Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Rekomendasi 15 Tempat Wisata Bandung Terpopuler untuk Mengisi Liburan Akhir Pekan

Minggu, 11 Oktober 2026 01:00 WIB

Aksi Mbappe ke Kelab Malam saat Cedera Bikin Fans Madrid Geram, Respon Menohok Mourinho Jadi Sorotan

Sabtu, 10 Oktober 2026 21:02 WIB

Jadwal Persib vs Dewa United: Kebugaran Thom Haye dkk Jadi Taruhan!

Sabtu, 10 Oktober 2026 20:56 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Rekomendasi 15 Tempat Wisata Bandung Terpopuler untuk Mengisi Liburan Akhir Pekan
  • Aksi Mbappe ke Kelab Malam saat Cedera Bikin Fans Madrid Geram, Respon Menohok Mourinho Jadi Sorotan
  • Jadwal Persib vs Dewa United: Kebugaran Thom Haye dkk Jadi Taruhan!
  • Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas
  • Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian
  • Bukan Ratu Biasa! Inilah Sosok Suthida, Permaisuri Thailand Pemegang Kendali Jet Tempur
  • Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit
  • Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 11 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Dari Tangan Petani ke Tawa Anak-anak: Kube yang Menjadi Sekolah Tanpa Dinding di Pojok Kota Baru Parahyangan

By Putra JuangRabu, 6 Agustus 2025 16:52 WIB3 Mins Read
Bale Seni Barli
Sejumlah siswa tengah belajar menanam di Kube Eduwisata, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (6/8/2025). (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Suara bakiak kayu berderit, langkah-langkah kecil berusaha seirama, lalu jatuh berdebam di tanah. Tawa pecah, lebih nyaring daripada suara pistol bambu yang meletus beberapa meter di sampingnya.

Di bawah terik matahari Padalarang, anak-anak SDIT Lukmanul Hakim berlarian di halaman Kube Eduwisata, Kota Baru Parahyangan. Wajah mereka merah, peluh bercucuran, tetapi sorot matanya penuh cahaya. Seakan dunia yang selama ini hanya mereka lihat lewat layar gawai mendadak menjadi nyata: kelinci lincah, bunga matahari tegak menjulang, dan permainan tradisional yang kembali hidup.

Raya, bocah kelas lima, berhenti sejenak. Matanya menatap bunga matahari dengan takjub.

“Baru pertama kali lihat langsung. Biasanya dari gambar atau YouTube. Ternyata besar sekali,” katanya di Kube, Rabu (6/8/2025).

Hari itu, bagi anak-anak kota, adalah perjumpaan dengan sesuatu yang mereka kira sudah hilang. Namun bagi para petani, yang mengelola Kube, hari itu adalah jawaban dari kerja panjang menjaga tanah dan pengetahuan.

Lahir dari Keresahan Kolektif

Kube—singkatan dari Kelompok Usaha Bersama—lahir bukan dari rencana wisata instan, melainkan dari serikat petani yang ingin mengikat kembali generasi muda pada tanah. Mereka tahu, sawah dan kebun bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar yang luas.

Di tengah arus modernisasi, ketika lahan pertanian makin terdesak beton, para petani di kawasan ini bersepakat membangun ruang bersama. Mereka menanam sayuran, bunga matahari, dan tanaman herbal; merawat kelinci, kambing, dan ayam; lalu menyulapnya menjadi media belajar bagi siapa saja yang datang.

“Antusias anak-anak tinggi sekali. Kami memang merancang kegiatan agar mereka bisa belajar bercocok tanam, membuat sabun herbal, juga mencoba permainan tradisional,” ujar Nining Suningsih, salah satu penggerak Kube.

Ucapannya sederhana, namun di baliknya ada kisah gotong royong petani yang berusaha menjaga kesinambungan hidup. Agrowisata menjadi pilihan di tengah cepatnya roda modernissasi.

Hilman, guru pendamping, menatap murid-muridnya dengan lega. “Pembelajaran tidak harus di kelas,” katanya.

Ia tahu, tanah merah yang diinjak anak-anak hari itu adalah hasil jerih payah orang-orang yang selama ini menjaga agar lahan tak sepenuhnya hilang digerus pembangunan.

Kontras dengan kota begitu terasa. Di Bandung, anak-anak lebih sering duduk diam di depan gawai, tertawa pada layar gim, atau menonton video tanpa jeda. Di Padalarang, mereka tertawa karena jatuh dari bakiak kayu buatan petani.

Permainan tradisional itu pun punya akar. Dahulu, bakiak adalah hiburan murah di kampung-kampung, dimainkan di jalan tanah selepas panen. Kini, ia dihidupkan kembali oleh tangan petani yang sadar, warisan budaya tak bisa bertahan tanpa dimainkan generasi berikutnya.

Bagi Raya, pengalaman itu sederhana: bermain, tertawa, lalu kagum. Tetapi di balik kesederhanaan itu, ada usaha besar serikat petani yang memutuskan untuk tidak hanya menanam pangan, tetapi juga menanam ingatan dan kebersamaan.

Senja mulai turun. Cahaya kuning menimpa bunga matahari, menambah megah kelopak yang sudah besar. Raya masih berdiri, tersenyum, seolah tak ingin hari itu berakhir.

Ia pulang bukan hanya membawa cendera mata, melainkan cerita yang akan ia kenang lama: tentang bakiak kayu yang membuatnya jatuh, sabun herbal dari bunga matahari, dan wajah-wajah petani yang dengan sabar menuntunnya.

Kube, yang lahir dari ikatan petani, telah menjelma sekolah tanpa dinding. Ia adalah ruang di mana tawa anak-anak bersambut dengan doa orang-orang yang setiap hari hidup dari tanah.

Dan dari pertemuan itu, harapan tumbuh: bahwa di masa depan, anak-anak tak akan asing lagi pada bunga matahari, tanah merah, atau bakiak kayu yang mengajarkan keseimbangan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Rekomendasi 15 Tempat Wisata Bandung Terpopuler untuk Mengisi Liburan Akhir Pekan

Bukan Ratu Biasa! Inilah Sosok Suthida, Permaisuri Thailand Pemegang Kendali Jet Tempur

The Next Maarten Paes? Aksi Latihan Kiper Cilik Paling Unik dan Keren Se-Indonesia!

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos

Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan

Transformasi Penyaluran Bansos: Cukup Pakai KTP, Proses Verifikasi Rampung dalam Hitungan Menit

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.