bukamata.id – Baru sehari dilantik menggantikan Sri Mulyani, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sudah memantik perdebatan di ruang publik. Bukan hanya pernyataannya soal gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat yang menuai polemik, tetapi juga komentarnya soal anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah reshuffle kabinet.
Pernyataan yang Disebut Terlalu Sombong
Dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Senin (8/9/2025), Purbaya menanggapi aksi demonstrasi yang menyoroti kondisi ekonomi nasional. Ia menilai suara tersebut hanya datang dari sebagian kecil masyarakat.
“Itu kan suara sebagian kecil rakyat kita. Mungkin ada yang merasa hidupnya masih kurang puas,” ujar Purbaya.
Tak berhenti di situ, ia juga menanggapi jatuhnya IHSG 1,28 persen ke level 7.766,84 usai dirinya resmi dilantik. Menurut Purbaya, situasi itu wajar dan ia percaya pasar bakal pulih dalam waktu singkat.
“IHSG anjlok itu biasa, mungkin investor takut. Tapi saya sudah lebih dari 15 tahun di pasar, saya tahu betul cara memperbaiki ekonomi,” katanya dengan nada optimistis.
Ucapan tersebut justru ramai dihujat warganet. Banyak yang menilai gaya bicara Purbaya terkesan arogan dan meremehkan keresahan publik. Di media sosial, sebagian besar komentar menantang Purbaya untuk membuktikan ucapan, bukan sekadar melontarkan janji.
IHSG Anjlok, Publik Menunggu Bukti
Fenomena jatuhnya IHSG tepat setelah pengumuman reshuffle kabinet, termasuk pencopotan Sri Mulyani, semakin mempertebal keraguan. Publik menilai tantangan yang dihadapi Menkeu baru tidak ringan, apalagi ekspektasi investor terhadap sosok pengganti Sri Mulyani sudah tinggi sejak awal.
Bagi banyak pihak, persoalannya bukan hanya soal jargon atau optimisme, tetapi seberapa cepat Purbaya bisa menunjukkan hasil konkret di tengah ketidakpastian global dan tekanan fiskal domestik.
Jejak Karir Panjang Purbaya
Meski kontroversial di awal jabatan, rekam jejak Purbaya Yudhi Sadewa tidak bisa dipandang remeh. Ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan.
Purbaya tercatat menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi di Kemenko Kemaritiman dan Investasi pada periode Mei 2018 hingga September 2020, ketika kementerian tersebut dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan.
Sebelumnya, ia juga dipercaya sebagai Staf Khusus Bidang Ekonomi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Juli 2016–Mei 2018), serta Staf Khusus Bidang Ekonomi Menko Polhukam (November 2015–Juli 2016). Kariernya di pemerintahan juga sempat membawanya menjadi Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis di Kantor Staf Presiden (April–September 2015), Staf Khusus Bidang Ekonomi Menko Perekonomian (2010–2014), hingga Anggota Komite Ekonomi Nasional (2010–2014).
Sebelum aktif di birokrasi, Purbaya lebih dulu berkiprah di dunia profesional. Ia mengawali karier sebagai Field Engineer di Schlumberger Overseas SA (1989–1994). Kemudian, ia melanjutkan perjalanannya di sektor riset dan pasar modal, antara lain sebagai Senior Economist di Danareksa Research Institute (2000–2005), Chief Economist di lembaga yang sama (2005–2013), Direktur Utama PT Danareksa Securities (2006–2008), serta Anggota Dewan Direksi PT Danareksa (Persero) (2013–2015).
Dari sisi pendidikan, Purbaya Yudhi Sadewa menamatkan studi Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke luar negeri dengan meraih gelar Master of Science (M.Sc.) dan Doktor di bidang Ilmu Ekonomi dari Purdue University, Indiana, Amerika Serikat.
Publik Menunggu Langkah Konkret
Kini, publik dan pelaku pasar sama-sama menunggu bagaimana Menkeu baru ini menjawab keraguan. Kontroversi awal bisa saja menjadi batu sandungan, atau justru momentum untuk membuktikan kapasitasnya. Yang jelas, semua mata sedang mengawasi apakah janji Purbaya mampu diikuti dengan bukti nyata di lapangan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










