bukamata.id – Di tengah sorotan kasus OTT Immanuel Ebenezer, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengeluarkan pernyataan mengejutkan yang menyamakan perilaku koruptif politisi dengan masyarakat umum.
Peristiwa ini terjadi saat Kang Dedi menghadiri seminar dan expo Hilirisasi Agroforestri Berbasis Sukun di Bale Sawala, Universitas Padjajaran, Sumedang.
Rakyat dan Politisi, Sama-sama Serakah
Dalam seminar tersebut, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa sifat serakah dan koruptif tidak hanya melekat pada elite politik, tetapi juga ditemukan pada rakyat biasa, hanya berbeda pada tingkat kekuasaan.
“Rakyat ini sama dengan kita, sama buasnya, sama serakahnya cuma beda tingkatan kekuasaannya,” ujar Dedi Mulyadi dikutip dari Instagram @pembasmi.kehaluan.reall pada Sabtu (23/8/2025).
Menurut Dedi, pengalamannya hidup dan bekerja di tengah masyarakat selama bertahun-tahun membuatnya memahami karakter rakyat secara mendalam.
“Karena, saya hidup dengan mereka. Saya tahu karakter mereka,” tambah Kang Dedi.
Contoh Nyata Penyalahgunaan Fasilitas
Dedi Mulyadi mencontohkan beberapa kasus konkret yang ditemuinya di lapangan. Salah satunya adalah penyalahgunaan fasilitas gratis yang diberikan pemerintah.
“Ketika dikasih lapak satu, mereka ngambil lima,” jelasnya, menyoroti perilaku mengambil lebih dari hak yang seharusnya diterima.
Selain itu, Kang Dedi juga menceritakan pengalaman menata pasar. Fasilitas pasar gratis yang seharusnya digunakan secara langsung oleh pedagang, justru disewakan kembali untuk keuntungan pribadi.
“Saya pernah kasih pasar gratis, pasar yang dia punya disewakan. Terus dia dagang di trotoar,” ungkapnya.
Korupsi dan Nepotisme Ada di Semua Tingkatan
Dari pengalaman tersebut, Dedi Mulyadi menyimpulkan bahwa bibit-bibit korupsi dan nepotisme bukan hanya ada di politik, melainkan juga tertanam di masyarakat luas. Ia menekankan perlunya perbaikan kultur secara menyeluruh, dari atas hingga bawah.
“Jadi, sifat korupsi, sifat nepotisme tidak hanya milik politisi kayak Dedi Mulyadi tapi rakyat juga memilikinya,” kata Dedi.
Respons Warganet
Pernyataan Kang Dedi memicu beragam tanggapan dari warganet. Beberapa setuju, sementara yang lain memberi kritik.
“Gimana ya pak, mungkin (tidak membenarkan) mereka gitu karena keadaan. Tidak difasilitasi, enggak punya kesempatan, enggak disejahterakan. Coba mulai dulu dari kalian yang gampang berubah. Kalian sesulit apa sih sampai harus korupsi?” tulis @dewdew***.
“Gini amat punya pejabat,” komentar @rmdhn***.
“Aku sependapat dengan bapak, enggak usah jauh-jauh pak. Saudara sendiri aja serakah, apalagi sama warisan,” imbuh @rajum***.
“Bener, beda porsinya aja, Semua tentang kesempatan,” tambah @miss***.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










