Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Prediksi Persib Bandung vs Bali United di Dewata Challenge Series 2026

Senin, 17 Agustus 2026 14:10 WIB

Pasanggrahan Panca Rasa Resmi Dibuka, Kawasan Gedung Sate Kini Bergaya Tempo Dulu

Senin, 17 Agustus 2026 14:00 WIB

Ramon Tanque Terancam Tinggalkan Persib? Klub Liga Vietnam Disebut Siap Menampung

Senin, 17 Agustus 2026 13:41 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Prediksi Persib Bandung vs Bali United di Dewata Challenge Series 2026
  • Pasanggrahan Panca Rasa Resmi Dibuka, Kawasan Gedung Sate Kini Bergaya Tempo Dulu
  • Ramon Tanque Terancam Tinggalkan Persib? Klub Liga Vietnam Disebut Siap Menampung
  • 81 Tahun Indonesia Merdeka, Ratusan Ribu Warga Jabar Belum Punya Akses Listrik
  • PKH-BPNT Tahap 3 Masih Jalan, Ini Kabar Terbaru Bansos Agustus 2026 dan BLT Kesra Rp900 Ribu
  • Update Korban Gempa Flores M7,7: 54 Orang Meninggal, 132 Luka-Luka
  • Kode Redeem FF Hari Ini 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis Spesial HUT RI ke-8
  • Skuad Persib Makin Ganas! 7 Pemain Timnas Kembali, Igor Tolic Langsung Siapkan Laga Asia
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 17 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Gaji Cuma Rp200 Ribu, Nenek Buruh Tani Ini Jadi Tamu Kehormatan Kerajaan Arab Saudi! Kok Bisa?

By Aga GustianaSabtu, 9 Mei 2026 18:50 WIB5 Mins Read
Nenek Jumariah. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di sebuah sudut Dusun Majannang, Desa Kurusumange, Sulawesi Selatan, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sana, di antara hamparan hijau sawah yang mengepung Kecamatan Tanralili, berdiri sebuah rumah tua yang bersahaja. Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, melainkan saksi bisu dari sebuah rahasia besar yang tersimpan rapat selama hampir dua dekade di bawah kolong tempat tidur.

Pemiliknya adalah Jumariah, seorang perempuan senja yang tubuhnya mulai membungkuk dimakan usia. Sehari-hari, ia adalah bagian dari lanskap persawahan Maros—seorang buruh tani yang akrab dengan lumpur, terik matahari, dan dinginnya air sawah. Namun, siapa sangka, dari tangan yang kasar karena pacul dan punggung yang pegal karena memanen padi, lahir sebuah kisah yang kini menggetarkan hati jemaah haji di seantero Madinah.

Nenek Jumariah kini bukan lagi sekadar buruh tani anonim. Ia telah dinobatkan sebagai ikon global “Makkah Route” tahun ini. Sebuah gelar yang barangkali tak pernah ia bayangkan saat ia masih sibuk menyeka keringat di pematang sawah. Kisahnya yang viral sontak memancing simpati jutaan orang. “Terharu banget Masyaa Allah,” tulis salah satu netizen yang tak kuasa menahan haru melihat perjuangan sang nenek.

Rahasia di Dalam Ember Plastik

Perjalanan suci Nenek Jumariah tidak dimulai dari loket bank atau biro perjalanan mewah. Ia dimulai dari sebuah ember plastik tua yang diletakkan di bawah tempat tidurnya, tertutup selembar kain lusuh agar tak terlihat mata asing. Di sanalah, setiap rupiah yang berhasil ia sisihkan, “diistirahatkan” untuk tujuan yang lebih besar.

“Kalau sudah dapat uang, saya simpan di ember. Tidak pernah saya ambil lagi,” kenangnya dengan suara lirih yang sesekali bergetar.

Kehidupan Jumariah adalah sebuah simfoni tentang ketabahan yang ekstrem. Sebagai buruh sawah dan kebun, penghasilannya tidak menentu, seringkali hanya berkisar Rp200 ribu per bulan. Namun, dari jumlah yang bagi sebagian orang hanya cukup untuk sekali makan di restoran kota, Jumariah mampu menyisihkan Rp20 ribu hingga Rp200 ribu untuk masa depannya di Tanah Suci.

Ada disiplin baja di balik kelembutan wajahnya. Saat perutnya keroncongan dan dompetnya kosong, ia tak sudi menyentuh “uang Tuhan” yang ada di dalam ember itu. Alih-alih mengambil tabungan hajinya, ia lebih memilih berjalan ke belakang rumah, memetik pucuk daun ubi, atau merebus sebutir telur ayam seadanya.

“Kalau lapar saya masak sayur saja. Yang penting uang haji jangan dipakai,” tuturnya. Ketangguhan fisik dan batin ini membuat banyak orang takjub. “Merindinggggg. Allohumma barik, fisiknya masih tegap…lancar ibadahnya ya nek. Jadi haji mabrur dan makbul,” ujar seorang netizen memberikan doa terbaiknya.

Amanah yang Dibawa ke Liang Lahat

Bagi Jumariah, naik haji bukan sekadar menjalankan rukun Islam kelima. Ini adalah sebuah misi cinta, sebuah wasiat yang ia pikul dari kedua orang tuanya yang telah tiada. Dahulu, saat ayah dan ibunya masih hidup, mereka menaruh harapan besar pada putri bungsu mereka ini.

“Orang tua saya bilang, kalau punya uang pergilah ke Tanah Suci karena mereka sudah tidak sempat pergi,” kenang Jumariah sambil menahan tangis yang pecah di sudut matanya.

Sejak saat itu, setiap ayunan cangkul di sawah adalah doa. Setiap tetes keringat yang jatuh ke bumi Maros adalah kepingan rindu untuk orang tuanya. Ia menabung bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk melunasi impian ayah dan ibunya yang terkubur bersama jasad mereka di tanah Sulawesi. Perjuangan tanpa henti inilah yang membuat siapa pun yang mendengar kisahnya akan merasakan getaran emosi yang sama. “Masyaallah merinding dan berkaca2 melihat ini,” tulis seorang netizen di kolom komentar.

Tahun 2011 menjadi tonggak sejarah. Setelah bertahun-tahun mengumpulkan recehan, ia akhirnya memberanikan diri mendaftar. Namun, penantian itu ternyata masih panjang. Ia harus menunggu 15 tahun lagi hingga namanya benar-benar dipanggil. Selama masa tunggu itu, ia tetap menjadi Jumariah yang sama: buruh tani yang setia pada sawahnya, yang tetap membawa bekal air minum hanya setengah liter demi menghemat pengeluaran.

Menjadi Ikon Dunia di Tanah Suci

Kini, di tahun 2026, keajaiban itu nyata. Nenek Jumariah melangkah di atas karpet merah bandara melalui jalur Makkah Route, sebuah fasilitas istimewa yang memudahkannya tiba di Arab Saudi tanpa kendala birokrasi yang melelahkan. Namun, bagi Jumariah, kemewahan itu tak ada artinya dibanding getaran hebat saat ia pertama kali melihat payung-payung raksasa di Masjid Nabawi.

Ia mengaku sempat tidak percaya. “Saya orang miskin. Yang bikin saya sampai ke sini karena panggilan Tuhan,” katanya polos. Kepolosan itu pula yang terpancar saat ia bercerita tentang keberaniannya berjalan jauh di kampung halaman, namun merasa gentar di Madinah yang ramai.

“Kalau di kampung saya bisa jalan lima kilo sendiri. Kalau di sini saya takut nyasar karena ramai,” ujarnya. Meski tak bisa membaca dan diliputi rasa takut tersesat di tengah jutaan manusia, kaki renta itu tetap melangkah setiap waktu salat tiba. Ia tak ingin melewatkan satu detik pun tanpa bersujud di masjid sang Nabi.

Pelajaran dari Maros untuk Dunia

Kisah Nenek Jumariah adalah antitesis dari dunia modern yang serba instan. Ia mengajarkan bahwa niat yang tulus (nawaitu) jauh lebih kuat daripada angka-angka di rekening bank. Ia membuktikan bahwa Tuhan tidak memanggil mereka yang mampu secara finansial, melainkan memampukan mereka yang benar-benar rindu dan mau berjuang.

Di Madinah, di antara gedung-gedung pencakar langit dan hotel berbintang, sosok kecil berbaju batik haji ini berdiri tegak sebagai simbol ketulusan. Ia tidak memiliki anak untuk bersandar, ia telah lama berpisah dari suami, namun ia memiliki iman yang membuatnya tak pernah merasa sendirian.

Kini, doa Nenek Jumariah sangat sederhana. Ia tak meminta kekayaan atau kembalinya masa muda. Ia hanya ingin diberi umur panjang agar bisa merasakan ketenangan di Madinah dan Makkah sedikit lebih lama lagi.

“Saya suka di sini. Rasanya tenang sekali. Semoga saya bisa ke sini lagi,” ucapnya menutup percakapan, sementara di kejauhan, azan berkumandang dari menara Masjid Nabawi, memanggil jiwa-jiwa tulus seperti Jumariah untuk kembali bersujud. Kisah dari pelosok Maros ini akan terus bergulir, menjadi pengingat bagi siapa saja bahwa di tangan Tuhan, sebuah ember plastik di bawah tempat tidur bisa menjadi jembatan menuju surga.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Buruh Tani Naik Haji Haji Maros Sulawesi Selatan Ikon Makkah Route 2026 Kisah Inspiratif Haji kisah viral Nenek Jumariah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kode Redeem FF Hari Ini 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis Spesial HUT RI ke-8

Harga Emas Antam Hari Ini Stabil, Buyback Rp2,525 Juta per Gram: Cek Daftar Lengkapnya

Pagi-Pagi ke Bandung? 5 Tempat Sarapan Hits Ini Bisa Jadi Pilihan

Berburu Promo 17 Agustus! Ada Makan Rp81 Ribu hingga Buy 1 Free 1 di Restoran Ini

Ga Nyangka! Legenda Kung Fu Beri Penghormatan, Jackie Chan Akhirnya Akui Kekuatan Silat Indonesia

Buruan Klaim! Kode Redeem FF Hari Ini Banjir Hadiah Gratis, Ada Diamond dan Skin Langka

Terpopuler
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Mengenal Susanah, Ibu Pengupas Bawang Asal Bogor yang Disebut Prabowo Diupah Rp700 Ribu per Kg
  • BPRS HIK Parahyangan Akui Hadapi Penyesuaian Likuiditas, Dana Deposito Tetap Jadi Kewajiban
  • Jelang HUT RI ke-81, Warga Cikutra Bikin Terowongan Merah Putih Sepanjang 180 Meter
  • Kode Redeem ML 14 Agustus 2026 Terbaru, Ada Diamond dan Skin Gratis Hari Ini
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.