bukamata.id – Di balik gemerlap lampu runway Paris, Milan, dan Lisbon, sebuah revolusi sedang terjadi. Revolusi ini tidak datang dari deretan desainer ternama, melainkan dari paras-paras yang selama puluhan tahun terpinggirkan oleh standar kecantikan domestik Indonesia. Jika beberapa waktu lalu publik dikejutkan oleh kemunculan Raihan Fahrizal, pemuda Bandung pertama yang menembus panggung Yves Saint Laurent (YSL), kini estafet keberhasilan itu diteruskan dengan gemilang oleh Sawitri Khan.
Keduanya bukan sekadar model. Mereka adalah simbol perlawanan terhadap stigma “kulit gelap” dan “wajah lokal” yang sering kali dianggap sebelah mata di negeri sendiri. Sawitri, dengan garis wajah tegas perpaduan India-Medan-Bali, kini berdiri sejajar dengan Raihan sebagai representasi talenta tanah air yang justru “meledak” di Eropa setelah sempat diragukan di rumah sendiri.
Luka Perundungan: Akar Kekuatan Sawitri
Lahir di Medan pada 23 Juni 1996, Sawitri Khan tumbuh dalam lingkungan yang beragam namun penuh tantangan. Ayahnya yang berdarah India-Indonesia dan ibunya yang berasal dari Bali memberinya fitur fisik yang unik—kulit eksotis dan tinggi badan yang menjulang hingga 174 cm. Namun, keunikan ini sempat menjadi beban saat ia pindah ke Jembrana, Bali, di usia balita.
Di masa kecilnya, Sawitri tak jarang menjadi sasaran perundungan (bullying). Di saat standar kecantikan lokal masih terjebak pada narasi “cantik itu putih dan mulus,” fitur Sawitri yang mencolok justru dianggap berbeda oleh rekan-rekannya. Luka masa lalu inilah yang kini ia ubah menjadi bahan bakar perjuangan.
“Perempuan bernama lengkap Sawitri Khan ingin menginspirasi banyak orang agar lebih percaya diri dan berani melawan perundungan,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan. Misinya jelas: ia tak ingin anak-anak muda Indonesia lainnya merasa minder hanya karena tidak memenuhi standar kecantikan semu yang dikonstruksi media.
Perjalanan Sawitri memiliki kemiripan emosional dengan Raihan Fahrizal. Jika Raihan sempat merasa tidak percaya diri dengan tubuhnya yang sangat kurus dan kulitnya yang gelap sebelum akhirnya ditarik oleh agensi di Paris, Sawitri pun mengalami fase serupa. Keduanya adalah bukti nyata bahwa apa yang dianggap “kekurangan” oleh masyarakat awam adalah “aset mahal” di mata industri mode internasional.
Dari Jembrana ke Jakarta: Antara Jualan Bunga dan Mimpi
Selepas SMA, dunia mode masih terasa sangat jauh bagi Sawitri. Ia bahkan sempat bercita-cita menjadi pengacara dan sempat mencoba sekolah pariwisata selama satu tahun. Namun, panggilan hidup membawanya merantau ke Jakarta pada 2017. Di ibu kota, realita hidup memaksanya untuk menjadi tangguh.
Demi menghidupi diri dan membantu biaya sekolah kedua adiknya, Sawitri bekerja serabutan. Ia bekerja di perusahaan edukasi saham milik bibinya, mengelola event organizer, bahkan tidak malu untuk berjualan bunga. Di tengah kerasnya aspal Jakarta, sang bibi melihat potensi besar dalam diri keponakannya itu.
“Tante aku bilang ‘kenapa kamu nggak modeling aja? Kamu kurus, tinggi, kulit kamu berbeda dari yang lainnya’ pokoknya tanteku support banget dan suruh aku sekolah modeling dulu,” cerita Sawitri.
Meski harus sering bolos sekolah modeling karena kesibukan bekerja mencari nafkah, Sawitri tidak menyerah. Ia adalah produk dari kegigihan era digital. Saat waktu luang, ia membuka YouTube, mempelajari cara jalan catwalk yang benar, mengatur ekspresi wajah, hingga memahami sudut kamera. Sebuah dedikasi yang juga dilakukan Raihan Fahrizal saat awal kariernya di Bandung sebelum akhirnya mendunia.
Gagal di Negeri Sendiri, Berjaya di Benua Biru
Ada ironi yang sering berulang dalam industri kreatif Indonesia: talenta besar seringkali harus “disahkan” oleh dunia internasional sebelum akhirnya dihargai di dalam negeri. Hal ini dialami Raihan Fahrizal saat melenggang di Venice untuk YSL, dan hal ini pula yang dirasakan Sawitri Khan.
Karier Sawitri di Indonesia awalnya jalan di tempat. Ia sempat sepi tawaran pekerjaan karena wajahnya dianggap “terlalu internasional” atau tidak sesuai dengan pasar komersial lokal yang saat itu masih didominasi wajah-wajah blasteran kaukasia atau orientalis.
Titik balik terjadi saat ia nekat mencoba peruntungan di Eropa. Kegagalan sempat menyapa saat ia mengikuti casting di Paris. Namun, nasib baik mempertemukannya dengan agensi pertamanya di Warsawa, Polandia, melalui jaringan pertemanan suaminya. Sejak saat itu, gerbang menuju agensi-agensi raksasa terbuka lebar.
Kini, Sawitri berada di bawah naungan manajemen prestisius: Louisa Models di Munich, Metropolitan / M Management / Makers di Paris, dan Just Models di Lisbon. Ia telah sukses menaklukkan Lisbon Fashion Week dan Portugal Fashion Week, membuktikan bahwa gadis dari Jembrana bisa sejajar dengan model-model papan atas dunia.
Sawitri dan Raihan: Wajah Baru Indonesia
Kehadiran Sawitri Khan di panggung mode Eropa seolah melengkapi narasi yang dibangun Raihan Fahrizal. Jika Raihan menjadi pionir pria Indonesia yang mendobrak pintu eksklusivitas merek mewah global, Sawitri hadir sebagai sosok perempuan tangguh yang membawa pesan sosial yang kuat.
Keduanya memiliki benang merah yang sama: mereka adalah “pemberontak” terhadap standar kecantikan tradisional. Mereka membawa identitas fisik Indonesia yang asli—kulit matang, struktur wajah tegas, dan karakter yang kuat—ke pusat mode dunia.
Keberhasilan Sawitri juga menjadi bukti bahwa industri mode global kini semakin inklusif. Agensi-agensi di Paris dan Milan tidak lagi mencari kecantikan yang seragam, melainkan karakter yang unik dan kisah hidup yang inspiratif. Sawitri, dengan latar belakangnya sebagai penyintas perundungan dan pekerja keras di Jakarta, memiliki narasi yang sangat dicari oleh dunia internasional.
Misi Mengakhiri Perundungan
Kini, dengan popularitas yang ia miliki di media sosial, Sawitri tidak lupa pada akarnya. Ia secara aktif mengedukasi masyarakat tentang dampak buruk bullying. Ia ingin memastikan bahwa kesuksesannya bukan sekadar soal pamer busana mahal, melainkan platform untuk perubahan sosial.
Bagi Sawitri, setiap langkahnya di panggung mode internasional adalah pesan bagi para perundungnya di masa lalu—bahwa mereka tidak berhasil mematahkan semangatnya. Sebaliknya, perundungan itu justru membuatnya semakin kuat untuk membuktikan bahwa keunikan adalah sebuah anugerah.
Kisah Sawitri Khan, sebagaimana Raihan Fahrizal, adalah pengingat bagi seluruh anak muda di Indonesia. Bahwa jalan menuju mimpi seringkali tidak ditemukan di tempat yang nyaman atau melalui persetujuan orang-orang di sekitar. Terkadang, kita harus berani melangkah sejauh ribuan kilometer, melintasi benua, hanya untuk membuktikan bahwa diri kita berharga.
Dari Jembrana menuju panggung dunia, Sawitri Khan telah membuktikan bahwa kulit eksotis dan masa lalu yang penuh air mata bukanlah penghalang. Ia adalah wajah Indonesia yang baru: berani, unik, dan tak terhentikan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









