bukamata.id – Riuh rendah suara mesin perahu kayu bertipe ketinting membelah keheningan Sungai Mentaya yang luas. Di atas kapal kayu kecil yang bergoyang tak menentu itu, duduk seorang guru muda bernama Fito—atau yang akrab disapa Pak Fito oleh warga sekitar. Tatapannya lurus menembus mendung tebal yang mulai menumpahkan rintik hujan. Di dekatnya, seorang bocah perempuan berusia sekolah dasar tertunduk lesu menahan perih. Di dekat sang bocah, seorang nenek berwajah legam termakan usia memeluk erat cucunya, melafalkan doa-doa tanpa putus dalam balutan kecemasan yang teramat sangat.
Anak perempuan itu bernama Tiani. Di usianya yang masih sangat muda, ia harus merasakan pahitnya realitas kehidupan anak pedalaman. Sudah lebih dari satu minggu, kakinya mengalami patah tulang yang cukup parah. Alih-alih mendapatkan perawatan medis modern di rumah sakit dengan gips dan obat pereda nyeri yang memadai, Tiani hanya bisa terbaring di atas kasur tipis di rumah kayu mereka. Selama tujuh hari yang panjang, ia harus merangkak dan “ngesot” di atas lantai papan hanya untuk sekadar berpindah tempat atau menuntaskan hajatnya.
Bukan karena sang nenek tak sayang pada Tiani, melainkan karena jeruji kemiskinan dan isolasi geografis telah merenggut pilihan mereka. Di bawah atap rumah panggung yang sederhana, waktu seolah berhenti bagi keluarga kecil ini.
Ketika Kemiskinan Memasung Harapan
Kisah pilu Tiani mencuat ke permukaan berkat unggahan video di akun Instagram milik Pak Fito, seorang guru honorer yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di pedalaman Kalimantan Timur. Video yang memperlihatkan kondisi Tiani dengan cepat menyentuh sanubari netizen, menggambarkan potret buram akses kesehatan di wilayah terpencil Indonesia.
Bagi warga kota, patah tulang mungkin merupakan cedera yang bisa segera ditangani di instalasi gawat darurat (IGD) dalam hitungan jam. Namun bagi keluarga Tiani, patah tulang adalah sebuah bencana besar yang melumpuhkan kehidupan. Sang nenek, yang menjadi satu-satunya pelindung Tiani, mengaku bingung dan takut saat musibah itu menimpa cucu tercintanya.
“Kami tidak punya biaya sama sekali untuk berobat ke dokter atau rumah sakit, Pak. Akses dari desa kami sangat susah dan ongkos sewa perahu ke kota itu mahal sekali,” ujar sang nenek dengan mata berkaca-kaca, saat menceritakan alasannya membiarkan luka Tiani telantar selama satu minggu.
Ketakutan akan jeratan biaya rumah sakit yang tak terjangkau membuat sang nenek memilih diam, merawat Tiani dengan ramuan tradisional seadanya sambil terus menahan air mata melihat cucunya meringis kesakitan setiap malam. Baginya, meminta bantuan medis adalah kemewahan yang mustahil diraih.
Nestapa Berlapis: Ibu Gangguan Jiwa dan Ayah yang Berpulang
Tragedi yang menimpa Tiani tidak berhenti pada sebatang kakinya yang patah. Di balik dinding-dinding kayu rumahnya yang mulai lapuk, tersimpan kisah kepedihan keluarga yang berlapis-lapis. Tiani hidup dalam lingkungan yang jauh dari kata ideal untuk tumbuh kembang seorang anak.
Ayah kandung Tiani telah lama meninggal dunia, meninggalkan lubang menganga dalam struktur ekonomi keluarga. Sementara itu, sang ibu kandung mengalami gangguan jiwa (ODGJ) yang cukup berat. Di dalam video yang dibagikan, terlihat sang ibu yang terkadang linglung, tidak mampu merespons realitas di sekitarnya dengan normal, apalagi untuk mengasuh dan melindungi anak-anaknya.
Beban berat sebagai kepala keluarga sekaligus pengasuh otomatis jatuh ke pundak sang nenek yang sudah senja. Dengan tenaga yang kian mengikis, nenek Tiani harus berjuang menghidupi diri sendiri, merawat putrinya yang sakit jiwa, dan membesarkan Tiani beserta kakak laki-lakinya yang bernama Abang Atiani.
“Ibu dari anak ini terkena gangguan jiwa, dan ayahnya sudah meninggal. Jadi praktis hanya neneknya yang merawat mereka di tengah segala keterbatasan,” jelas Pak Fito dengan nada suara yang bergetar menahan iba.
Gerakan Hati Sang Pengabdi
Titik balik perjuangan Tiani dimulai pada suatu pagi yang dingin. Merasa sudah tidak tahan melihat penderitaan cucunya yang kian hari kian melemah, sang nenek membuang jauh-jauh rasa malunya. Ia berjalan tertatih-tatih menuju rumah dinas Pak Fito untuk meminta pertolongan.
Nenek Tiani memohon agar guru muda itu bersedia membantu pengobatan cucunya. Ia bahkan meminjam telepon seluler milik Pak Fito untuk mencoba menghubungi kerabat jauhnya di luar pulau, berharap ada mukjizat atau sekadar uluran tangan dari sana. Mendengar keluh kesah dan melihat langsung kondisi kaki Tiani yang membengkak, hati nurani Pak Fito tergerak. Tugasnya sebagai pendidik seketika meluas menjadi seorang penyelamat kemanusiaan.
Tanpa membuang waktu, Pak Fito bersama beberapa pemuda dan tetangga sekitar langsung mempersiapkan langkah evakuasi. Kondisi cuaca saat itu sama sekali tidak mendukung. Langit pedalaman Kalimantan diguyur hujan lebat, membuat arus sungai menjadi lebih deras dan berbahaya. Namun, semangat kemanusiaan mengalahkan rasa takut mereka.
Tiani digendong dengan hati-hati oleh seorang warga dari dalam rumah menuju dermaga kecil. Di atas perahu ketinting yang terbuka, tubuh mungil Tiani ditutupi selembar kain tipis agar tidak terlalu basah kuyup oleh air hujan. Pak Fito memimpin perjalanan tersebut, menerjang riak air sungai demi mengantarkan sang anak menuju fasilitas kesehatan terdekat, yakni Puskesmas Teraju.
Solidaritas Tanpa Batas untuk Masa Depan Tiani dan Abang Atiani
Perjuangan menembus derasnya arus sungai membuahkan hasil manis. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Tiani akhirnya tiba di Puskesmas dan langsung mendapatkan penanganan medis yang layak dari para dokter dan perawat. Rona bahagia dan lega terpancar jelas dari wajah sang nenek yang selama seminggu penuh didera kecemasan mendalam.
Namun, Pak Fito tahu bahwa pengobatan kaki Tiani hanyalah langkah awal. Proses pemulihan membutuhkan waktu yang lama, dan keluarga ini masih harus bertahan hidup di tengah kemiskinan yang mencekik. Melalui akun Instagramnya, Pak Fito membuka pintu donasi bagi masyarakat luas yang ingin meringankan beban Tiani.
Melalui sinergi dengan komunitas pemuda peduli seperti @pengabdi_muda.id dan @rkp, gerakan sosial ini berkembang. Fokus bantuan tidak hanya tertuju pada kesembuhan kaki Tiani, melainkan juga menyasar masa depan pendidikan kakak laki-lakinya, Abang Atiani.
Fakta memilukan lain terungkap bahwa Abang Atiani selama ini terpaksa pergi ke sekolah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Karena keterbatasan biaya, ia terpaksa bersekolah tanpa mengenakan sepatu dan menggunakan perlengkapan belajar seadanya yang sudah usang. Melalui open donasi yang dibuka, netizen diajak bergotong royong membelikan sepatu baru, seragam, tas, dan perlengkapan sekolah yang layak bagi Abang Atiani.
Secercah Cahaya di Ujung Jalan
Kini, Tiani tidak lagi merangkak dalam sunyi. Senyum kecil mulai kembali hadir di wajah manisnya seiring dengan perawatan medis yang ia terima. Bantuan makanan, pakaian, kaos kaki, dan kebutuhan pokok dari para donatur mulai mengalir ke rumah panggung mereka, memberikan sedikit kehangatan di tengah dinginnya lantai papan pedalaman.
Kisah Tiani adalah satu dari ribuan potret anak-anak di beranda belakang republik ini yang harus bertaruh nyawa dan masa depan hanya untuk mendapatkan hak paling mendasar: kesehatan dan pendidikan. Di balik duka yang berlapis, dedikasi seorang guru seperti Pak Fito dan kebaikan hati para donatur menjadi bukti nyata bahwa di tengah keterbatasan akses fisik dan geografis, jarak kepedulian antarmanusia tidak pernah memiliki batas. Tiani kini memiliki harapan baru untuk sembuh, kembali berdiri tegak, dan meraih cita-citanya di bangku sekolah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










