bukamata.id – Gelombang aksi yang terjadi belakangan ini sejatinya merupakan bentuk ekspresi kekecewaan rakyat terhadap DPR RI dan pemerintah. Massa turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka, bukan untuk mempermainkan isu politik elite.
Namun, sayangnya, di tengah gejolak tersebut, muncul narasi yang mencoba mengaitkan aksi protes dengan perseteruan antara Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo. Framing semacam ini dinilai hanya memperkeruh suasana.
Sekretaris Jenderal Gibranku, Pangeran Mangkubumi, menegaskan bahwa narasi tersebut sengaja diarahkan untuk membenturkan dua figur besar.
“Kami mencermati adanya narasi-narasi yang sengaja dibentuk untuk menciptakan dikotomi antara Presiden Prabowo dan mantan Presiden Jokowi, seolah ada kepentingan tersembunyi yang dimainkan oleh Gibran maupun PSI. Ini bukan hanya absurd, tapi juga merupakan bentuk manipulasi yang merendahkan kecerdasan publik. Narasi-narasi itu harus dihentikan,” ujar Pangeran dalam keterangannya, Rabu (3/9/2025).
Tuduhan Peran Ganda Gibran Dinilai Tak Berdasar
Ia menilai, tuduhan bahwa Gibran atau PSI tengah menjalankan peran ganda hanyalah tafsir politik yang dibangun tanpa dasar objektif. Bahkan, Pangeran menuding ada skenario soft character assassination yang diarahkan untuk menggagalkan konsolidasi nasional yang sedang dibangun di level elite.
“Jika ada yang berfikir Gibran menjadi simbol oposisi dalam diam, tentu itu artinya mereka keliru dalam membaca peta. Gibran adalah bagian dari pemerintahan yang sah, tidak ada motif ganda, tidak ada agenda tersembunyi. Gibran merupakan bagian dari sistem, bukan bermain dibaliknya,” tegasnya.
Hubungan Prabowo–Jokowi Bukan Konflik, Melainkan Estafet
Pangeran juga mengingatkan bahwa hubungan antara Prabowo dan Jokowi tidak bisa dipandang sebagai persaingan tersembunyi, melainkan sebuah kesinambungan kepemimpinan bangsa.
“Kita sedang menyaksikan peralihan yang dewasa, pergantian tongkat estafet kepemimpinan antar dua negarawan, bukan pertarungan tersembunyi. Menempatkan mantan Presiden Jokowi dan Presiden Prabowo dalam dua kutub yang saling meniadakan adalah kegagalan memahami arah sejarah bangsa,” ucapnya.
Ajak Publik Tidak Terjebak Politik Ilusi
Ia kemudian mengajak publik untuk tidak larut dalam “politik ilusi” yang hanya menjual drama namun miskin realitas. Menurutnya, loyalitas barisan Jokowi terhadap kepemimpinan Prabowo adalah sesuatu yang mutlak dan tidak dapat digoyahkan oleh framing media sosial ataupun opini sesaat.
“Jangan biarkan emosi sesaat mengaburkan kepercayaan kita pada proses hukum dan kerja negara. Di tengah hiruk-pikuk opini dan narasi yang saling bersilang, kedewasaan kita sebagai warga negara diuji bukan untuk saling curiga, tetapi untuk tetap percaya bahwa kebenaran akan menemukan jalannya,” tutup Pangeran.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










