bukamata.id – Ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat mendadak senyap saat amar tuntutan dibacakan. Nama Nadiem Anwar Makarim, sosok yang selama ini identik dengan digitalisasi dan inovasi pendidikan, kini terseret dalam pusaran kasus pengadaan laptop Chromebook dan layanan Chrome Device Management (CDM). Tak main-main, Jaksa Penuntut Umum (JPU) melayangkan tuntutan 18 tahun penjara—sebuah angka yang memicu gelombang tanya, haru, sekaligus kemarahan di ruang publik.
Pelukan di Lobby Pengadilan: “Pahlawan Ekonomi Kami”
Di tengah dinginnya dinding pengadilan, sebuah pemandangan kontras terjadi di lobby gedung. Bukan para pejabat atau politisi yang pertama kali menyambut Nadiem usai sidang tuntutan pada Rabu (13/5/2026), melainkan puluhan pengemudi ojek online (ojol). Dengan jaket hijau yang legendaris, mereka hadir bukan untuk demonstrasi, melainkan memberikan dukungan moral bagi mantan “bos” mereka.
“Kami selalu ada, Pak,” ujar salah satu driver sembari merangkul Nadiem. Pria yang pernah menduduki kursi CEO Gojek itu tampak tak kuasa membendung air mata. Ia membalas pelukan para driver tersebut, sosok-sosok yang pernah ia sebut sebagai tulang punggung ekonomi digital Indonesia.
Bagi mereka, Nadiem bukan sekadar terdakwa korupsi; ia adalah revolusioner yang mengubah nasib jutaan orang di jalanan. “Apapun yang terjadi, Pak Nadiem pahlawan saya, pahlawan ekonomi saya. Tetap di hati!” teriak driver lainnya, mengiringi langkah Nadiem yang harus segera menuju rumah sakit untuk menjalani operasi kelimanya.
Suara Para Bintang: Dari Dian Sastro hingga Maudy Ayunda
Dukungan untuk Nadiem tidak hanya menggema di jalanan, tapi juga riuh di jagat maya. Sederet selebritas papan atas yang dikenal kritis dan berpendidikan tinggi turut menyuarakan keresahan mereka.
Dian Sastrowardoyo, melalui unggahan Insta Story-nya, mempertanyakan bagaimana hukum menilai sebuah kebijakan yang diambil dengan itikad baik (good faith policy judgment). “Pemerintah tidak pernah bekerja dengan perfect information dan perfect institution,” tulis pemeran Cinta dalam Ada Apa Dengan Cinta tersebut.
Senada dengan Dian, Maudy Ayunda mengungkapkan rasa sedihnya yang mendalam. Ia menyebut tuntutan ini sebagai momen yang memilukan bagi orang-orang cerdas yang berniat tulus membangun negeri. “Hati saya hancur berkeping-keping untuk Indonesia dan orang-orang kecil yang berbakat di negeri ini,” tulis Maudy.
Bahkan, komedian dan sutradara Ernest Prakasa menyentil logika hukum dengan membandingkan tuntutan Nadiem dengan kasus pidana lainnya. “Bagaimana bisa tuntutannya lebih berat dari pembunuh?” tanyanya lugas. Nama-nama seperti Jerome Polin, Ferry Irwandi, hingga Inul Daratista pun turut meramaikan diskursus ini, menciptakan narasi bahwa hukum di Indonesia sedang berada dalam titik krusial.
Profil Nadiem Makarim: Sang Inovator yang Terantuk Regulasi
Lahir di Singapura, 4 Juli 1984, Nadiem Anwar Makarim adalah representasi generasi “berlian” Indonesia. Lulusan Harvard Business School ini memulai kariernya di McKinsey & Company sebelum akhirnya menciptakan fenomena Gojek pada 2011. Keberhasilannya mengubah cara masyarakat bertransportasi membawanya ke kursi menteri pada tahun 2019.
Selama menjabat sebagai Mendikbudristek (2019-2024), Nadiem dikenal dengan kebijakan “Merdeka Belajar”. Namun, jabatan publik itu pula yang membawanya ke meja hijau. Ia dituding melanggar sejumlah aturan, termasuk Perpres Pengadaan Barang Jasa Pemerintah terkait proyek Chromebook tahun 2019-2022.
Dengan kekayaan yang tercatat mencapai Rp600 miliar di LHKPN, Nadiem mengaku hancur karena dituntut membayar uang pengganti fantastis senilai total Rp5,6 triliun. “Saya sakit hati… saya sudah mengabdikan diri saya 10 tahun kepada negara ini,” tuturnya dengan nada getir.
Franka Franklin: Keteguhan di Balik Meja Operasi
Di balik keriuhan dukungan dan beratnya tuntutan, ada sosok Franka Franklin Makarim yang berdiri tegak. Istri Nadiem yang juga seorang pengusaha sukses di bidang perhiasan (Tulola Jewelry) ini menjadi sorotan karena kesetiaannya.
Melalui unggahan di Instagramnya, Franka membagikan potret dirinya mendampingi Nadiem yang tengah terbaring lemah di rumah sakit. “Kemarin hari dimulai di pengadilan. Malam tadi, Nadiem masuk ke meja operasi untuk kelima kalinya. Di antara dua momen itu, kami hanya bisa berdoa,” tulis Franka.
Franka bukan sekadar “istri pejabat”. Ia adalah perempuan berpendidikan internasional yang pernah berkarier di Zalora dan Kanmo Group. Dalam situasi tersulit suaminya, ia memilih untuk tidak berdebat soal hukum di publik, melainkan menawarkan keteguhan. “Yang saya tahu, saya ada di sini, kami semua tetap di sini. Dan ia tidak sendiri,” tegasnya.
Netizen: Cermin Kegelisahan Publik
Kasus ini tak ayal membelah opini masyarakat di kolom komentar media sosial. Banyak yang melihat ini sebagai pertanda buruk bagi kaum profesional yang ingin masuk ke birokrasi.
“Wah, yang berkomentar artis berpendidikan loh, tanda hukum kita tidak baik,” tulis salah satu netizen di platform X.
“Makin tahun bukan makin bener negaranya, malah makin bobrok… Orang berintegritas bakal takut bantu pemerintah kalau akhirnya dituduh korupsi lewat kebijakan,” timpal netizen lainnya.
Kini, publik menanti bagaimana palu hakim akan diketukkan. Apakah ini murni penegakan hukum terhadap kerugian negara, ataukah sebuah “tragedi kebijakan” yang akan membuat para inovator muda lainnya berpikir dua kali untuk mengabdi pada negara? Yang pasti, tangisan para driver ojol dan keteguhan Franka Franklin telah memberikan dimensi manusiawi yang dalam di balik angka-angka triliun rupiah yang diperdebatkan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










