Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Telepon Masuk Bikin Rapat Mendadak Diskors, Purbaya Tak Lama Kemudian Dicopot dari Menkeu

Senin, 14 September 2026 22:54 WIB

Punclut Bandung Kebakaran! Asap Membubung ke Arah Permukiman Warga

Senin, 14 September 2026 22:43 WIB

Bukan Cuma Cari Pemain! John Herdman Ungkap Pengalaman Tak Terlupakan di Laga Persija vs Persib

Senin, 14 September 2026 22:26 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Telepon Masuk Bikin Rapat Mendadak Diskors, Purbaya Tak Lama Kemudian Dicopot dari Menkeu
  • Punclut Bandung Kebakaran! Asap Membubung ke Arah Permukiman Warga
  • Bukan Cuma Cari Pemain! John Herdman Ungkap Pengalaman Tak Terlupakan di Laga Persija vs Persib
  • Bikin Jalan Bandung Menyempit, Pembangunan Halte BRT Cicadas Ditarget Rampung 2 Minggu
  • Andre Taulany Nikah Lagi?! Ini Sosok Calon Istri Ketua Geng Prediksi
  • Misi Balas Kekalahan dari Persija? Persib Langsung Latihan Setibanya di Korea
  • Resmi Jabat Menkeu, Suahasil Nazara Singgung Peluang Tinjau Ulang Kebijakan Mutasi Purbaya Yudhi Sadewa
  • Purbaya Diganti! Suahasil Nazara Kini Pegang Kursi Menteri Keuangan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 15 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Cianjur Tetapkan Status Tanggap Darurat Kekeringan, 14 Kecamatan Terdampak Krisis Air

By Aga GustianaSenin, 20 Juli 2026 14:30 WIB2 Mins Read
Ilustrasi musim kemarau. (Foto: net)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Kabupaten Cianjur resmi memberlakukan status tanggap darurat bencana kekeringan. Langkah ini diambil sebagai respons atas meluasnya krisis air bersih yang kini melanda 14 kecamatan di wilayah tersebut akibat kemarau panjang yang berlangsung sejak Juni 2026.

Krisis Meluas ke Berbagai Penjuru

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur menunjukkan adanya penurunan debit air yang drastis, baik pada aliran sungai maupun sumber air bawah tanah. Wilayah yang terdampak pun cukup variatif, mulai dari area perkotaan hingga pelosok desa.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Cianjur, Taufik Zuhrizal, merinci bahwa krisis ini telah menyentuh berbagai titik geografis, termasuk wilayah Cianjur Utara dan pesisir selatan.

“Tidak hanya wilayah perkotaan, tapi wilayah Cianjur Utara seperti Sukaresmi dan wilayah pesisir selatan yakni Agrabinta juga mengalami kekeringan. Berdasarkan laporan yang masuk, ada 14 kecamatan yang terdampak,” ujar Taufik, Senin (20/7/2026).

Baca Juga:  Puncak Musim Hujan Februari 2025, BPBD Minta Masyarakat Waspada Bencana Hidrometeorologi

Beberapa wilayah lain yang terdampak di antaranya adalah Ciranjang, Cibeber, Cibinong, Sukaluyu, Gekbrong, Campakamulya, hingga Kadupandak.

Baca Juga: 7 Fakta Gurita Mafia Dapur MBG di Cianjur, Catut Nama Pejabat BGN dan Tarik Setoran Ratusan Juta

Langkah Cepat Pemerintah Daerah

Kepala BPBD Kabupaten Cianjur, Iwan Karyadi, menjelaskan bahwa penetapan status tanggap darurat dilakukan guna mempercepat mobilisasi bantuan dan penanganan di lapangan. Status ini dijadwalkan berlangsung selama periode krusial kemarau.

Baca Juga:  Bencana Hidrometeorologi Landa Pantura, BNPB Bakal Modifikasi Cuaca Mulai 16-20 Maret

“Karena sudah belasan kecamatan yang terdampak, maka kami terbitkan status tanggal darurat kekeringan. Mulai berlaku 15 Juli 2026 lalu hingga akhir September 2026,” tutur Iwan.

Pihak BPBD saat ini menginstruksikan masyarakat di zona rawan untuk mulai mengoptimalkan sumber air alternatif, seperti sumur bor, kolam retensi, maupun bendungan yang ada di lingkungan sekitar sebagai cadangan kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga: Menawan dan Sejuk, Ini 5 Rekomendasi Tempat Wisata Hits di Cianjur yang Wajib Dikunjungi

Baca Juga:  Dukung Kelancaran Pilkada, BPBD Jabar Dorong Pemda Tingkatkan Kesiapsiagaan Potensi Bencana

Kewaspadaan Bencana Lanjutan

Di balik upaya penanggulangan kekeringan, BPBD Cianjur juga mulai melakukan pemetaan risiko untuk fase peralihan musim mendatang. Iwan menyoroti risiko munculnya retakan tanah akibat suhu ekstrem yang berpotensi menjadi titik awal pergerakan tanah saat curah hujan kembali tinggi nantinya.

“Jadi tidak hanya antisipasi kekeringan selama kemarau, kami juga petakan wilayah rawan longsor dan pergerakan tanah di peralihan musim nanti. Karena retakan tanah yang terkena hujan deras dalam kurun waktu berjam-jam, dapat berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bencana Hidrometeorologi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Telepon Masuk Bikin Rapat Mendadak Diskors, Purbaya Tak Lama Kemudian Dicopot dari Menkeu

Punclut Bandung Kebakaran! Asap Membubung ke Arah Permukiman Warga

Bikin Jalan Bandung Menyempit, Pembangunan Halte BRT Cicadas Ditarget Rampung 2 Minggu

Resmi Jabat Menkeu, Suahasil Nazara Singgung Peluang Tinjau Ulang Kebijakan Mutasi Purbaya Yudhi Sadewa

Purbaya Diganti! Suahasil Nazara Kini Pegang Kursi Menteri Keuangan

Viral Pasutri Bandung Disebut Tinggal di Makam, Fakta Sebenarnya Terungkap

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Gemuruh GBLA Bikin Merinding, Balsa Sekulic Terpukau oleh Militansi Bobotoh Persib
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
  • Uang Mertua Rp17 Miliar Raib, Shabrina Adfi Buka Suara Soal Kejahatan Perbankan di BTN
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.