bukamata.id – Menjelang pengumuman keputusan banding yang diajukan Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kepada FIFA, situasi di dunia sepak bola Malaysia semakin memanas. Banding tersebut diajukan terkait kasus dugaan pemalsuan dokumen yang melibatkan tujuh pemain naturalisasi tim nasional.
Keputusan akhir dari FIFA diperkirakan akan keluar pada Kamis, 30 Oktober 2025, sebagaimana disampaikan oleh Serge Vittoz, pengacara olahraga internasional yang mewakili FAM dalam proses banding ini.
Vittoz menegaskan bahwa langkah banding tersebut bertujuan untuk membatalkan keputusan sebelumnya, bukan untuk membantah keberadaan dokumen yang dipermasalahkan. Ia menekankan bahwa FAM berupaya mempertahankan haknya sebagai organisasi yang tidak terlibat langsung dalam tindakan pemalsuan tersebut.
Baca Juga: Menanti Vonis FIFA: Nasib Malaysia di Ujung Tanduk, FAM Bakal Banding ke CAS?
Penggemar Malaysia Cemas Menunggu Putusan
Sementara itu, publik sepak bola Malaysia kini menanti hasil keputusan FIFA dengan penuh ketegangan. Sejumlah tokoh menilai ada kemungkinan FIFA justru menjatuhkan sanksi yang lebih berat, meskipun para pendukung berharap keputusan tersebut dapat meringankan hukuman yang telah dijatuhkan.
Banding FAM sendiri diajukan pada 14 Oktober 2025, dan menjadi harapan terakhir bagi federasi untuk memperjuangkan keringanan hukuman terhadap mereka maupun tujuh pemain yang terlibat. Namun, berbagai pihak juga menyadari bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Komite Banding FIFA.
Peluang Kecil untuk Pembatalan Sanksi
Pemilik klub Johor Darul Ta’zim (JDT), Tunku Ismail Sultan Ibrahim, menilai peluang FIFA untuk sepenuhnya membatalkan sanksi sangat kecil. Ia memperkirakan hasil terbaik yang bisa didapat FAM hanyalah pengurangan hukuman, baik bagi federasi maupun para pemain.
Sebelumnya, FIFA telah menjatuhkan denda finansial kepada FAM dan tujuh pemain naturalisasi, disertai skorsing selama 12 bulan bagi para pemain tersebut.
Harapan Pemulihan Karier Para Pemain
Menurut Dr. Zulakbal Abdul Karim, pakar sepak bola asal Malaysia, pengurangan masa skorsing akan memberikan kesempatan bagi para pemain untuk memulihkan karier dan performa mereka lebih cepat. Ia menjelaskan bahwa dalam dunia olahraga, terdapat konsep reversibilitas — penurunan kondisi fisik akibat berhentinya latihan dalam jangka waktu tertentu.
“Jika seorang pemain berhenti berlatih selama dua atau tiga minggu saja, kebugarannya sudah menurun signifikan,” ujarnya, dikutip dari Nst.com.my.
“Larangan selama setahun jelas akan berdampak besar pada kondisi fisik. Jika masa larangan dikurangi, para pemain bisa kembali berlatih dan bermain lebih cepat.”
Zulakbal menambahkan bahwa para pemain yang berada pada usia emas kariernya akan lebih mudah beradaptasi jika masa skorsing dipersingkat, misalnya menjadi enam bulan. Namun, ia juga menyoroti bahwa pemulihan reputasi dan nilai pasar pemain memerlukan waktu yang jauh lebih lama.
Sebagai contoh, Facundo Garces dari Deportivo Alaves mengalami penurunan nilai pasar setelah dijatuhi sanksi, sedangkan Rodrigo Holgado dari America de Cali bahkan diberi cuti tanpa gaji oleh klubnya.
“Masa depan para pemain ini jelas terdampak,” kata Zulakbal. “Nilai pasar menurun, pendapatan berkurang, dan waktu yang hilang tidak bisa dikembalikan. Namun, dengan dukungan yang tepat, kondisi fisik mereka masih bisa dipulihkan.”
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










