bukamata.id – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, berdiri sebuah jembatan ikonik yang dulunya merupakan simbol inovasi kota ramah pejalan kaki: Teras Cihampelas. Diresmikan pada 4 Februari 2017, proyek ini sempat mencuri perhatian nasional sebagai skywalk pertama di Indonesia, sekaligus perwujudan mimpi besar dari sosok Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil.
Ketika Bandung Ingin Berjalan Lebih Tinggi
Dibangun di atas Jalan Cihampelas sepanjang kurang lebih 450 meter, Teras Cihampelas tak sekadar menjadi jembatan layang. Ia lahir dari gagasan besar menciptakan kota yang nyaman bagi pejalan kaki. Dulu, tempat ini ramai dikunjungi warga dan wisatawan yang menikmati sore sambil berbelanja atau sekadar berswafoto dengan latar pemandangan kota.
Tak sedikit warga yang merindukan masa-masa ketika Teras Cihampelas menjadi ruang publik kebanggaan. Di sanalah cita rasa urban, UMKM lokal, dan atmosfer santai berpadu dalam harmoni.
Rp 74 Miliar dan Harapan yang Dibangun
Teras Cihampelas dibangun dengan dana awal sekitar Rp45 miliar, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Pemerintah Pusat. Tahap kedua kemudian menyusul pada 2018 dengan tambahan Rp23 miliar dari APBD, dan terakhir pada 2023 pemerintah kembali mengucurkan Rp3 miliar untuk menyempurnakan fasilitas yang belum rampung.
Total anggaran yang tercatat menembus Rp74 miliar. Biaya fantastis ini menggambarkan betapa besarnya harapan pemerintah terhadap proyek ini sebagai pusat UMKM, ruang kreativitas, dan simbol modernisasi ruang kota.

Ridwan Kamil dan Cita Kota Ramah Manusia
Ridwan Kamil, yang menjabat sebagai Wali Kota kala itu, membayangkan Teras Cihampelas sebagai titik awal revolusi ruang publik perkotaan. Ia bermimpi membangun Bandung menjadi kota yang tidak didominasi kendaraan, tetapi memberi ruang lebih untuk manusia berjalan, berinteraksi, dan berkreasi.
Konsepnya berani, menjadikan Teras Cihampelas sebagai mal terbuka gratis untuk warga. “Kalau kota ingin manusiawi, maka buatlah ruang yang memuliakan pejalan kaki,” kata RK.
Namun, seiring waktu, impian itu tampak kehilangan pijakan.
Dari Ikon Urban ke Proyek yang Terlupakan
Beberapa tahun setelah diresmikan, Teras Cihampelas mulai kehilangan pamor. Banyak pedagang kembali turun ke jalan karena fasilitas yang belum siap, terutama di malam hari. Toiletnya rusak, pencahayaan minim, dan tak ada jaminan keamanan. Revitalisasi yang dilakukan pun seolah tidak menyentuh akar masalah.
Meskipun sempat dirombak pada September 2023 dengan konsep empat zona tematik — dari runway fashion, arena drone, hingga ruang sejarah — Teras Cihampelas tetap gagal menarik perhatian publik seperti dulu.
Sosok Plt Wali Kota, Ema Sumarna sempat meresmikan wajah barunya, namun tak lama kemudian tempat itu kembali sepi, gelap, dan nyaris tak terurus.
Dibongkar Saja?
Kini, nasib Teras Cihampelas kembali jadi sorotan. Wali Kota Bandung saat ini, Muhammad Farhan, bahkan menyampaikan wacana pembongkaran karena dinilai tak sesuai dengan kaidah tata ruang. Ia menyebut kawasan Cihampelas, yang seharusnya bisa dilestarikan sebagai jalan bersejarah dengan lanskap alami, justru terganggu oleh struktur jembatan besar ini.
“Saya mah bukan ahli ya, tetapi rasa-rasanya, saya sebagai pengguna jalan merasa seperti ada yang salah dengan Teras Cihampelas,” ujar Farhan, Kamis (3/7/2025).
Farhan mengaku akan berkonsultasi dengan DPRD dan instansi terkait sebelum mengambil keputusan besar. Pelepasan aset bukan hal mudah, tapi opsi pembongkaran mulai dilirik sebagai solusi paling masuk akal.
Sembari menunggu keputusan, Farhan memastikan kebersihan, pencahayaan, dan keamanan tetap dijaga 24 jam di lokasi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











