Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Mengenal Pembagian Desil 1 sampai 10: Syarat Penerima PKH, Sembako, hingga PBI JKN Terbaru

Senin, 24 Agustus 2026 12:16 WIB

Gempuran Bantuan Udara: Enam Pesawat TNI AU Diterbangkan Tembus Wilayah Bencana NTT dan Kalimantan

Senin, 24 Agustus 2026 11:12 WIB

Ramon Tanque Tak Takut Lawan Manila Digger, Tapi Ada Satu Hal yang Bikin Penyerang Persib Kecewa

Senin, 24 Agustus 2026 10:53 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Mengenal Pembagian Desil 1 sampai 10: Syarat Penerima PKH, Sembako, hingga PBI JKN Terbaru
  • Gempuran Bantuan Udara: Enam Pesawat TNI AU Diterbangkan Tembus Wilayah Bencana NTT dan Kalimantan
  • Ramon Tanque Tak Takut Lawan Manila Digger, Tapi Ada Satu Hal yang Bikin Penyerang Persib Kecewa
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Aturan Tak Melarang Tapi Calon Kadet Dipaksa Lepas Hijab? Teka-Teki Polemik Seragam di Unhan
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Banjir Item Gratis! Deretan Kode Redeem Free Fire Terbaru Hari Ini 24 Agustus 2026
  • Harga Emas Antam Hari Ini 24 Agustus 2026 Stabil, 1 Gram Tembus Rp2,78 Juta di Pegadaian
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 24 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Dari Tangan Petani ke Tawa Anak-anak: Kube yang Menjadi Sekolah Tanpa Dinding di Pojok Kota Baru Parahyangan

By Putra JuangRabu, 6 Agustus 2025 16:52 WIB3 Mins Read
Bale Seni Barli
Sejumlah siswa tengah belajar menanam di Kube Eduwisata, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (6/8/2025). (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Suara bakiak kayu berderit, langkah-langkah kecil berusaha seirama, lalu jatuh berdebam di tanah. Tawa pecah, lebih nyaring daripada suara pistol bambu yang meletus beberapa meter di sampingnya.

Di bawah terik matahari Padalarang, anak-anak SDIT Lukmanul Hakim berlarian di halaman Kube Eduwisata, Kota Baru Parahyangan. Wajah mereka merah, peluh bercucuran, tetapi sorot matanya penuh cahaya. Seakan dunia yang selama ini hanya mereka lihat lewat layar gawai mendadak menjadi nyata: kelinci lincah, bunga matahari tegak menjulang, dan permainan tradisional yang kembali hidup.

Raya, bocah kelas lima, berhenti sejenak. Matanya menatap bunga matahari dengan takjub.

“Baru pertama kali lihat langsung. Biasanya dari gambar atau YouTube. Ternyata besar sekali,” katanya di Kube, Rabu (6/8/2025).

Hari itu, bagi anak-anak kota, adalah perjumpaan dengan sesuatu yang mereka kira sudah hilang. Namun bagi para petani, yang mengelola Kube, hari itu adalah jawaban dari kerja panjang menjaga tanah dan pengetahuan.

Lahir dari Keresahan Kolektif

Kube—singkatan dari Kelompok Usaha Bersama—lahir bukan dari rencana wisata instan, melainkan dari serikat petani yang ingin mengikat kembali generasi muda pada tanah. Mereka tahu, sawah dan kebun bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar yang luas.

Di tengah arus modernisasi, ketika lahan pertanian makin terdesak beton, para petani di kawasan ini bersepakat membangun ruang bersama. Mereka menanam sayuran, bunga matahari, dan tanaman herbal; merawat kelinci, kambing, dan ayam; lalu menyulapnya menjadi media belajar bagi siapa saja yang datang.

“Antusias anak-anak tinggi sekali. Kami memang merancang kegiatan agar mereka bisa belajar bercocok tanam, membuat sabun herbal, juga mencoba permainan tradisional,” ujar Nining Suningsih, salah satu penggerak Kube.

Ucapannya sederhana, namun di baliknya ada kisah gotong royong petani yang berusaha menjaga kesinambungan hidup. Agrowisata menjadi pilihan di tengah cepatnya roda modernissasi.

Hilman, guru pendamping, menatap murid-muridnya dengan lega. “Pembelajaran tidak harus di kelas,” katanya.

Ia tahu, tanah merah yang diinjak anak-anak hari itu adalah hasil jerih payah orang-orang yang selama ini menjaga agar lahan tak sepenuhnya hilang digerus pembangunan.

Kontras dengan kota begitu terasa. Di Bandung, anak-anak lebih sering duduk diam di depan gawai, tertawa pada layar gim, atau menonton video tanpa jeda. Di Padalarang, mereka tertawa karena jatuh dari bakiak kayu buatan petani.

Permainan tradisional itu pun punya akar. Dahulu, bakiak adalah hiburan murah di kampung-kampung, dimainkan di jalan tanah selepas panen. Kini, ia dihidupkan kembali oleh tangan petani yang sadar, warisan budaya tak bisa bertahan tanpa dimainkan generasi berikutnya.

Bagi Raya, pengalaman itu sederhana: bermain, tertawa, lalu kagum. Tetapi di balik kesederhanaan itu, ada usaha besar serikat petani yang memutuskan untuk tidak hanya menanam pangan, tetapi juga menanam ingatan dan kebersamaan.

Senja mulai turun. Cahaya kuning menimpa bunga matahari, menambah megah kelopak yang sudah besar. Raya masih berdiri, tersenyum, seolah tak ingin hari itu berakhir.

Ia pulang bukan hanya membawa cendera mata, melainkan cerita yang akan ia kenang lama: tentang bakiak kayu yang membuatnya jatuh, sabun herbal dari bunga matahari, dan wajah-wajah petani yang dengan sabar menuntunnya.

Kube, yang lahir dari ikatan petani, telah menjelma sekolah tanpa dinding. Ia adalah ruang di mana tawa anak-anak bersambut dengan doa orang-orang yang setiap hari hidup dari tanah.

Dan dari pertemuan itu, harapan tumbuh: bahwa di masa depan, anak-anak tak akan asing lagi pada bunga matahari, tanah merah, atau bakiak kayu yang mengajarkan keseimbangan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Mengenal Pembagian Desil 1 sampai 10: Syarat Penerima PKH, Sembako, hingga PBI JKN Terbaru

Game Free Fire

Banjir Item Gratis! Deretan Kode Redeem Free Fire Terbaru Hari Ini 24 Agustus 2026

Harga Emas Antam Hari Ini 24 Agustus 2026 Stabil, 1 Gram Tembus Rp2,78 Juta di Pegadaian

Dari Sopir Perusahaan hingga ‘Bestie’ Jackie Chan, Perjalanan Karier Iko Uwais Tembus Panggung Film Dunia

Garena Free Fire

Auto Cuan Hadiah! Kode Redeem Free Fire 23 Agustus 2026, Ada 50 Evolution Stone Menanti

Ilustrasi emas antam

Naik Lagi! Ini Daftar Harga Emas Pegadaian dan Galeri24 Hari Ini, Minggu 23 Agustus 2026

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Jabar Masih Dibelit Masalah, Kehadiran Dedi Mulyadi di NTT Dinilai Tak Urgent
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.