Peringatan: Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menginspirasi Anda melakukan tindakan serupa. Jika mengalami depresi atau bermasalah dengan kesehatan jiwa, segera hubungi layanan kesehatan mental terdekat. Kementerian Kesehatan menyediakan layanan kesehatan mental dan bunuh diri di healing119.id.
bukamata.id – Selasa pagi, 10 Februari 2026, denyut nadi Kota Bandung terhenti sejenak oleh bunyi dentum keras yang menghantam aspal lapangan futsal Kelurahan Tamansari. Di bawah bayang-bayang beton raksasa Jalan Layang Pasupati, warga yang semula mengira ada benda jatuh, justru mendapati pemandangan memilukan: seorang remaja laki-laki berjaket hitam tergeletak tak berdaya dekat kandang ayam.
Remaja berusia 17 tahun asal Cimahi itu adalah siswa SMK yang menambah daftar panjang angka fatalitas kesehatan mental di Jawa Barat. Ia sempat memarkir motornya di tepi jalan layang setinggi 60 meter tersebut, berdiri di pembatas jalan, dan mengabaikan teriakan dua pengendara motor yang mencoba menghentikannya. Ia melompat, menyusul empat nyawa muda lainnya yang hilang dalam kurun waktu lima bulan terakhir di Jawa Barat.
Tragedi ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah alarm keras bagi sistem perlindungan anak di provinsi dengan penduduk lebih dari 51 juta jiwa ini. Di tengah duka yang masih basah, publik kini menoleh ke arah Gedung Sate, menagih janji politik yang pernah diucapkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Rapuh” di Tengah Kecepatan Instan
Rentetan kasus yang tersebar di Bandung, Cianjur, dan Sukabumi sejak September 2025 hingga Februari 2026 melibatkan anak-anak dari usia 10 hingga 19 tahun. Mereka adalah bagian dari Generasi Alfa—generasi yang lahir dan tumbuh dalam dekapan teknologi tinggi, namun tampaknya memiliki ketahanan mental yang tipis.
Psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indrianie, menyoroti adanya pergeseran drastis pada struktur kerja otak generasi ini. Menurutnya, Gen Alfa terbiasa dengan segala sesuatu yang serba cepat dan instan berkat bantuan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi.
”Kondisi tersebut membentuk pola kerja otak yang terbiasa pada kecepatan dan hasil yang cepat. Akibatnya, Gen Alfa ketika menghadapi tantangan hidup yang lebih besar, sistem kerja otak mereka belum cukup siap untuk mengimbanginya dengan kekuatan mental yang memadai,” papar Efnie dikutip Minggu (15/2/2026).
Masalahnya bukan hanya soal individu, melainkan sistemik. Data Pemerintah Kota Bandung pada periode Agustus-Oktober 2025 menunjukkan angka yang mengerikan: 48,19 persen atau sekitar 71.433 siswa SD hingga SMA terindikasi mengalami gangguan kesehatan jiwa. Artinya, hampir satu dari dua pelajar di Bandung sedang tidak baik-baik saja secara mental.
Antara Janji 200 Psikolog dan Realitas Lapangan
Di tengah krisis ini, publik teringat pada komitmen ambisius Gubernur Jabar Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM. Pada 18 Juli 2025, dalam sebuah acara di Trans Convention Center Bandung, KDM menjanjikan terobosan besar: menempatkan satu psikolog di setiap SMA dan SMK negeri.
“Jadi ada 200 psikolog yang akan saya terjunkan ke sekolah-sekolah. Rupanya guru BK tidak cukup untuk menangani anak hari ini. Nanti setiap sekolah saya rencanakan didampingi satu orang psikolog anak,” ujar Dedi saat itu.
Namun, memasuki Februari 2026, janji tersebut dinilai masih sebatas retorika. Maula Yusuf Erwinsyah, Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, mengkritik keras lambannya realisasi program ini. Ia melihat pola kasus bunuh diri di Pasupati hampir identik dengan kasus di Garut tahun lalu, namun penanganannya masih jalan di tempat.
“Gubernur kita menjanjikan penempatan psikolog di setiap SMA dan SMK untuk mencegah bunuh diri dan kenakalan pelajar. Tapi hingga saat ini belum ada langkah nyata,” tegas Maula.
Maula menilai, ketimbang mengejar program baru yang memakan biaya besar namun lambat eksekusi, pemerintah seharusnya melakukan standardisasi ulang pada guru Bimbingan Konseling (BK).
“Guru BK harus menjadi ruang aman bagi siswa untuk bercerita, mengetahui kondisi lemah dan krusial seluruh siswa di sekolahnya,” tambahnya.
Kritik dari Menara Gading: Pendidikan Sebagai Transaksi
Pakar Pendidikan dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Fadhli Muttaqien, memberikan perspektif yang lebih tajam. Ia melihat fenomena bunuh diri pelajar di Jawa Barat sebagai cerminan dari lanskap pendidikan Indonesia yang sedang sakit. Menurutnya, pengadaan psikolog profesional memang baik sebagai langkah hilir, namun tidak menyentuh akar permasalahan (hulu).
“Khususnya di Jawa Barat, memang kita sedang dipertontonkan satu lanskap pendidikan Indonesia yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. Ada permasalahan MBG, guru honorer, kemudian yang baru-baru ini di NTT, artinya ada pemasalahan psikologis yang terjadi bukan hanya transformasi ilmu pengetahuan,” ujarnya kepada bukamata.id, Sabtu (14/2/2026).
Ia mengkritik sistem pendidikan yang kini cenderung menjadi produk bisnis yang bersifat transaksional—murid belajar hanya untuk mengejar nilai, dan guru memberikan nilai tanpa benar-benar memperhatikan kondisi psikologis secara detail.
“Yang harus kita pertanyakan, apakah benar ini sebagai langkah preventif atau ini hanya sebagai langkah citra saja? Ditempatkan tanpa ada kurikulum sekolah yang mengikat. Jadi bukan hanya sekedar menempatkan, tetapi buatkan ini sebagai satu integrasi dengan sistem kurikulum dan sistem sekolah kita,” kritik Fadhli terhadap wacana 200 psikolog tersebut.
Fadhli menekankan bahwa gangguan mental pada murid seringkali dipicu oleh iklim sekolah yang tidak sehat atau hubungan yang terputus antara sekolah dan orang tua. Ia menyarankan agar dibangun “lingkaran koneksi” yang terintegrasi antara guru, orang tua, dan murid.
Di akhir pernyataannya, Fadhli berharap pemerintah menjadikan pendidikan sebagai prioritas strategis, bukan sekadar pelengkap pembangunan fisik.
“Harapannya adalah jadikan pendidikan itu juga sebagai jalan untuk memperbaiki Jabar, atau membuat Jabar mejadi lebih baik, jadikan pendidikan juga sebagai faktor utama, bukan hanya infrastruktur fisik saja yang dibangun tapi pendidikan juga dipandang juga penting sebagai jalan menuju kemajuan,” ujarnya.
Ruang yang Menyempit, Tekanan yang Melebar
Kritik lain datang dari Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar, Siti Muntamah. Ia melihat masalah kesehatan mental di Jawa Barat tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekologi dan demografi. Dengan penduduk melampaui 51 juta jiwa, ruang hidup bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri semakin terhimpit.
”Ruang bermain dan berekspresi semakin sulit ditemukan, terutama di kawasan padat penduduk. Ketika anak kehilangan ruang aman untuk bermain dan berinteraksi, tekanan psikologis mulai terbentuk sejak usia dini,” ucap Siti.
Kota Bandung, dengan kepadatan tinggi dan kompetisi sosial yang luar biasa ketat, menjadi kawah candradimuka yang brutal bagi remaja yang belum memiliki mekanisme pertahanan diri yang kuat. Media sosial kemudian datang memperkeruh suasana dengan menyuguhkan standar hidup yang tak realistis dan budaya instan.
Menunggu Langkah Nyata
Gubernur Dedi Mulyadi sendiri menyatakan keprihatinannya dan mengakui adanya kelemahan dalam perlindungan anak serta dampak negatif media sosial yang tak terkendali. Namun, pernyataan prihatin saja tidak akan menyelamatkan nyawa berikutnya yang mungkin sedang berdiri di tepi pembatas jalan layang atau di ambang keputusasaan di kamar mereka.
Tragedi di Pasupati adalah bukti bahwa krisis kesehatan mental di Jawa Barat sudah mencapai level darurat. Janji menempatkan 200 psikolog ditunggu realisasinya bukan sebagai “kosmetik politik”, melainkan sebagai kebutuhan mendesak yang terintegrasi dalam sistem pendidikan.
Jawa Barat tidak hanya butuh jembatan beton yang megah untuk mobilitas kendaraan, tapi butuh “jembatan emosional” yang kokoh antara pemerintah, sekolah, dan keluarga. Tanpa itu, pendidikan di Jawa Barat hanya akan menjadi pabrik yang menghasilkan angka-angka nilai, namun gagal menjaga nyawa generasi masa depannya.
Apakah Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit? Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat atau manfaatkan layanan darurat Kementerian Kesehatan di 119 atau portal healing119.id. Anda tidak sendirian.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











