bukamata.id – Angin segar berembus ke pasar keuangan regional. Mayoritas mata uang di kawasan Asia sukses membukukan kinerja impresif dengan menggilas kedigdayaan dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan awal pekan.
Apresiasi massal ini dipicu oleh rontoknya indeks greenback di pasar global. Melemahnya mata uang Negeri Paman Sam tersebut merupakan imbas langsung dari mencuatnya sentimen positif terkait progres rekonsiliasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Rupiah Pimpin Skuad Garuda Asia, Dong Vietnam Merana Sendiri
Berdasarkan data kompilasi dari Refinitiv, dari sepuluh mata uang utama Asia yang dipantau, sembilan di antaranya berhasil memaksa dolar AS bertekuk lutut.
Mata uang Garuda tampil sebagai bintang lapangan dengan mencatatkan persentase keuntungan tertinggi di seluruh kawasan Asia. Rupiah melesat tajam 0,92% hingga mengunci posisi di level Rp17.700 per dolar AS. Lonjakan ini menjadi momentum krusial bagi mata uang domestik untuk keluar dari zona tekanan global yang sempat membayangi pada periode sebelumnya.
Berikut peta kekuatan kurs mata uang Asia terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan tersebut:
| Mata Uang Asia | Tingkat Apresiasi / Depresiasi | Posisi Kurs per Dolar AS |
| Rupiah Indonesia (IDR) | Menguat 0,92% | Rp17.700 |
| Baht Thailand (THB) | Menguat 0,43% | 32,55 |
| Won Korea Selatan (KRW) | Menguat 0,37% | 1.512,6 |
| Dolar Taiwan (TWD) | Menguat 0,27% | 31,524 |
| Dolar Singapura (SGD) | Menguat 0,18% | 1,2817 |
| Ringgit Malaysia (MYR) | Menguat 0,17% | 4,048 |
| Peso Filipina (PHP) | Menguat 0,10% | 60,596 |
| Yuan China (CNY) | Menguat 0,07% | 6,758 |
| Yen Jepang (JPY) | Menguat 0,01% | 160,2 |
| Dong Vietnam (VND) | Melemah 0,02% | 26.255 |
Indeks DXY Longsor, Harga Minyak Mentah Dunia Ikut Amblas
Keterpurukan mata uang AS tercermin jelas dari posisi Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Indeks DXY terpantau melorot 0,17% ke area 99,578. Anjloknya indeks ini langsung memberikan ruang bernapas yang lega bagi mata uang negara berkembang (emerging markets).
Pemicu utama runtuhnya keperkasaan dolar AS bermula dari tercapainya draf kesepakatan damai strategis antara AS dan Iran. Kesepakatan ini mencakup komitmen krusial, yakni:
- Penghentian blokade ekonomi oleh Amerika Serikat terhadap Teheran.
- Pembukaan kembali jalur logistik energi vital dunia di Selat Hormuz.
Merespons iklim damai ini, harga minyak mentah global langsung terjun bebas. Minyak jenis Brent ambrol lebih dari 4% hingga menyentuh level US$83,82 per barel. Penurunan harga komoditas energi ini menjadi katalis positif bagi pasar finansial karena dinilai mampu meredam gejolak inflasi global, yang pada gilirannya akan menahan laju agresivitas suku bunga bank sentral seperti The Fed.
Investor Tetap Pasang Kuda-kuda Mengantisipasi Ancaman Donald Trump
Kendati pasar keuangan saat ini tengah bersuka cita, para pelaku pasar dan investor global diimbau untuk tidak lengah. Risiko volatilitas geopolitik sewaktu-waktu bisa kembali meledak.
Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras bahwa Washington tidak akan segan-segan mengembalikan opsi kekuatan militer ke meja perundingan apabila Iran kedapatan melanggar komitmen akhir kesepakatan nuklir yang tengah digodok.
Sikap hati-hati dari para pelaku pasar ini mengindikasikan bahwa pergerakan nilai tukar, harga komoditas, serta sentimen investasi ke depan masih akan sangat bergantung pada dinamika politik internasional dan arah kebijakan moneter global.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










