bukamata.id – Dunia maya adalah rimba yang tak terduga. Di satu sisi, ia bisa menjadi panggung penghakiman yang kejam, namun di sisi lain, ia bisa menjelma menjadi pelukan hangat yang menyembuhkan. Inilah yang dialami oleh Fauzan Akbar, seorang remaja SMP asal Labuhanbatu yang mendadak viral bukan karena prestasi atau sensasi yang ia buat sendiri, melainkan karena sebuah video yang merekam momen dirinya direndahkan oleh orang asing.
Namun, alih-alih tenggelam dalam nestapa, kisah Fauzan justru bertransformasi menjadi sebuah gerakan empati nasional yang melibatkan konten kreator, pihak kepolisian, hingga institusi pendidikan tempatnya bernaung.
Luka di Balik Potongan Video “Skena”
Semuanya bermula dari sebuah rekaman singkat di area penyeberangan sungai. Dalam video tersebut, Fauzan dan dua temannya sedang berdiri menunggu giliran menyeberang. Kamera ponsel seorang wanita kemudian menyorotnya, disertai suara tawa dan celetukan sinis, “Aw aw, skena abis,” dan kata-kata yang mengarah pada ejekan bahwa penampilan Fauzan terlihat “kampungan.”
Bagi warganet, itu mungkin hanya konten receh. Namun bagi Fauzan, itu adalah hantaman mental yang hebat. Terungkap kemudian sebuah fakta yang menyayat hati: pakaian yang dikenakan Fauzan hari itu—yang diejek “kampungan”—ternyata memiliki nilai sentimental yang tak ternilai. Baju tersebut adalah pemberian terakhir dari almarhumah ibunya sebelum meninggal dunia.
Akibat perundungan digital tersebut, Fauzan sempat mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Ia menolak keluar rumah, bahkan enggan menginjakkan kaki di sekolah karena rasa malu dan trauma yang mendalam.
Bidan Seruni: Mengubah Ejekan Menjadi Berkah
Gelombang dukungan pertama datang dari jagat TikTok. Konten kreator populer, Bidan Seruni, menjadi salah satu sosok yang paling lantang membela Fauzan. Melalui sebuah sesi video call yang emosional, Bidan Seruni mencoba membangkitkan kembali kepercayaan diri remaja tersebut.
“Jangan sedih lagi ya, Sayang. Kamu keren, dandanannya sudah bagus. Jangan dengerin kata orang yang tidak baik,” ujar Bidan Seruni dalam percakapan virtual yang terekam dalam video unggahannya.
Tak hanya sekadar kata-kata manis, Bidan Seruni memberikan dukungan nyata berupa donasi uang jajan sebesar Rp1.000.000 untuk Fauzan dan teman-temannya. Ia bahkan mengirimkan paket belanjaan sebagai bentuk kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Aksi Bidan Seruni ini seolah menjadi pemantik bagi ribuan warganet lainnya untuk berhenti menghujat pelaku dan mulai fokus merangkul korban.
Saat Sekolah Menjadi Rumah Kedua
Keharuan berlanjut ketika pihak sekolah Fauzan menunjukkan dedikasi luar biasa. Mengetahui siswanya tak mau sekolah karena trauma, para guru tidak tinggal diam. Mereka melakukan aksi home visit atau kunjungan ke rumah Fauzan.
Dalam rekaman video, terlihat suasana rumah Fauzan yang sederhana namun penuh dengan orang-orang yang peduli. Para guru duduk bersimpuh di atas tikar, berbincang dengan Fauzan dan keluarganya. Mereka memberikan motivasi, meyakinkan Fauzan bahwa sekolah adalah tempat yang aman baginya, dan bahwa tidak ada yang akan mengejeknya di sana.
Kehadiran para guru ini menjadi bukti bahwa fungsi pendidik bukan hanya mentransfer ilmu di dalam kelas, melainkan juga menjaga kesehatan mental anak didik saat mereka dihantam badai di luar sana. Dukungan ini berhasil; Fauzan akhirnya luluh dan bersedia kembali mengenakan seragam sekolahnya.
Langkah Presisi: Trauma Healing dari Polres Labuhanbatu
Puncak dari proses pemulihan Fauzan datang dari institusi kepolisian. Polres Labuhanbatu turun tangan secara langsung untuk memastikan Fauzan mendapatkan keadilan psikologis. Tidak hanya sekadar memantau kasus perundungannya secara hukum, Polres Labuhanbatu memberikan program Trauma Healing.
Dalam sebuah pertemuan resmi namun hangat, petugas kepolisian dari unit terkait mendatangi kediaman Fauzan. Mereka tidak datang dengan seragam yang mengintimidasi, melainkan dengan pendekatan humanis sebagai pelindung masyarakat. Mereka mengajak Fauzan berdialog, memberikan semangat, hingga memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah baru—mulai dari tas hingga alat tulis.
Program trauma healing ini bertujuan agar Fauzan tidak merasa sendirian menghadapi dunia luar. Pihak Polres ingin memastikan bahwa dampak negatif dari viralnya video ejekan tersebut bisa diminimalisir agar tidak membekas hingga Fauzan dewasa nanti.
Penutup: Pelajaran dari Fauzan
Kisah Fauzan Akbar adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik layar ponsel yang kita genggam, ada manusia-manusia dengan perasaan yang nyata. Sebuah komentar satu detik bisa merusak hidup seseorang dalam hitungan hari, namun satu tindakan kepedulian bisa menyelamatkan masa depan seorang anak.
Kini, Fauzan tak lagi dikenal sebagai “bocah yang diejek kampungan,” melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap perundungan. Dukungan dari Bidan Seruni, kasih sayang para gurunya, dan tindakan nyata dari Polres Labuhanbatu telah berhasil “menjahit” kembali luka di hati Fauzan.
Dari Labuhanbatu, kita belajar: bahwa menjadi “kampung” atau tidak, bukanlah soal baju yang kita pakai, melainkan soal seberapa rendah empati kita terhadap sesama. Fauzan telah bangkit, dan ia tidak sendirian.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









