bukamata.id – Harapan untuk merajut perdamaian antar-suporter melalui slogan “Viking Bonek Satu Hati” kini menemui jalan terjal. Pasca-insiden penyerangan yang menimpa delegasi Viking Persib Club (VPC) di Surabaya pada awal Maret 2026, organisasi suporter tersebut akhirnya mengambil keputusan tegas. Pada Kamis, 5 Maret 2026, VPC resmi menyatakan mengistirahatkan slogan tersebut sebagai bentuk refleksi mendalam atas peristiwa yang baru saja terjadi.
Keputusan ini diambil setelah rombongan VPC yang bertandang ke Surabaya mengalami teror fisik yang tak terduga. Padahal, kunjungan yang berlangsung pada 1 Maret 2026 itu mulanya dirancang sebagai misi silaturahmi, sekaligus bentuk penghormatan terhadap amanat para pendahulu organisasi, termasuk almarhum Ayi Beutik.
Meninjau Ulang Makna Persaudaraan
VPC menegaskan bahwa kehadiran mereka di Surabaya adalah langkah untuk merajut komunikasi yang lebih baik, bukan untuk mencari keributan. Namun, realita di lapangan berkata lain. Adanya dugaan penyerangan oleh oknum tak dikenal membuat VPC memilih untuk menarik diri sejenak.
Dalam pernyataan resminya, VPC menekankan niat awal mereka:
“Kehadiran perwakilan Viking Persib Club di Surabaya merupakan bentuk amanat dan pesan moral para pendahulu kami. Niat kedatangan kami untuk mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan baik antarsuporter, bukan untuk menciptakan konflik,”.
Lebih lanjut, VPC merasa bahwa slogan “Viking Bonek Satu Hati” saat ini belum menemukan momentum yang tepat untuk digaungkan kembali. Mereka memilih untuk mengambil langkah mundur demi keselamatan dan kehormatan organisasi.
“Dengan mempertimbangkan situasi dan realita yang terjadi akhir-akhir ini, serta demi menjaga keselamatan dan kehormatan organisasi, Viking Persib Club menyatakan untuk menjaga jarak dan mengistirahatkan slogan ‘Viking Bonek Satu Hati’. Kami menilai slogan tersebut tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini sehingga perlu waktu untuk merefleksikan kembali cita-cita dari slogan tersebut,”.
VPC juga kembali mengingatkan bahwa esensi sepak bola seharusnya berakhir saat peluit panjang dibunyikan.
“Rivalitas cukup 90 menit di dalam lapangan. Setelah itu kita tetap waras. Rivalitas bukan pembenaran untuk tindakan brutalitas yang berujung pada tindak pidana,”.
Kronologi Kejadian: Dari Buka Puasa Menjadi Teror
Kunjungan VPC sebenarnya dimulai dengan suasana hangat. Pada Minggu, 1 Maret 2026, rombongan diterima dengan baik oleh perwakilan suporter Persebaya di markas Yayasan Suporter Persebaya (YSS) untuk agenda buka puasa bersama. Pertemuan pun berlanjut dengan diskusi bersama kelompok suporter lain, seperti Tribun PSK dan Tribun Kidul.
Namun, situasi berbalik drastis menjelang tengah malam. Saat rombongan sedang memproses check-in di Hotel Oval, Jalan Diponegoro, sekitar pukul 00.30 WIB, mereka disergap oleh sekitar 30 orang tak dikenal yang memaksa masuk ke area lobi.
Dampak dari insiden tersebut:
- Korban Fisik: Seorang anggota Viking Surabaya mengalami luka di bagian kepala dan hidung.
- Kerugian Materil: Berbagai barang pribadi seperti iPhone 11, jaket, sepatu, hingga uang tunai senilai Rp1,5 juta raib. Total kerugian ditaksir mencapai Rp11 juta.
- Respons Keamanan: Polrestabes Surabaya mengerahkan satu pleton Dalmas dan unit Jatanras untuk mengendalikan situasi dini hari itu.
Akibat teror ini, rombongan VPC tidak mendapatkan akses keamanan untuk menyaksikan pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo. Mereka akhirnya meninggalkan Surabaya pada 2 Maret dan memilih menggelar kegiatan nonton bareng di Jombang.
Sikap Tegas Ketua Umum VPC
Menanggapi insiden ini, VPC mengecam keras segala bentuk intimidasi. Mereka sangat menyayangkan adanya pihak-pihak yang mencederai niat baik tersebut.
“Kami menyayangkan adanya pihak-pihak yang tidak menghendaki terjaganya hubungan baik tersebut sehingga terjadi provokasi hingga penyerangan ke hotel tempat perwakilan kami menginap,”.
Ketua Umum VPC, Tobias Ginanjar Sayidina, menegaskan bahwa prinsip organisasi tetap terbuka, namun tidak akan dipaksakan.
“Namun kita tidak mau memaksakan, apalagi sampai mengemis meminta-minta kepada pihak-pihak yang memang tidak mau bersahabat dengan kita,”.
Tobias menambahkan bahwa kunjungan mereka adalah bentuk balasan atas silaturahmi kelompok Bonek sebelumnya ke Bandung. Terkait proses hukum, VPC telah mengonfirmasi bahwa kepolisian telah mengamankan 10 terduga pelaku.
“VPC mempercayakan penanganan kasus ini kepada Polrestabes Surabaya agar dapat diproses secara profesional sesuai hukum yang berlaku,”.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











