bukamata.id- Pagi bagi Sudrajat selalu dimulai dengan cara yang sama. Dari Depok, ia membawa boks es kue titipan bosnya, kemudian naik KRL menuju Jakarta. Sesampainya di stasiun, ia berjalan menyusuri keramaian Kemayoran, Pasar Baru, bahkan kadang sampai Kota Tua.
Rutinitas ini dijalani Sudrajat sejak 2007. Hampir tiga dekade hidupnya bergantung pada es warna-warni yang dibawanya ke jalanan. Dari boks es itulah dapurnya mengepul.
Namun Sabtu, 24 Januari 2026, langkahnya terhenti oleh tuduhan yang tak pernah ia bayangkan: es kue yang dijualnya disebut berbahan spons dan beracun.
“Dia belaga-belaga beli es kue,” ujar Sudrajat, dikutip Rabu (28/1/2026).
Yang dimaksud adalah aparat yang menangkap Sudrajat dan sempat viral di media sosial karena tuduhan itu.
Ia menuturkan awal kejadian yang berujung fitnah. Seorang pembeli mengambil lima es, tak lama kemudian seorang anak berteriak, “Pak, ini es racun.” Sudrajat merasa pembelian itu bukan kebetulan, melainkan pancingan.
Di tengah keramaian, ia dikelilingi orang berseragam. “Saya tidak membawa apa pun selain boks es di tangan,” ujarnya. Gambaran itu terasa kontras: seorang pria 50 tahun, pedagang es keliling, dihadapkan aparat, mencoba meyakinkan bahwa dagangannya aman.
“Lama-lama saya dikepung, ditonjok,” kata Sudrajat.
Ia menyebut yang memukul bukan hanya polisi, tetapi juga seorang anggota TNI. Ia ditarik, dikerumuni, lalu dibawa menggunakan ambulans ke Polsek Kemayoran. Namun kekerasan terjadi di pos terdekat, bukan di kantor polisi.
“Di pos, dekat-dekat situ,” ujarnya. Di sana, ia dipaksa mengakui bahwa es yang dijualnya berbahan spons dan disuruh memakannya.
“Suruh makan. Saya bilang bukan spons, itu es beneran,” tutur Sudrajat lirih.
Ia mengaku dipukul, ditendang sepatu bot, dan disabet selang di dada hingga tiga kali. Sudrajat juga sempat ‘dikurung’ sekitar satu jam. Kalimat yang paling diingatnya:
“Jangan sekali-sekali lagi dagang sini. Kalau dagang sini, saya tarik lagi,” kata Sudrajat menirukan aparat.
Menjelang dini hari, ia dilepas. Sudrajat pulang naik kereta dan tiba di rumah sekitar pukul empat pagi. Tidak ada pemeriksaan medis atas kekerasan yang dialaminya. Ia menunjukkan bagian dada dan kakinya yang masih terasa sakit, bahkan wajahnya sempat lebam. Setelah kondisinya memburuk, ia diberi uang Rp300 ribu oleh atasan polisi di lokasi.
“Sudah bonyok baru dikasih duit,” katanya.
Empat hari kemudian, Sudrajat berhenti berjualan. Bukan karena dagangan habis, tetapi trauma.
“Pusing kepala saya. Kapok,” ujarnya. Padahal, Kemayoran adalah wilayah langganannya. Setiap hari ia bisa meraup keuntungan Rp200–300 ribu. Es yang diambil dari bosnya di Depok seharga Rp500 per buah dijual Rp2.000, laba Rp1.500.
Kini, ia berencana mengubah rute dagang ke Mangga Besar dan Sawah Besar, menghindari lokasi kejadian. “Besok saya dagang lagi,” katanya.
Aparat TNI-Polri Minta Maaf
Aparat yang terlibat, Babinsa Kelurahan Utan Panjang Serda Hari Purnomo dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa Aiptu Ikhwan Mulyadi, menyampaikan permintaan maaf di Aula Mako Polsek Kemayoran, Senin (26/1/2026).
“Kami, Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang bertugas dan membuat video tentang penjual es hunkue yang diduga berbahan spons di wilayah Kemayoran, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul akibat video yang sempat beredar luas di media sosial,” ujar Aiptu Ikhwan.
Ia menambahkan, tindakan itu semata untuk memastikan keamanan warga dan mencegah potensi bahaya, namun dilakukan terlalu cepat tanpa menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
“Kami turut merasakan bagaimana situasi ini dapat mempengaruhi usaha dan kehidupan beliau sebagai pedagang kecil yang mencari nafkah untuk keluarga,” kata Ikhwan, sekaligus meminta maaf jika video menimbulkan keresahan atau kesalahpahaman.
Hasil Pemeriksaan: Es Aman Dikonsumsi
Penyelidikan polisi menunjukkan es kue yang dijual Sudrajat aman. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra mengatakan Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya memeriksa seluruh sampel es kue, es gabus, agar-agar, dan cokelat.
“Hasilnya jelas. Produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak mengandung zat berbahaya,” kata Roby, Minggu (25/1). Tim penyidik juga menelusuri tempat pembuatan es di Depok dan memastikan tidak ada penggunaan spons seperti yang beredar di media sosial.
“Hasilnya tetap konsisten: tidak ada penggunaan bahan berbahaya maupun material spons,” ujarnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










