bukamata.id – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat mengambil langkah tegas menyikapi insiden keributan yang melibatkan tiga anggotanya dengan seorang petugas satuan pengamanan (satpam) bernama Fiktor Harefa (27). Peristiwa adu mulut tersebut sempat menyita perhatian publik setelah terjadi di kawasan penyeberangan orang (pelican cross) Halte Transjakarta Bundaran HI, Jakarta, pada Rabu (22/7) siang lalu.
Ketiga oknum aparat yang menumpangi mobil mewah Toyota Alphard tersebut—terdiri dari satu perwira dan dua bintara—kini harus mendekam di tempat khusus guna menjalani pemeriksaan intensif.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, menegaskan bahwa lembaganya tidak memberikan toleransi terhadap tindakan arogan yang mencoreng institusi Polri.
“Saat ini secara tegas dan terukur, kita telah melakukan pemeriksaan kepada yang bersangkutan, pelanggar lalu lintas ini yang arogan di Bundaran HI. Dan saat ini yang bersangkutan sudah kita patsus-kan,” ujar Kombes Hendra Rochmawan kepada awak media, Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Arogansi Berujung Blunder? Fakta Mengejutkan Di balik Mobil Mewah yang Serempet Security Bundaran HI
Lebih lanjut, Kombes Hendra menjelaskan bahwa masa penempatan khusus (patsus) ini akan dimanfaatkan oleh Bidang Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) serta Paminal untuk merampungkan berkas sidang etik sekaligus proses penyidikan lebih lanjut.
“Kita punya kewenangan ada 21 hari patsus di sini, dan sekaligus kita juga telah memproses untuk kode etiknya. Jadi ini dalam proses, dan selanjutnya kita menunggu Bidpropam dan Paminal untuk memproses penyidikannya, sehingga kita bisa proses lebih lanjut,” ungkapnya menambahkan.
Permohonan Maaf Resmi dan Status Kasus yang Berakhir Damai
Atas nama korps kepolisian daerah Jawa Barat, Kombes Hendra turut menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada korban, rekan-rekan seprofesi satpam, serta masyarakat luas yang merasa resah atas viralnya aksi arogansi di jalan raya tersebut.
“Saya mewakili anggota jajaran, mohon maaf kepada teman-teman satpam ya, dan juga pada publik dikarenakan arogansi anggota ini membuat resah. Dan selanjutnya kita akan tindak secara terukur,” tegasnya.
Meski sanksi disiplin dan etik tetap berjalan secara profesional di internal kepolisian, ia memastikan bahwa secara personal permasalahan hukum di lapangan antara pihak korban dan para pelaku telah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Dan untuk kasusnya sendiri ini telah berjalan dengan damai ya, berjalan dengan damai, khusus untuk yang di Jakarta dengan satpam,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









