bukamata.id – Di tengah gegap gempita balapan dunia, satu nama muda dari Indonesia mendadak jadi perbincangan.
Veda Ega Pratama, remaja asal Gunungkidul, mencetak sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang meraih podium di ajang Moto3 World Championship seri Brasil 2026.
Lebih dari sekadar podium, kisah Veda adalah perjalanan panjang penuh perjuangan dari lintasan sederhana hingga panggung dunia. Tak heran, ia kini dijuluki sebagai “Marc Marquez kecil”.
Dari Suara Mesin Sejak Kecil hingga Lintasan Sederhana
Veda lahir di Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 23 November 2008. Dunia balap bukan hal baru baginya. Sejak usia empat tahun, ia sudah akrab dengan suara mesin, warisan dari sang ayah, Sudarmono.
Namun, perjalanan itu jauh dari kemewahan.
Alih-alih berlatih di sirkuit megah, Veda kecil ditempa di area parkir Pasar Hewan Siyono Harjo, Playen. Di tempat sederhana itulah fondasi mental dan teknik balapnya dibangun sejak 2016.
Dari motocross di usia dini, lalu beralih ke road race pada usia sembilan tahun, Veda menunjukkan satu hal yang jarang dimiliki pembalap muda: konsistensi.
Hasilnya mulai terlihat ketika ia meraih gelar juara nasional kelas pemula di usia 11 tahun—titik awal yang mengubah arah kariernya.
Meledak di Asia Talent Cup dan Red Bull Rookies Cup
Nama Veda mulai dikenal luas saat tampil di Idemitsu Asia Talent Cup. Debutnya pada 2021 langsung menjanjikan dengan finis di posisi kedelapan klasemen akhir.
Namun lonjakan performa terjadi dalam dua musim berikutnya:
- 2022: finis peringkat ketiga
- 2023: juara dengan 256 poin (rekor tertinggi sepanjang sejarah ATC)
Tak hanya itu, ia mencatat sembilan kemenangan dalam satu musim—sebuah dominasi yang membuatnya dilirik ke level lebih tinggi.
Langkah berikutnya adalah Red Bull Rookies Cup, ajang prestisius yang kerap menjadi gerbang menuju MotoGP.
Di sinilah mental bertandingnya benar-benar teruji. Pada musim 2024, ia sudah mampu meraih podium di Austria. Lalu pada 2025, ia mencetak kemenangan bersejarah di Sirkuit Mugello.
Kemenangan itu menjadi sinyal kuat: Indonesia memiliki calon bintang dunia.
Momen Bersejarah: Podium Moto3 Brasil 2026
Puncak perhatian datang saat seri kedua Moto3 2026 di Sirkuit Ayrton Senna.
Balapan berlangsung dramatis. Pada start pertama, Veda tampil agresif, langsung merangsek ke barisan depan. Namun, ia sempat kehilangan ritme dan turun ke posisi kesembilan.
Situasi berubah ketika balapan dihentikan (red flag) akibat insiden yang melibatkan pembalap lain.
Restart menjadi titik balik.
Memulai dari posisi ke-10 dalam balapan lima lap, Veda tampil jauh lebih tenang dan matang. Satu per satu pembalap dilewatinya hingga masuk tiga besar.
Di lap terakhir, ia melakukan manuver krusial dengan menyalip Alvaro Carpe dari tim Red Bull KTM Ajo.
Hasilnya: podium ketiga.
Sebuah pencapaian bersejarah bagi Indonesia.
Disaksikan Langsung oleh Marc Marquez
Momen emosional Veda semakin lengkap karena disaksikan langsung oleh juara dunia MotoGP, Marc Marquez.
Nama besar itu bukan sekadar penonton biasa. Gaya balap Veda yang agresif, berani, namun tetap terukur, membuatnya kerap dibandingkan dengan pembalap asal Spanyol tersebut.
Julukan “Marc Marquez kecil” pun lahir.
Salah satu momen yang memperkuat julukan itu terjadi di Qatar pada 2022, saat Veda tampil berani memimpin balapan dan akhirnya meraih podium pertamanya di Asia Talent Cup.
Reaksi Warganet: Dari “Bocah Ajaib” hingga Harapan Indonesia
Prestasi Veda langsung disambut antusias publik. Kolom komentar media sosial dipenuhi dukungan dan rasa bangga.
Salah satu warganet menulis:
“Dia membuktikan mimpinya jadi pembalap top dunia. Jalan terjal, tapi dia mampu. Selamat Veda!”
Komentar lain menyebutnya sebagai:
“Awal yang baik, semoga bisa podium pertama.”
Bahkan tak sedikit yang menjulukinya:
“Bocah ajaib.”
Respon ini menunjukkan satu hal: Veda bukan sekadar pembalap, tapi simbol harapan baru motorsport Indonesia.
Masa Depan Cerah Menuju MotoGP
Podium di Moto3 Brasil 2026 bukan garis akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih besar.
Dengan usia yang masih sangat muda, pengalaman internasional yang terus bertambah, serta mental juara yang sudah teruji, peluang Veda untuk melangkah ke Moto2 hingga MotoGP terbuka lebar.
Jika konsistensi terjaga, bukan tidak mungkin Indonesia akan memiliki pembalap tetap di kelas utama MotoGP dalam beberapa tahun ke depan.
Dan ketika itu terjadi, nama Veda Ega Pratama akan selalu diingat sebagai pelopornya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










