bukamata.id – Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah militer Iran mengerahkan unit persenjataan paling mutakhirnya untuk membalas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Dalam operasi yang berlangsung sejak akhir Februari lalu, Teheran mencatatkan sejarah militer dengan meluncurkan rudal balistik Sejjil untuk pertama kalinya di medan tempur sebenarnya.
Laporan dari Al Jazeera menyoroti bahwa penggunaan Sejjil menjadi sinyal bahaya bagi sistem pertahanan udara lawan. Keunggulan utamanya terletak pada penggunaan bahan bakar padat, yang membuat rudal ini sangat sulit dideteksi oleh radar pengintai sebelum terlambat.
Operasi “Ya Zahra”: Gelombang Ke-54 yang Mematikan
Media resmi Iran, Press TV, mengonfirmasi bahwa penyerangan ini merupakan bagian dari rangkaian operasi “True Promise 4”. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa serangan yang dilancarkan pada Minggu (15/3) tersebut menggunakan sandi “Ya Zahra”.
Tidak hanya Sejjil, IRGC juga memuntahkan gudang persenjataan berat lainnya, termasuk:
- Khorramshahr: Rudal raksasa dengan kemampuan hulu ledak ganda.
- Kheybar, Qadr, dan Emad: Rudal jarak menengah yang telah teruji akurasinya.
Brigadir Jenderal Majid Mousavi, Komandan Angkatan Udara IRGC, melalui unggahan di platform X, memvalidasi bahwa Sejjil secara khusus ditargetkan untuk melumpuhkan pusat komando militer dan infrastruktur vital milik Israel.
Mengapa Rudal Sejjil Begitu Ditakuti?
Julukan “Dancing Missile” atau rudal berdansa melekat pada Sejjil karena kemampuannya melakukan manuver ekstrem di ketinggian tertentu. Hal ini membuatnya mampu mengecoh sistem intersepsi canggih seperti Iron Dome.
Berdasarkan data teknis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan NDTV, berikut adalah spesifikasi yang membuat Sejjil menjadi ancaman serius:
| Spesifikasi | Detail Teknis |
| Jangkauan | Sekitar 2.000 Kilometer |
| Bahan Bakar | Padat (Dua Tahap Pelepasan) |
| Kapasitas Muatan | 700 Kilogram |
| Dimensi | Panjang 18 meter, Diameter 1,25 meter |
| Bobot Total | 23.600 Kilogram |
“Desain berbahan bakar padat menawarkan keunggulan strategis, yang memungkinkan rudal ini dipersiapkan dan diluncurkan lebih cepat daripada sistem berbahan bakar cair lainnya,” tulis laporan CSIS.
Dampak di Lapangan: Sirene Meraung di 141 Titik
Dampak dari serangan masif ini langsung terasa di jantung wilayah Israel. Media lokal melaporkan sirene peringatan dini berbunyi tanpa henti di Tel Aviv, Herzliya, hingga mencakup lebih dari 141 lokasi berbeda. Penduduk terpaksa mencari perlindungan saat gelombang rudal Iran mencoba menembus barisan pertahanan udara dalam konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026 tersebut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










