bukamata.id – Nama Fátima Bosch Fernández tiba-tiba menjadi sorotan dunia. Bukan karena gaun megah yang ia kenakan atau mahkota yang bersinar di atas kepalanya, melainkan karena sikapnya yang tegak berdiri saat merasa harga dirinya diinjak. Di balik senyum lembut Miss Universe Mexico 2025 itu, ada keberanian luar biasa yang membuat jutaan perempuan di seluruh dunia menaruh simpati padanya.
Perempuan berusia 25 tahun asal Santiago de Teapa, Tabasco itu baru saja menorehkan sejarah sebagai orang pertama dari daerahnya yang dinobatkan sebagai Miss Universe Mexico, pada 13 September 2025. Namun, pencapaiannya tidak berhenti pada kemenangan di atas panggung. Justru setelah itu, kisahnya berubah menjadi simbol perlawanan seorang perempuan terhadap pelecehan verbal dan arogansi kekuasaan.
Fátima lahir pada 19 Mei 2000. Sejak kecil, ia harus menghadapi tantangan yang tidak mudah — disleksia dan ADHD membuat masa belajarnya penuh perjuangan. “Saya memerlukan perhatian khusus untuk belajar,” katanya jujur dalam sebuah wawancara. Dari pengalaman itulah ia belajar untuk tidak diam ketika diperlakukan tidak adil. Ia tumbuh menjadi perempuan yang berani menyuarakan pendapat, bahkan di hadapan orang-orang berpengaruh.
Setelah menempuh pendidikan desain fesyen di Universidad Iberoamericana Mexico City, serta memperdalam keahliannya di Nuova Accademia di Belle Arti, Milan, dan Lyndon Institute, Vermont, Fátima dikenal sebagai desainer muda berbakat dengan pandangan luas. Dunia kontes kecantikan mulai mengenalnya sejak 2018, saat ia memenangkan gelar Flor de Oro Tabasco. Tujuh tahun kemudian, di panggung besar di Zapopan, ia dinobatkan sebagai Miss Universe Mexico 2025 — kemenangan yang tidak semua peserta rayakan bersama.
“Persaudaraan itu bukan hanya kata-kata, tetapi harus nyata. Sayangnya, dalam hal ini tidak terjadi,” ucapnya dengan nada getir kala itu. Kalimat yang tampak sederhana, tapi mencerminkan sosok Fátima: lugas, tegas, dan tak takut bicara benar.
Insiden di Thailand: Walkout Seorang Perempuan yang Menolak Direndahkan
Awal November 2025, di tengah persiapan menuju Miss Universe 2025 di Bangkok, Fátima terlibat insiden yang mengguncang dunia pageant. Dalam sebuah sesi pemotretan bersponsor, Nawat Itsaragrisil — Direktur Eksekutif Miss Universe dan sosok berpengaruh di industri kontes kecantikan Asia — menegur keras Fátima karena tidak hadir dalam sesi tersebut.
Menurut Nawat, ketidakhadiran itu menunjukkan sikap tidak profesional. Namun, Fátima menjelaskan bahwa ia hanya mengikuti arahan direktur nasional Meksiko yang memintanya tidak memposting konten promosi Thailand di media sosial, sesuai peraturan organisasi di negaranya.
Alih-alih memahami, Nawat justru menaikkan suara. Ia memintanya “mendengarkan dulu, baru berargumen,” sebelum akhirnya melontarkan kata yang menjadi pemicu kemarahan: “dumbhead,” yang berarti bodoh. Beberapa saksi menyebut Nawat juga memanggil petugas keamanan untuk “mengeluarkan” Fátima dari ruangan.
Namun yang terjadi bukanlah adegan malu, melainkan momen sejarah. Fátima berdiri, menatap lurus ke depan, lalu berjalan keluar ruangan dengan kepala tegak. Keputusan walkout itu membuat suasana hening. Beberapa peserta lain, termasuk Miss Universe 2024 Victoria Kjær Theilvig dari Denmark, turut berdiri dan keluar bersamanya.
“Saya bukan boneka untuk dihias dan diganti baju sesuai kehendak orang lain,” ujar Fátima kemudian dalam wawancara. “Ini zaman modern. Saya ingin menjadi suara bagi semua perempuan.”
Kata-kata itu menyebar cepat di media sosial, menjadi seruan solidaritas di antara perempuan di seluruh dunia. Di Meksiko, namanya disebut dalam tajuk berita sebagai simbol keberanian.
Presiden Miss Universe Organization, Raúl Rocha, segera turun tangan. Ia menegaskan bahwa organisasinya tidak akan menoleransi tindakan merendahkan martabat peserta. “Saya tidak akan membiarkan nilai-nilai menghormati dan martabat wanita dilanggar,” ujarnya.
Sejak itu, peran Nawat dalam kegiatan Miss Universe 2025 dilaporkan dibatasi.
Nawat Itsaragrisil: Dari Raja Pageant ke Pusat Kontroversi
Di sisi lain, nama Nawat Itsaragrisil sudah lama dikenal dalam dunia kontes kecantikan internasional. Lahir di Damnoen Saduak, Thailand, pada 10 Agustus 1965, Nawat mengawali kariernya sebagai pembawa acara televisi sebelum kemudian menjadi produser dan tokoh penting dalam dunia pageant.
Ia adalah pendiri Miss Grand International (MGI) — ajang yang tumbuh pesat dan kini termasuk dalam daftar kontes bergengsi dunia. Pada 2025, ia bahkan dipercaya sebagai Direktur Eksekutif Miss Universe, sekaligus Direktur Nasional Miss Universe Thailand.
Namun di balik karier cemerlangnya, Nawat juga dikenal karena sederet kontroversi. Pada 2016, Miss Islandia 2015, Arna Ýr Jónsdóttir, menuduhnya meminta ia menurunkan berat badan karena dianggap “terlalu gemuk”. Arna kemudian mundur dari kompetisi. Tahun 2022, ia kembali menuai kritik setelah mengomentari fisik Miss Vietnam secara tidak pantas.
Kritik terhadapnya juga datang dari penggemar pageant Filipina, yang menudingnya bias dan manipulatif. Ia pernah pula menyindir kemenangan Miss Universe 2018 Catriona Gray, menyebut ajang lain “mahkota minor”, dan memicu perang komentar di media sosial.
Permintaan Maaf yang Penuh Tangis
Setelah tekanan publik makin kuat, Nawat akhirnya tampil di hadapan para kontestan Miss Universe 2025 pada Rabu malam, 5 November 2025, dalam upacara penyambutan di Bangkok. Di sana, dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan permintaan maaf terbuka.
“Saya rasa kalian pasti mengerti bahwa tekanannya sangat besar. Saya manusia. Terkadang, saya tidak bisa mengendalikan diri. Ngomong-ngomong, saya tidak bermaksud menyakiti siapa pun karena saya menghormati kalian semua. Harus saya katakan, saya sangat menyesal atas apa yang terjadi,” katanya, sambil menunduk di hadapan para finalis.
Kepada media, Nawat kemudian membantah bahwa ia menyebut Fátima “dumbhead”. Ia mengklaim yang ia katakan sebenarnya “damage”. “Saya tidak mengatakan ‘dumb head’ bahkan untuk satu detik pun. Saya mengatakan ‘damage’. Jika [Bosch] percaya dan mengikuti arahan direktur nasionalnya, itu berarti ‘damage’,” ujarnya menjelaskan.
Namun bagi publik, ucapan maaf itu datang terlambat. Di mata banyak orang, Fátima sudah lebih dulu menang — bukan karena mahkota, tapi karena keteguhan hatinya mempertahankan harga diri.
Simbol Baru Perempuan Modern
Kini, jelang malam final Miss Universe 2025 pada 21 November di Bangkok, sosok Fátima Bosch berdiri bukan hanya sebagai kontestan, tapi sebagai simbol perempuan yang tahu batas harga dirinya. Dengan tinggi 170 sentimeter dan senyum yang lembut, ia melangkah bukan demi trofi, tapi untuk mengingatkan dunia bahwa martabat perempuan tidak bisa ditawar.
Dalam setiap wawancaranya, Fátima selalu menegaskan bahwa ia tidak menyesali keputusannya meninggalkan ruangan itu. “Saya hanya ingin dihormati seperti manusia, bukan aksesori dalam acara besar,” katanya.
Dunia mungkin akan terus memperdebatkan siapa yang benar atau salah dalam insiden itu. Tapi satu hal pasti: keberanian Fátima telah menulis bab baru dalam sejarah pageant — sebuah kisah bahwa keanggunan sejati lahir dari keberanian untuk berkata tidak.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










