bukamata.id – Di sebuah sudut Desa Growok, Kecamatan Dander, Bojonegoro, suara bising mesin motor bukanlah polusi suara. Bagi Daffa Ardian Pratama, deru itu adalah simfoni. Di saat anak-anak seusianya masih bergelut dengan krayon atau asyik mengejar bola di lapangan sekolah, bocah berusia 9 tahun ini justru sibuk dengan instalasi kabel yang menjuntai, dinamo yang berputar kencang, dan komponen elektronik yang bagi orang awam tampak seperti tumpukan barang rongsokan.
Daffa bukanlah sekadar anak kecil yang hobi membongkar mainan. Ia adalah anomali dalam sistem pendidikan kita—seorang bocah kelas 3 SD Negeri 1 Dander yang menyimpan cakrawala pemikiran melampaui kurikulum formal.
Kegelisahan di Balik Ruang Kelas
Lahir pada 29 Juli 2017 dari pasangan Andik Sujianto dan Lusy Ardiana, Daffa menunjukkan tanda-tanda “berbeda” sejak dini. Ketertarikannya pada mekanisme benda bergerak muncul secara organik. Saat anak-anak seusianya di Taman Kanak-Kanak (TK) asyik belajar menyanyi, Daffa justru melontarkan pertanyaan yang membuat gurunya terdiam mematung.
“Apa fungsi busi pada kendaraan?” tanya Daffa kala itu.
Sebuah pertanyaan teknis yang mungkin hanya dipahami oleh mekanik bengkel, keluar dari mulut seorang balita. Ketika sang guru gagal memberikan jawaban yang memuaskan dahaga intelektualnya, Daffa mengalami kekecewaan yang mendalam. Baginya, sekolah yang seharusnya menjadi tempat mencari jawaban justru menjadi ruang yang hampa.
“Saya tidak mau sekolah, gurunya tidak bisa mengajari saya,” kenang Andik Sujianto, menirukan keluhan putra sulungnya itu pada Kamis (9/4/2026). Kalimat itu bukan bentuk kesombongan, melainkan ekspresi kejujuran seorang anak yang merasa “frekuensi” otaknya tidak tertampung di ruang kelas konvensional.
Antara Vonis dan Kejeniusan
Ketidaklaziman sikap Daffa sempat menyulut kekhawatiran di benak orang tuanya. Apakah ada yang salah dengan perkembangan mentalnya? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kabel dan mesin ketimbang bermain layaknya anak normal?
Andik dan Lusy membawa Daffa ke Puskesmas Dander, yang kemudian merujuknya ke dokter spesialis kejiwaan di sebuah rumah sakit. Ketegangan sempat menyelimuti keluarga sederhana ini. Namun, hasil pemeriksaan medis justru membalikkan semua keraguan.
“Dokter bilang hasil tes menunjukkan Daffa tergolong anak jenius, bukan autis,” ungkap Andik.
Hasil medis itu menjadi titik balik. Keluarga mulai menyadari bahwa Daffa tidak butuh disembuhkan, melainkan butuh difasilitasi. Rasa ingin tahu yang meledak-ledak itu bukanlah gangguan, melainkan tanda dari kapasitas intelektual yang tinggi. Sejak saat itu, Andik mulai berperan menjadi “teman diskusi” bagi Daffa, mendampinginya menyerap informasi dari belantara internet—guru terbaik bagi Daffa yang belajar secara otodidak.
Laboratorium di Teras Rumah
Proses belajar Daffa berlangsung secara organik. Ia tidak membaca buku teks tebal, melainkan menonton video tutorial dan langsung mempraktikkannya. Dengan tangan kecilnya, ia mampu membedakan cara kerja mesin 2 tak dan 4 tak—sebuah konsep dasar otomotif yang seringkali membuat siswa SMK kesulitan di awal pelajaran.
Kemampuannya tidak berhenti di mesin. Daffa merambah dunia elektronika dengan merakit dimmer, alat untuk mengatur kecepatan dinamo atau tegangan listrik. Ia juga berhasil menciptakan robot sederhana berupa sapu otomatis yang berfungsi membersihkan lantai. Eksperimennya kadang mengundang ngeri sekaligus takjub; ia pernah mencoba meracik bubuk dari bahan-bahan dapur yang memiliki karakteristik menyerupai mesiu.
“Saya uji, bubuk buatan Daffa tersebut bisa meledak seperti mercon,” tutur Andik dengan nada setengah tidak percaya. Temuan ini menjadi peringatan bagi orang tuanya bahwa potensi besar Daffa harus dikawal ketat agar tidak membahayakan dirinya sendiri maupun lingkungan.
Kontradiksi Akademik dan Kehidupan Sosial
Ironisnya, kecerdasan luar biasa ini tidak tercermin dalam nilai-nilai rapor di sekolah. Di mata sistem pendidikan formal, Daffa adalah murid yang “biasa saja”. Hal ini menjadi potret nyata bagaimana sistem pendidikan klasikal seringkali gagal mengakomodasi anak-anak dengan high giftedness. Daffa sering merasa jenuh di kelas karena materi yang diajarkan jauh di bawah kapasitas pemahamannya.
Secara sosial, Daffa juga menghadapi tantangan. Meski tetap bermain, ia sering merasa tidak satu visi dengan teman sebaya. Saat teman-temannya asyik dengan permainan tradisional atau gim ponsel, pikiran Daffa melayang ke bagaimana cara menciptakan sesuatu yang baru dari barang bekas.
“Cara berpikirnya melampaui rata-rata anak seusianya,” ujar Andik. Daffa adalah sosok yang “kesepian” di tengah keramaian anak-anak, namun ia tetap memiliki kepedulian sosial yang baik. Ia hanya lebih suka berbicara dengan benda mati yang bisa ia hidupkan kembali dengan aliran listrik.
Viral dan Harapan Masa Depan
Dunia mulai melirik Daffa ketika video-video aktivitasnya merakit perangkat elektronik tersebar di media sosial. Publik terpukau melihat seorang anak kecil menjelaskan konsep teknologi dengan bahasa yang begitu tertata dan akademis, namun tetap sederhana. Salah satu tokoh nasional, Ganjar Pranowo, bahkan turut membagikan ulang video tersebut, memberikan panggung bagi potensi bocah Bojonegoro ini.
Kini, undangan dari berbagai pihak mulai membanjiri keluarga Andik. Namun, di tengah sorot lampu popularitas, Andik dan Lusy tetap memijak bumi. Mereka bersikap hati-hati dan protektif terhadap kondisi psikologis sang putra. Bagi mereka, popularitas hanyalah bumbu, sementara hidangan utamanya adalah masa depan pendidikan Daffa.
“Kami masih ikhtiar mencari pendidikan yang cocok, karena kami merasa dia butuh pendekatan khusus,” kata Andik penuh harap.
Suara Netizen: Generasi Emas atau Bakat yang Terbuang?
Fenomena Daffa memicu perbincangan hangat di jagat maya. Banyak netizen yang merasa khawatir bakat sebesar ini akan layu jika tetap berada di sistem pendidikan yang kaku.
“Carikan sekolah yang memang bisa mengasah bakatnya, cari beasiswa di luar negeri Pak… Kalau dalam negeri nggak bakal di reken (diperhatikan),” tulis seorang netizen, mencerminkan pesimisme publik terhadap apresiasi talenta lokal.
Ada pula yang menyebutnya sebagai representasi nyata dari visi “Generasi Emas 2045”. Netizen lain berkomentar, “Orang dewasa pun belum tentu bisa menerangkan seperti anak itu, bahasa-bahasanya akademis banget.”
Harapan kolektif masyarakat adalah agar Daffa tidak menjadi “bintang jatuh”—yang bersinar sesaat lalu menghilang karena tidak ada ekosistem yang mendukung pertumbuhannya.
Penutup: Merakit Masa Depan
Di Desa Growok, Daffa masih terus berkutat dengan kabel-kabelnya. Baginya, setiap komponen adalah teka-teki yang menanti untuk dipecahkan. Di tengah keterbatasan fasilitas dan pola pendidikan yang masih dicari-cari, rasa ingin tahu Daffa adalah bahan bakar yang tidak pernah habis.
Daffa Ardian Pratama adalah pengingat bagi kita semua, bahwa kejeniusan bisa tumbuh di mana saja, bahkan di pelosok desa yang jauh dari hiruk-pikuk teknologi canggih. Tantangan terbesarnya sekarang bukan lagi merakit mesin, melainkan bagaimana bangsa ini merakit jalan agar talenta sehebat Daffa bisa berlabuh di tempat yang tepat, demi kemajuan teknologi masa depan Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










