bukamata.id – Turnamen Piala Presiden 2025 yang seharusnya menjadi ajang bergengsi sepak bola nasional justru menuai kritik tajam dari publik. Final yang mempertemukan dua klub asing, Oxford United (Inggris) dan Port FC (Thailand), memunculkan pertanyaan besar: untuk siapa sebenarnya turnamen ini digelar?
Oxford United dan Port FC sukses melangkah ke partai puncak setelah sama-sama menyapu bersih dua pertandingan di fase grup. Oxford unggul di Grup A setelah mencetak kemenangan besar atas Liga Indonesia All-Stars (6-3) dan Arema FC (4-0). Sementara Port FC memimpin Grup B usai menaklukkan Persib Bandung 2-0 dan Dewa United 2-1.
Kedua tim akan bentrok dalam laga final yang digelar di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Minggu (13/7) pukul 19.30 WIB. Di tempat yang sama, sehari sebelumnya, Liga Indonesia All-Stars akan melawan Dewa United untuk memperebutkan posisi ketiga.
Kritik Pedas Netizen: “Piala Presiden Rasa Liga Ekshibisi”
Alih-alih memicu kebanggaan nasional, final Piala Presiden 2025 justru menjadi bahan olokan publik. Di media sosial, terutama di akun Instagram @pengamatsepakbola, warganet ramai-ramai mempertanyakan logika turnamen yang dinamai “Piala Presiden” tetapi berujung memberikan trofi dan hadiah miliaran rupiah kepada klub asing.
Komentar-komentar pedas pun bermunculan:
“Piala Presiden paling nggak jelas sepanjang masa,”
“Yang juara klub luar juga ujungnya. Ini mah bukan Piala Presiden, tapi Piala Erick Thohir,”
“Final dikuasai klub luar, hadiahnya pun lari ke luar negeri. Klub lokal cuma dapat hikmah dan malu,”
“Negara ngasih duit buat orang luar. Padahal uang segitu bisa buat pengembangan tim lokal,”
Kritikan bahkan langsung diarahkan pada Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang dianggap gagal membawa misi pembinaan dan kebanggaan nasional lewat turnamen ini. Banyak yang menilai, kehadiran klub luar negeri di turnamen ini seolah hanya membuka keran pengeluaran bagi PSSI, tanpa dampak signifikan untuk sepak bola Indonesia.
Ajang Bergengsi atau Sekadar Showbiz?
Piala Presiden selama ini dikenal sebagai turnamen pramusim prestisius bagi klub-klub Liga 1, yang juga menjadi ajang pencarian bakat lokal dan pemanasan menuju kompetisi resmi. Namun pada edisi 2025, kehadiran dua tim luar yang melenggang ke final dinilai mengaburkan arah dan tujuan turnamen.
“Dulu Piala Presiden itu ajang pembuktian klub lokal, sekarang malah jadi tontonan lawakan yang hadiah dan gengsinya diambil tim asing,” tulis salah satu pengguna media sosial.
Sorotan soal Hadiah Miliaran Rupiah
Tak hanya soal prestise, netizen juga menyoroti aliran dana besar ke klub asing. Dengan estimasi hadiah mencapai miliaran rupiah, publik mempertanyakan keputusan PSSI yang justru memprioritaskan klub tamu ketimbang memperkuat klub-klub lokal yang sedang berjuang secara finansial.
“Erick be like: Lumayan dapet 5,5 M…,” sindir warganet lainnya.
Diketahui, Erick Thohir dan Anindya Bakrie merupakan pemilik saham mayoritas klub kasta kedua Liga Inggris, Oxford United. Keduanya resmi memiliki 51 persen saham Oxford United pada 27 September 2022.
Kesimpulan: Perlu Evaluasi Serius
Dengan kritik yang terus mengalir, Piala Presiden 2025 menjadi pelajaran penting bagi federasi. Meskipun niat mengundang klub luar mungkin ditujukan untuk meningkatkan eksposur internasional, realisasinya justru dinilai melukai kebanggaan nasional.
Jika tak ingin Piala Presiden kehilangan makna dan kepercayaan publik, sudah saatnya PSSI dan Erick Thohir mengevaluasi format dan esensi dari turnamen yang membawa nama kepala negara tersebut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








