bukamata.id – Pemerintah Kabupaten Cianjur resmi memberlakukan status tanggap darurat bencana kekeringan. Langkah ini diambil sebagai respons atas meluasnya krisis air bersih yang kini melanda 14 kecamatan di wilayah tersebut akibat kemarau panjang yang berlangsung sejak Juni 2026.
Krisis Meluas ke Berbagai Penjuru
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur menunjukkan adanya penurunan debit air yang drastis, baik pada aliran sungai maupun sumber air bawah tanah. Wilayah yang terdampak pun cukup variatif, mulai dari area perkotaan hingga pelosok desa.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Cianjur, Taufik Zuhrizal, merinci bahwa krisis ini telah menyentuh berbagai titik geografis, termasuk wilayah Cianjur Utara dan pesisir selatan.
“Tidak hanya wilayah perkotaan, tapi wilayah Cianjur Utara seperti Sukaresmi dan wilayah pesisir selatan yakni Agrabinta juga mengalami kekeringan. Berdasarkan laporan yang masuk, ada 14 kecamatan yang terdampak,” ujar Taufik, Senin (20/7/2026).
Beberapa wilayah lain yang terdampak di antaranya adalah Ciranjang, Cibeber, Cibinong, Sukaluyu, Gekbrong, Campakamulya, hingga Kadupandak.
Baca Juga: 7 Fakta Gurita Mafia Dapur MBG di Cianjur, Catut Nama Pejabat BGN dan Tarik Setoran Ratusan Juta
Langkah Cepat Pemerintah Daerah
Kepala BPBD Kabupaten Cianjur, Iwan Karyadi, menjelaskan bahwa penetapan status tanggap darurat dilakukan guna mempercepat mobilisasi bantuan dan penanganan di lapangan. Status ini dijadwalkan berlangsung selama periode krusial kemarau.
“Karena sudah belasan kecamatan yang terdampak, maka kami terbitkan status tanggal darurat kekeringan. Mulai berlaku 15 Juli 2026 lalu hingga akhir September 2026,” tutur Iwan.
Pihak BPBD saat ini menginstruksikan masyarakat di zona rawan untuk mulai mengoptimalkan sumber air alternatif, seperti sumur bor, kolam retensi, maupun bendungan yang ada di lingkungan sekitar sebagai cadangan kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga: Menawan dan Sejuk, Ini 5 Rekomendasi Tempat Wisata Hits di Cianjur yang Wajib Dikunjungi
Kewaspadaan Bencana Lanjutan
Di balik upaya penanggulangan kekeringan, BPBD Cianjur juga mulai melakukan pemetaan risiko untuk fase peralihan musim mendatang. Iwan menyoroti risiko munculnya retakan tanah akibat suhu ekstrem yang berpotensi menjadi titik awal pergerakan tanah saat curah hujan kembali tinggi nantinya.
“Jadi tidak hanya antisipasi kekeringan selama kemarau, kami juga petakan wilayah rawan longsor dan pergerakan tanah di peralihan musim nanti. Karena retakan tanah yang terkena hujan deras dalam kurun waktu berjam-jam, dapat berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









