Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Guncang Bursa Transfer! Persib Umumkan Perpisahan dengan Rezaldi Hehanussa

Minggu, 28 Juni 2026 16:32 WIB

Hanya Sun Tangan Tanpa Pelukan, Interaksi Oki Setiana Dewi dan Ory Vitrio Picu Isu Rumah Tangga!

Minggu, 28 Juni 2026 15:40 WIB

Garena Bagi-Bagi Hadiah Hari Ini! Kode Redeem FF 28 Juni 2026 Berhadiah Skin, Diamond, dan Emote Langka

Minggu, 28 Juni 2026 15:15 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Guncang Bursa Transfer! Persib Umumkan Perpisahan dengan Rezaldi Hehanussa
  • Hanya Sun Tangan Tanpa Pelukan, Interaksi Oki Setiana Dewi dan Ory Vitrio Picu Isu Rumah Tangga!
  • Garena Bagi-Bagi Hadiah Hari Ini! Kode Redeem FF 28 Juni 2026 Berhadiah Skin, Diamond, dan Emote Langka
  • Persib Masih Diblokir FIFA, Nasib Rekrutan Baru di Ujung Tanduk
  • Daftar Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Resmi Lengkap, Ini Jadwal Pertandingannya
  • Link Video Viral Ibu dan Anak Handuk Putih di TikTok Ramai Dicari, Ini Fakta Sebenarnya
  • Bukan Penyiksaan? Ini Penjelasan Komnas Perempuan Soal Kasus YTR Bandung
  • Bos Hartono Angkat Topi, Koleksi Ikan Irfan Hakim Rajai All Indonesia Young Koi Show 2026!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 28 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Dari Tangan Petani ke Tawa Anak-anak: Kube yang Menjadi Sekolah Tanpa Dinding di Pojok Kota Baru Parahyangan

By Putra JuangRabu, 6 Agustus 2025 16:52 WIB3 Mins Read
Bale Seni Barli
Sejumlah siswa tengah belajar menanam di Kube Eduwisata, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (6/8/2025). (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Suara bakiak kayu berderit, langkah-langkah kecil berusaha seirama, lalu jatuh berdebam di tanah. Tawa pecah, lebih nyaring daripada suara pistol bambu yang meletus beberapa meter di sampingnya.

Di bawah terik matahari Padalarang, anak-anak SDIT Lukmanul Hakim berlarian di halaman Kube Eduwisata, Kota Baru Parahyangan. Wajah mereka merah, peluh bercucuran, tetapi sorot matanya penuh cahaya. Seakan dunia yang selama ini hanya mereka lihat lewat layar gawai mendadak menjadi nyata: kelinci lincah, bunga matahari tegak menjulang, dan permainan tradisional yang kembali hidup.

Raya, bocah kelas lima, berhenti sejenak. Matanya menatap bunga matahari dengan takjub.

“Baru pertama kali lihat langsung. Biasanya dari gambar atau YouTube. Ternyata besar sekali,” katanya di Kube, Rabu (6/8/2025).

Hari itu, bagi anak-anak kota, adalah perjumpaan dengan sesuatu yang mereka kira sudah hilang. Namun bagi para petani, yang mengelola Kube, hari itu adalah jawaban dari kerja panjang menjaga tanah dan pengetahuan.

Lahir dari Keresahan Kolektif

Kube—singkatan dari Kelompok Usaha Bersama—lahir bukan dari rencana wisata instan, melainkan dari serikat petani yang ingin mengikat kembali generasi muda pada tanah. Mereka tahu, sawah dan kebun bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar yang luas.

Di tengah arus modernisasi, ketika lahan pertanian makin terdesak beton, para petani di kawasan ini bersepakat membangun ruang bersama. Mereka menanam sayuran, bunga matahari, dan tanaman herbal; merawat kelinci, kambing, dan ayam; lalu menyulapnya menjadi media belajar bagi siapa saja yang datang.

“Antusias anak-anak tinggi sekali. Kami memang merancang kegiatan agar mereka bisa belajar bercocok tanam, membuat sabun herbal, juga mencoba permainan tradisional,” ujar Nining Suningsih, salah satu penggerak Kube.

Ucapannya sederhana, namun di baliknya ada kisah gotong royong petani yang berusaha menjaga kesinambungan hidup. Agrowisata menjadi pilihan di tengah cepatnya roda modernissasi.

Hilman, guru pendamping, menatap murid-muridnya dengan lega. “Pembelajaran tidak harus di kelas,” katanya.

Ia tahu, tanah merah yang diinjak anak-anak hari itu adalah hasil jerih payah orang-orang yang selama ini menjaga agar lahan tak sepenuhnya hilang digerus pembangunan.

Kontras dengan kota begitu terasa. Di Bandung, anak-anak lebih sering duduk diam di depan gawai, tertawa pada layar gim, atau menonton video tanpa jeda. Di Padalarang, mereka tertawa karena jatuh dari bakiak kayu buatan petani.

Permainan tradisional itu pun punya akar. Dahulu, bakiak adalah hiburan murah di kampung-kampung, dimainkan di jalan tanah selepas panen. Kini, ia dihidupkan kembali oleh tangan petani yang sadar, warisan budaya tak bisa bertahan tanpa dimainkan generasi berikutnya.

Bagi Raya, pengalaman itu sederhana: bermain, tertawa, lalu kagum. Tetapi di balik kesederhanaan itu, ada usaha besar serikat petani yang memutuskan untuk tidak hanya menanam pangan, tetapi juga menanam ingatan dan kebersamaan.

Senja mulai turun. Cahaya kuning menimpa bunga matahari, menambah megah kelopak yang sudah besar. Raya masih berdiri, tersenyum, seolah tak ingin hari itu berakhir.

Ia pulang bukan hanya membawa cendera mata, melainkan cerita yang akan ia kenang lama: tentang bakiak kayu yang membuatnya jatuh, sabun herbal dari bunga matahari, dan wajah-wajah petani yang dengan sabar menuntunnya.

Kube, yang lahir dari ikatan petani, telah menjelma sekolah tanpa dinding. Ia adalah ruang di mana tawa anak-anak bersambut dengan doa orang-orang yang setiap hari hidup dari tanah.

Dan dari pertemuan itu, harapan tumbuh: bahwa di masa depan, anak-anak tak akan asing lagi pada bunga matahari, tanah merah, atau bakiak kayu yang mengajarkan keseimbangan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Hanya Sun Tangan Tanpa Pelukan, Interaksi Oki Setiana Dewi dan Ory Vitrio Picu Isu Rumah Tangga!

Garena Bagi-Bagi Hadiah Hari Ini! Kode Redeem FF 28 Juni 2026 Berhadiah Skin, Diamond, dan Emote Langka

Link Video Viral Ibu dan Anak Handuk Putih di TikTok Ramai Dicari, Ini Fakta Sebenarnya

Update Harga Emas Hari Ini! Emas Perhiasan 24 Karat Masih Bertahan, Saatnya Beli?

Game Free Fire

Gas Keun! Kode Redeem FF Terbaru 28 Juni 2026, Klaim Token SG2 dan Bundle Keren Gratis Sebelum Hangus

Update Hari Ini! Kode Redeem Genshin Impact 28 Juni 2026, Buruan Klaim Primogems Gratis Sebelum Hangus

Terpopuler
  • Viral Handuk Putih Anak vs Ibu, Warganet Berburu Link Asli! Ternyata Isinya Bikin Kaget
  • Viral! Video ‘Handuk Putih Ibu dan Anak’ Bikin Netizen Penasaran, Ini Faktanya
  • Cut Salwa Jadi Trending Topic, Benarkah Ada Video 10 Menit? Ini Fakta yang Terungkap
  • Jangan Klik Link Ini! Tren Viral TikTok ‘Handuk Putih’ Picu Ancaman Phishing Serius
  • Link Video Ibu dan Anak Handuk Putih Banyak Dicari, Waspadai Modus Phishing
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.