durasi Panjang, Waspada Modus Phising!
  • Link Video Bandar Batang Viral! Waspada Phising
  • Link Asli Video Bandar Membara Full Durasi, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Link Video Bandar Batang Membara Viral, Pemeran Sengaja Jual-Beli Konten?
  • Viral ‘Video Bandar Membara’ di Media Sosial, Warganet Cari Link Asli No Sensor
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.