Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ibu ODGJ dan Ayah Tiada: Kisah Pilu Tiani, Bocah Patah Kaki yang Telantar di Pedalaman

Kamis, 21 Mei 2026 15:30 WIB
Tijjani Reijnders

Bintang Man City Tijjani Reijnders Pantau Laga Penentu Persib, Titip Pesan Ini ke Eliano!

Kamis, 21 Mei 2026 14:59 WIB

Titik Finis Konvoi Juara Persib Pindah dari Gedung Sate, Bobotoh: Gasskeun, yang Penting Kondusif!

Kamis, 21 Mei 2026 14:44 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ibu ODGJ dan Ayah Tiada: Kisah Pilu Tiani, Bocah Patah Kaki yang Telantar di Pedalaman
  • Bintang Man City Tijjani Reijnders Pantau Laga Penentu Persib, Titip Pesan Ini ke Eliano!
  • Titik Finis Konvoi Juara Persib Pindah dari Gedung Sate, Bobotoh: Gasskeun, yang Penting Kondusif!
  • Bandung Siap Membiru! Dishub Kepung 8 Titik Amankan Pawai Persib
  • Tiket GBLA Ludes, Ini 4 Lokasi Nobar Bioskop Persib vs Persijap Demi Saksi Gelar Juara Hattrick
  • Rekor Baru! Harga Emas Antam Tembus Rp2.800.000 per Gram Hari Ini, Naik Tajam Rp35 Ribu
  • Dulu Dipuja, Dokter Cantik Ini Kini Kurus Kering Digerogoti Penyakit Misterius? Ini Fakta Mengejutkannya!
  • Heboh! Video ‘Bu Guru Bahasa Inggris dan Murid’ Viral di TikTok, Netizen Dibuat Penasaran
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 21 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Ibu ODGJ dan Ayah Tiada: Kisah Pilu Tiani, Bocah Patah Kaki yang Telantar di Pedalaman

By Aga GustianaKamis, 21 Mei 2026 15:30 WIB6 Mins Read
Tiani saat hendak diantar berobat. (Foto: Instagram)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Riuh rendah suara mesin perahu kayu bertipe ketinting membelah keheningan Sungai Mentaya yang luas. Di atas kapal kayu kecil yang bergoyang tak menentu itu, duduk seorang guru muda bernama Fito—atau yang akrab disapa Pak Fito oleh warga sekitar. Tatapannya lurus menembus mendung tebal yang mulai menumpahkan rintik hujan. Di dekatnya, seorang bocah perempuan berusia sekolah dasar tertunduk lesu menahan perih. Di dekat sang bocah, seorang nenek berwajah legam termakan usia memeluk erat cucunya, melafalkan doa-doa tanpa putus dalam balutan kecemasan yang teramat sangat.

Anak perempuan itu bernama Tiani. Di usianya yang masih sangat muda, ia harus merasakan pahitnya realitas kehidupan anak pedalaman. Sudah lebih dari satu minggu, kakinya mengalami patah tulang yang cukup parah. Alih-alih mendapatkan perawatan medis modern di rumah sakit dengan gips dan obat pereda nyeri yang memadai, Tiani hanya bisa terbaring di atas kasur tipis di rumah kayu mereka. Selama tujuh hari yang panjang, ia harus merangkak dan “ngesot” di atas lantai papan hanya untuk sekadar berpindah tempat atau menuntaskan hajatnya.

Bukan karena sang nenek tak sayang pada Tiani, melainkan karena jeruji kemiskinan dan isolasi geografis telah merenggut pilihan mereka. Di bawah atap rumah panggung yang sederhana, waktu seolah berhenti bagi keluarga kecil ini.

Ketika Kemiskinan Memasung Harapan

Kisah pilu Tiani mencuat ke permukaan berkat unggahan video di akun Instagram milik Pak Fito, seorang guru honorer yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di pedalaman Kalimantan Timur. Video yang memperlihatkan kondisi Tiani dengan cepat menyentuh sanubari netizen, menggambarkan potret buram akses kesehatan di wilayah terpencil Indonesia.

Bagi warga kota, patah tulang mungkin merupakan cedera yang bisa segera ditangani di instalasi gawat darurat (IGD) dalam hitungan jam. Namun bagi keluarga Tiani, patah tulang adalah sebuah bencana besar yang melumpuhkan kehidupan. Sang nenek, yang menjadi satu-satunya pelindung Tiani, mengaku bingung dan takut saat musibah itu menimpa cucu tercintanya.

Baca Juga:  Takdir Berkata Lain! Mainan Baru Datang saat Anak Sudah di Surga, Pesan Sang Ayah Bikin Nyesek

“Kami tidak punya biaya sama sekali untuk berobat ke dokter atau rumah sakit, Pak. Akses dari desa kami sangat susah dan ongkos sewa perahu ke kota itu mahal sekali,” ujar sang nenek dengan mata berkaca-kaca, saat menceritakan alasannya membiarkan luka Tiani telantar selama satu minggu.

Ketakutan akan jeratan biaya rumah sakit yang tak terjangkau membuat sang nenek memilih diam, merawat Tiani dengan ramuan tradisional seadanya sambil terus menahan air mata melihat cucunya meringis kesakitan setiap malam. Baginya, meminta bantuan medis adalah kemewahan yang mustahil diraih.

Nestapa Berlapis: Ibu Gangguan Jiwa dan Ayah yang Berpulang

Tragedi yang menimpa Tiani tidak berhenti pada sebatang kakinya yang patah. Di balik dinding-dinding kayu rumahnya yang mulai lapuk, tersimpan kisah kepedihan keluarga yang berlapis-lapis. Tiani hidup dalam lingkungan yang jauh dari kata ideal untuk tumbuh kembang seorang anak.

Ayah kandung Tiani telah lama meninggal dunia, meninggalkan lubang menganga dalam struktur ekonomi keluarga. Sementara itu, sang ibu kandung mengalami gangguan jiwa (ODGJ) yang cukup berat. Di dalam video yang dibagikan, terlihat sang ibu yang terkadang linglung, tidak mampu merespons realitas di sekitarnya dengan normal, apalagi untuk mengasuh dan melindungi anak-anaknya.

Beban berat sebagai kepala keluarga sekaligus pengasuh otomatis jatuh ke pundak sang nenek yang sudah senja. Dengan tenaga yang kian mengikis, nenek Tiani harus berjuang menghidupi diri sendiri, merawat putrinya yang sakit jiwa, dan membesarkan Tiani beserta kakak laki-lakinya yang bernama Abang Atiani.

“Ibu dari anak ini terkena gangguan jiwa, dan ayahnya sudah meninggal. Jadi praktis hanya neneknya yang merawat mereka di tengah segala keterbatasan,” jelas Pak Fito dengan nada suara yang bergetar menahan iba.

Baca Juga:  Kisah Haru Penjaga Sekolah Banyuwangi: Tunaikan Nazar Lari 52 Km Usai Diangkat PPPK

Gerakan Hati Sang Pengabdi

Titik balik perjuangan Tiani dimulai pada suatu pagi yang dingin. Merasa sudah tidak tahan melihat penderitaan cucunya yang kian hari kian melemah, sang nenek membuang jauh-jauh rasa malunya. Ia berjalan tertatih-tatih menuju rumah dinas Pak Fito untuk meminta pertolongan.

Nenek Tiani memohon agar guru muda itu bersedia membantu pengobatan cucunya. Ia bahkan meminjam telepon seluler milik Pak Fito untuk mencoba menghubungi kerabat jauhnya di luar pulau, berharap ada mukjizat atau sekadar uluran tangan dari sana. Mendengar keluh kesah dan melihat langsung kondisi kaki Tiani yang membengkak, hati nurani Pak Fito tergerak. Tugasnya sebagai pendidik seketika meluas menjadi seorang penyelamat kemanusiaan.

Tanpa membuang waktu, Pak Fito bersama beberapa pemuda dan tetangga sekitar langsung mempersiapkan langkah evakuasi. Kondisi cuaca saat itu sama sekali tidak mendukung. Langit pedalaman Kalimantan diguyur hujan lebat, membuat arus sungai menjadi lebih deras dan berbahaya. Namun, semangat kemanusiaan mengalahkan rasa takut mereka.

Tiani digendong dengan hati-hati oleh seorang warga dari dalam rumah menuju dermaga kecil. Di atas perahu ketinting yang terbuka, tubuh mungil Tiani ditutupi selembar kain tipis agar tidak terlalu basah kuyup oleh air hujan. Pak Fito memimpin perjalanan tersebut, menerjang riak air sungai demi mengantarkan sang anak menuju fasilitas kesehatan terdekat, yakni Puskesmas Teraju.

Solidaritas Tanpa Batas untuk Masa Depan Tiani dan Abang Atiani

Perjuangan menembus derasnya arus sungai membuahkan hasil manis. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Tiani akhirnya tiba di Puskesmas dan langsung mendapatkan penanganan medis yang layak dari para dokter dan perawat. Rona bahagia dan lega terpancar jelas dari wajah sang nenek yang selama seminggu penuh didera kecemasan mendalam.

Baca Juga:  Viral Kisah Haru Pertemuan Anak dan Orang Tua Kandung Setelah 22 Tahun Terpisah

Namun, Pak Fito tahu bahwa pengobatan kaki Tiani hanyalah langkah awal. Proses pemulihan membutuhkan waktu yang lama, dan keluarga ini masih harus bertahan hidup di tengah kemiskinan yang mencekik. Melalui akun Instagramnya, Pak Fito membuka pintu donasi bagi masyarakat luas yang ingin meringankan beban Tiani.

Melalui sinergi dengan komunitas pemuda peduli seperti @pengabdi_muda.id dan @rkp, gerakan sosial ini berkembang. Fokus bantuan tidak hanya tertuju pada kesembuhan kaki Tiani, melainkan juga menyasar masa depan pendidikan kakak laki-lakinya, Abang Atiani.

Fakta memilukan lain terungkap bahwa Abang Atiani selama ini terpaksa pergi ke sekolah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Karena keterbatasan biaya, ia terpaksa bersekolah tanpa mengenakan sepatu dan menggunakan perlengkapan belajar seadanya yang sudah usang. Melalui open donasi yang dibuka, netizen diajak bergotong royong membelikan sepatu baru, seragam, tas, dan perlengkapan sekolah yang layak bagi Abang Atiani.

Secercah Cahaya di Ujung Jalan

Kini, Tiani tidak lagi merangkak dalam sunyi. Senyum kecil mulai kembali hadir di wajah manisnya seiring dengan perawatan medis yang ia terima. Bantuan makanan, pakaian, kaos kaki, dan kebutuhan pokok dari para donatur mulai mengalir ke rumah panggung mereka, memberikan sedikit kehangatan di tengah dinginnya lantai papan pedalaman.

Kisah Tiani adalah satu dari ribuan potret anak-anak di beranda belakang republik ini yang harus bertaruh nyawa dan masa depan hanya untuk mendapatkan hak paling mendasar: kesehatan dan pendidikan. Di balik duka yang berlapis, dedikasi seorang guru seperti Pak Fito dan kebaikan hati para donatur menjadi bukti nyata bahwa di tengah keterbatasan akses fisik dan geografis, jarak kepedulian antarmanusia tidak pernah memiliki batas. Tiani kini memiliki harapan baru untuk sembuh, kembali berdiri tegak, dan meraih cita-citanya di bangku sekolah.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Fito Pedalaman Guru Pedalaman kisah haru Kisah Tiani Patah Kaki Pedalaman Kalimantan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi emas antam

Rekor Baru! Harga Emas Antam Tembus Rp2.800.000 per Gram Hari Ini, Naik Tajam Rp35 Ribu

Dulu Dipuja, Dokter Cantik Ini Kini Kurus Kering Digerogoti Penyakit Misterius? Ini Fakta Mengejutkannya!

Heboh! Video ‘Bu Guru Bahasa Inggris dan Murid’ Viral di TikTok, Netizen Dibuat Penasaran

Link Full Video Bu Guru Bahasa Inggris Ramai Dicari, Ini Fakta Sebenarnya

Link Video Viral Guru Bahasa Inggris vs Murid Durasi Panjang Jadi Buruan Netizen, Hati-hati Modus Malware!

Geger Skandal Video Viral TKW Taiwan: Sisi Gelap di Balik Jerat Phishing yang Mengancam Netizen

Terpopuler
  • Dicari Link Full 6 Menit, Video Guru Bahasa Inggris Ini Justru Bikin Publik Curiga
  • Link Video Viral Tukang Cilok, Konten Prank Bikin Penasaran!
  • Link Video Viral Skandal Guru Bahasa Inggris vs Murid, Benarkah Ada Kelanjutannya?
  • Link ‘Guru Bahasa Inggris Viral’ Ramai Dicari, Pakar Ingatkan Bahaya Phishing dan Malware
  • Video Viral Guru Bahasa Inggris dan Murid Kembali Heboh, Link ‘Full 6 Menit’ Jadi Sorotan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.