bukamata.id – Bandung tengah menjadi sorotan publik setelah beredar luas di media sosial klaim bahwa polisi menyerang kampus Universitas Islam Bandung (Unisba) di Jalan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, pada Senin malam hingga Selasa dini hari (2/9/2025).
Menanggapi isu ini, Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menegaskan bahwa patroli berskala besar yang dilakukan petugas bukanlah serangan, melainkan upaya membubarkan kelompok tertentu yang mengenakan pakaian serba hitam, yang dikenal sebagai Anarko Sindikalisme, di sekitar area kampus.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut memberikan penjelasan terkait pengamanan aksi unjuk rasa tersebut. Menurut Dedi, manajemen demonstrasi yang baik menjadi kunci utama untuk mencegah kerusuhan akibat kehadiran kelompok penyusup.
“Antisipasi pertama adalah melalui manajemen pengelolaan demonstrasi. Saya dulu juga aktivis, jadi saya paham,” ujar Dedi saat ditemui di Rektorat Unisba, Jalan Tamansari No 20, Kota Bandung, Selasa (2/9/2025).
Dedi menambahkan, kelompok penyusup biasanya memiliki ciri-ciri dan kode tertentu. “Biasanya mereka (mahasiswa) sudah punya barikade, ciri-ciri, dan kode-kode tertentu. Jika ada penyusup, langsung diambil alih dan dikeluarkan dari massa,” jelasnya.
Mengenal Anarko Sindikalisme
Lalu, siapa sebenarnya kelompok Anarko Sindikalisme?
Anarko Sindikalisme adalah cabang dari paham anarkis yang menekankan peran serikat buruh sebagai kekuatan potensial untuk mencapai perubahan sosial radikal. Tujuannya adalah menggantikan kapitalisme dan otoritas negara dengan tatanan masyarakat baru yang mandiri dan demokratis, dijalankan oleh kelas pekerja.
Paham ini muncul dari gagasan anarkis yang menolak keberadaan institusi kekuasaan dan sering menentang norma-norma mapan yang dianggap baku oleh masyarakat. Dari paham ini, berkembang beberapa varian seperti anarkisme kolektif, anarkisme komunis, anarko-sindikalisme, anarkisme individualis, hingga versi modern seperti eko-anarkisme dan anarkisme pasca-kiri. Namun, yang paling dikenal di kalangan buruh adalah Anarko Sindikalisme.
Istilah “sindikalisme” sendiri berasal dari bahasa Prancis, “trade unionism”, yang menekankan bahwa serikat buruh memiliki potensi untuk mendorong perubahan sosial secara revolusioner, mengganti sistem kapitalisme, dan menghapuskan otoritas negara, digantikan oleh masyarakat demokratis yang dikendalikan para pekerja.
Selain itu, Anarko Sindikalisme menolak sistem gaji tradisional dan kepemilikan produksi, dengan menekankan tiga prinsip utama: solidaritas pekerja (workers solidarity), aksi langsung (direct action), dan manajemen-mandiri buruh (workers self-management).
Sejarah dan Tokoh Kunci
Menurut buku Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan karya Seán M. Sheehan, gerakan Anarko Sindikalisme diperkenalkan oleh sejarawan anarkis Rudolf Rocker pada abad ke-19 dan 20. Tokoh linguistik terkenal, Noam Chomsky, menyebut bahwa menurut Rocker, kebebasan bagi seorang anarkis bukan konsep abstrak, melainkan kesempatan nyata bagi manusia untuk mengembangkan kapasitas dan talenta yang dimiliki, serta mengubahnya menjadi kekuatan sosial.
Rocker menekankan bahwa melalui bidang ekonomi, pekerja dapat mengekspresikan kekuatan sosial sepenuhnya, karena aktivitas mereka sebagai produsen mampu menyatukan struktur sosial dan menjamin kelangsungan masyarakat.
Dalam buku Anarko Sindikalisme: Filsafat Radikal Kaum Pekerja, dijelaskan bahwa gerakan ini menggunakan metode aksi langsung, baik dalam ranah ekonomi maupun politik. Beberapa metode yang digunakan meliputi sabotase, pemogokan, dan boikot, demi mewujudkan tatanan ekonomi yang diinginkan oleh para pekerja.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










