bukamata.id – Pemerintah meluncurkan program ambisius untuk mempercepat kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus perumahan, kuota rumah subsidi tahun ini meningkat menjadi 350 ribu unit secara nasional.
Menteri Perumahan Rakyat, Maruarar Sirait, menyebut langkah ini sebagai terobosan besar dalam sejarah kebijakan perumahan. “Untuk pertama kalinya ada KUR khusus perumahan. Bayangkan, kontraktor, developer, hingga toko bangunannya ikut disubsidi,” ujar Maruarar di Sasana Budaya Ganesha, Kamis (18/9/2025) malam.
Pemerintah memberikan subsidi bunga 5 persen, sehingga masyarakat hanya menanggung bunga kredit sebesar 6 persen. Skema ini bahkan mencakup kebutuhan rumah produktif seperti homestay atau rumah makan dengan plafon pinjaman hingga Rp500 juta.
Tak hanya menambah kuota rumah subsidi, pemerintah juga menghapus sejumlah biaya perizinan yang selama ini memberatkan masyarakat. Mulai dari Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) hingga Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) kini digratiskan.
Sebagai bagian dari akselerasi, pemerintah akan meluncurkan 25 ribu rumah subsidi secara serentak di Bogor pada 29 September mendatang. Peluncuran ini melibatkan 100 titik di 35 provinsi sekaligus, sebuah gebrakan yang disebut Maruarar sebagai bukti soliditas ekosistem perumahan rakyat.
Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem dari hulu ke hilir. Dari sisi suplai, peran developer, kontraktor, hingga toko bangunan harus berjalan beriringan. Dari sisi demand, rumah subsidi juga diarahkan untuk mendorong UMKM agar memiliki hunian sekaligus ruang usaha produktif.
“Program ini masif dengan anggaran Rp130 triliun. Saya berharap penyerapan terbesar datang dari Jawa Barat,” kata Maruarar.
Di kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan, pembangunan rumah subsidi bukan sekadar angka, melainkan momentum pemerataan ekonomi. Menurutnya, setiap proyek perumahan harus memberi daya dukung bagi banyak pihak, mulai dari supir truk, mandor, tukang kayu, hingga warung-warung di sekitar lokasi.
“Setiap rumah yang dibangun itu menggerakkan multiplayer ekonomi. Ada tukang, ada toko bangunan, bahkan warung kopi di dekat proyek yang ikut hidup. Itu yang harus dijaga,” ucap Dedi.
Dedi juga mengingatkan pentingnya prioritas dalam membangun kesejahteraan. Ia mengajak masyarakat untuk menunda gaya hidup konsumtif.
“Jangan dulu kredit mobil kalau rumah belum punya. Jangan dulu kredit motor kalau fondasi kemakmuran belum kokoh,” jelasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










