bukamata.id – Bagi Rudiansyah, Superman bukan sekadar tokoh superhero dalam film. Sosok berjubah merah itu justru membawanya pada satu pelajaran sederhana: pahlawan bukan selalu mereka yang memiliki kekuatan super, melainkan orang yang bersedia turun tangan ketika lingkungan dan orang lain membutuhkan pertolongan.
Pelajaran itu ia praktikkan di tengah kepulan asap dan panasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan dekat tempat tinggalnya di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Sepulang sekolah, Rudiansyah tidak langsung menghabiskan waktu dengan bermain atau sekadar bersantai di rumah. Remaja asal Kelurahan Petuk Katimpun, Kecamatan Jekan Raya, itu memilih bergabung membantu proses pemadaman karhutla.
Namun, ada satu hal yang membuat sosoknya begitu mencuri perhatian.
Rudi turun ke lokasi dengan mengenakan kostum Superman berwarna biru dan merah.
Dengan kostum tersebut, ia ikut membawa selang dan membantu petugas maupun relawan memadamkan titik api yang berada tidak jauh dari permukiman warga.
Aksinya kemudian viral di media sosial. Bahkan, kisah remaja yang mengenakan kostum superhero saat membantu memadamkan karhutla itu turut mendapat perhatian media internasional seperti The Washington Post dan Reuters.
Di balik kostum yang mencolok itu, ternyata ada cerita yang jauh lebih sederhana sekaligus mengharukan.
Khawatir Api Mendekati Rumah
Rudiansyah memilih turun membantu bukan semata-mata karena ingin terlihat seperti superhero.
Ada kekhawatiran yang membuatnya bergerak.
Kebakaran lahan terjadi di sekitar kawasan Jalan Petuk Katimpun, wilayah yang berada dekat dengan rumahnya. Ketika melihat api semakin mendekati permukiman, Rudi merasa tidak bisa hanya berdiam diri.
“Saya khawatir melihat kebakaran lahan yang semakin mendekati rumah saya, makanya sepulang sekolah saya sempatkan untuk ikut membantu pemadaman,” kata Rudiansyah.
Bagi Rudi, membantu memadamkan karhutla juga menjadi cara sederhana untuk berbuat sesuatu bagi lingkungan tempat ia tinggal.
Ia bahkan memiliki alasan yang cukup sederhana ketika ditanya mengapa memilih turun ke lokasi setelah pulang sekolah.
“Aku setelah pulang sekolah suka membantu saja, daripada di rumah main HP, lebih baik membantu mereka. Apalagi ini masuk wilayah saya,” ujarnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan bagaimana kepedulian Rudi tumbuh dari lingkungan terdekatnya.
Ia tidak harus menunggu menjadi orang dewasa untuk ikut mengambil bagian.
Kostum Superman yang Lama Tersimpan
Lantas, mengapa Superman?
Rudiansyah mengaku tidak memiliki alasan khusus. Kostum tersebut sebenarnya sudah lama ia miliki dan jarang digunakan.
Kostum Superman itu sebelumnya pernah ia gunakan untuk mengikuti sebuah event lari. Karena sudah lama tersimpan dan tidak terpakai, Rudi akhirnya memilih mengenakannya ketika ikut membantu memadamkan api.
“Sudah lama kostumnya punya saya. Daripada enggak kepakai, lebih baik pakai untuk madam api aja,” tuturnya.
Keputusan yang awalnya dilakukan karena iseng itu ternyata membuat aksinya terlihat berbeda.
Di tengah petugas dan relawan yang mengenakan perlengkapan pemadaman, sosok Rudi dengan kostum biru-merah menjadi pemandangan yang mudah dikenali.
Namun, bagi Rudi sendiri, kostum tersebut bukan sekadar pakaian untuk menarik perhatian.
Ia mengaku mengenakan kostum Superman justru membuatnya semakin bersemangat ketika berada di lapangan.
Di balik simbol superhero itu, ia sedang melakukan pekerjaan nyata: membantu mengurangi dampak kebakaran yang mengancam lingkungan tempat tinggalnya.
Belajar Menjadi Relawan dari Sang Ayah
Cerita Rudiansyah tidak bisa dilepaskan dari sosok ayahnya, Mulyadin.
Mulyadin merupakan seorang relawan yang juga kerap terlibat dalam aktivitas penanganan karhutla. Dari sang ayah, Rudi belajar mengenal aktivitas pemadaman sekaligus memahami bahwa membantu masyarakat merupakan bagian dari kepedulian terhadap lingkungan.
Kebiasaan ikut turun ke lapangan pun perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.
Mulyadin mengatakan, putranya sudah cukup memahami aktivitas pemadaman karena sering ikut bersamanya.
“Kalau anak saya ini dia paham sudah. Sebabnya setiap dia pulang sekolah enggak ada kegiatan, pasti dia ikut terus. Jadi dia sudah paham,” kata Mulyadin.
Dari sini, sosok Superman dalam diri Rudi sebenarnya bukan muncul dari kostum yang dikenakannya.
Ia tumbuh dari teladan yang setiap hari ia lihat dari ayahnya.
Seorang ayah yang turun ke lapangan menjadi relawan, kemudian seorang anak yang melihat, belajar, dan akhirnya memilih melakukan hal yang sama.
Superman Kecil di Tengah Karhutla Palangka Raya
Aksi Rudiansyah kemudian mendapat apresiasi dari Manajer Pusdalop BPBD Kota Palangka Raya, Balap.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan dalam penanganan karhutla. Petugas tidak mungkin bekerja sendirian ketika kebakaran terjadi di sejumlah titik, terlebih jika lokasi api berada dekat dengan permukiman warga.
“Kita sangat mengapresiasi keputusan warga membantu kita di lapangan. Memang itu yang kita harapkan. Tim tidak bisa bekerja sendiri, perlu teman-teman relawan dan masyarakat yang membantu kita di lapangan,” jelas Balap.
Keterlibatan Rudi menjadi gambaran kecil mengenai pentingnya kolaborasi dalam menghadapi karhutla.
Petugas memiliki peran utama dalam penanganan, tetapi masyarakat juga memiliki ruang untuk membantu sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Tidak semua orang harus menerobos asap atau mendekati titik api.
Bagi warga yang tidak memiliki kemampuan atau perlengkapan untuk melakukan pemadaman, kontribusi juga bisa dilakukan dengan mencegah munculnya api dan mencegah kebakaran meluas, terutama di kawasan lahan gambut.
BPBD berharap partisipasi masyarakat dalam penanganan karhutla terus tumbuh. Kolaborasi antara petugas, relawan, dan masyarakat dinilai dapat mempercepat penanganan, khususnya ketika titik api berada di sekitar permukiman.
Pahlawan Tidak Selalu Memakai Jubah
Kisah Rudiansyah pada akhirnya bukan hanya tentang seorang remaja yang mengenakan kostum Superman.
Ia adalah cerita tentang seorang anak yang melihat ancaman di depan rumahnya, kemudian memilih untuk tidak berpaling.
Ia adalah cerita tentang seorang ayah yang menjadi teladan bagi anaknya.
Dan ia juga menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa tumbuh dari hal yang sangat sederhana: melihat masalah di sekitar, kemudian memilih untuk membantu.
Kostum Superman mungkin membuat Rudi viral.
Namun, keberaniannya untuk turun ke tengah karhutla setelah pulang sekolah adalah hal yang membuat kisahnya memiliki makna lebih panjang.
Sebab, di dunia nyata, menjadi pahlawan tidak membutuhkan jubah, kekuatan super, atau kemampuan terbang.
Kadang, seorang pahlawan hanya membutuhkan kepedulian, keberanian, dan kemauan untuk mengatakan: ini lingkungan saya, dan saya ingin ikut menjaganya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










