bukamata.id – Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, memperbarui data terbaru terkait penanganan bencana longsor Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Dalam konferensi pers yang digelar Kamis, 29 Januari 2026 menjelang Magrib, Ade menyampaikan bahwa pada hari keenam pencarian, tim SAR berhasil menemukan dua bodypack korban longsor.
Kedua bodypack tersebut ditemukan di worksite atau sektor pencarian A1. Selain itu, tim juga menemukan satu jenazah lain di sektor B1. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, jenazah tersebut diduga merupakan jenazah lama dan tidak termasuk korban longsor Pasirlangu sehingga tidak dimasukkan dalam rekapitulasi data korban.
“Jenazah tetap dievakuasi agar dapat dikebumikan kembali secara layak oleh pihak keluarga,” ujar Ade.
Ia memperkirakan jenazah tersebut berasal dari makam pribadi yang terbawa material longsor hingga masuk ke area pencarian.
Hingga hari keenam operasi SAR, total korban yang telah ditemukan mencapai 55 bodypack, sementara 25 korban lainnya masih dalam proses pencarian.
Pencarian Terkendala Cuaca
Ade menjelaskan, proses pencarian pada hari tersebut dilakukan dengan skema on-off akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terus mengguyur lokasi pencarian dan berpotensi membahayakan keselamatan tim.
Jika hujan turun dan terdapat indikasi rawan longsor susulan, pencarian dihentikan sementara dan akan dilanjutkan kembali setelah kondisi dinyatakan aman.
Ia juga menambahkan, hingga pukul 16.00 WIB, 41 dari total 42 bodypack telah berhasil diidentifikasi oleh Tim DVI Polda Jawa Barat.
Warga Terdampak Minta Huntara Segera Direalisasikan
Sementara itu, warga terdampak longsor Desa Pasirlangu berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan hunian sementara (Huntara) agar mereka tidak terus-menerus tinggal di posko pengungsian.
Harapan tersebut disampaikan Dadan Hermawan (52), warga Kampung Pasirkuning RT 2 RW 12. Meski rumahnya tidak hancur akibat longsor yang terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026, Dadan mengaku tempat tinggalnya masih berada di zona rawan longsor susulan.
“Rasa tidak aman membuat kami tetap mengungsi. Harapannya, warga yang rumahnya terancam juga bisa mendapatkan Huntara,” ujarnya.
Dadan juga berharap Huntara dilengkapi fasilitas pendukung seperti alas tidur dan jamban, agar warga dapat tinggal dengan lebih layak dan nyaman. Selain faktor keamanan, kondisi pengungsian yang padat membuatnya kesulitan beristirahat.
“Gaduh bumi butut ge bumi sorangan,” ucapnya, menggambarkan keinginan untuk tinggal di tempat yang lebih aman meski sederhana.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










