Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Ilustrasi virus HIV/AIDS

Puluhan Kasus HIV/AIDS Ditemukan di Pangandaran, Sejumlah Calon Pengantin Ikut Positif Terinfeksi

Selasa, 6 Oktober 2026 19:19 WIB

Misi Putus Tren Buruk: Marc Klok Tegaskan Persib Incar Kemenangan di Kandang Port FC

Selasa, 6 Oktober 2026 19:08 WIB

bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas

Selasa, 6 Oktober 2026 18:57 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Puluhan Kasus HIV/AIDS Ditemukan di Pangandaran, Sejumlah Calon Pengantin Ikut Positif Terinfeksi
  • Misi Putus Tren Buruk: Marc Klok Tegaskan Persib Incar Kemenangan di Kandang Port FC
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Bejat! Oknum Guru Ngaji di Sukabumi Cabuli 7 Anak, Modus Ajak Main
  • Bukan Gertak Sambal! Luka Menalo Ungkap Persiapan Persib Jelang Tantang Port FC
  • Bukan Cuma Seblak! 4 Kuliner Bandung Ini Lagi Jadi Buruan Wisatawan
  • Viral! Sejumlah Pengunjung Diduga Keracunan Massal Usai Makan di Restoran Korea Bandung
  • Gaji PNS dan Dana Pensiun Bakal Disalurkan Lewat Koperasi, Pemerintah Godok Aturan Baru
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 6 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ribuan Hektare Sawah Sukabumi Terancam Puso: El Nino Picu Krisis Air di Lumbung Pangan Selatan

By Aga GustianaJumat, 14 Agustus 2026 21:22 WIB4 Mins Read
El Nino
Ilustrasi dampak El Nino. (Foto: Dok BNPB)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Fenomena cuaca ekstrem El Nino yang mendera wilayah Jawa Barat mulai menghantam sektor pertanian di Kabupaten Sukabumi secara drastis. Akibat surutnya pasokan air dan kemarau yang berkepanjangan, ribuan hektare lahan pertanian warga kini terancam mengalami gagal panen total atau puso, dengan kondisi terparah terpusat di kawasan selatan.

Berdasarkan data Pemkab Sukabumi, dampak kemarau ini telah meluas hingga mengancam ribuan hektare areal tanam dari total puluhan ribu hektare lahan persawahan yang tersebar di berbagai wilayah.

“Dari total lebih dari 62.000 hektar luas sawah kita di Kabupaten Sukabumi, tercatat ada 8.925 hektar pertanaman sawah maupun tegalan yang terdampak kekeringan,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, saat ditemui di kantor UPTD Distan, Baros, Kota Sukabumi, Jumat (14/8/2026).

Fase Kritis Tanaman dan Penyusutan Luas Tanam di Selatan

Dampak krisis air ini paling dirasakan oleh para petani yang baru memasuki masa awal tanam. Tanaman padi yang baru berumur hitungan hari hingga dua pekan sangat rentan mati jika pasokan irigasi terhenti secara mendadak.

“Yang terdampak yang pertama yang lagi pertumbuhan vegetatif. Baru ditanam mungkin seminggu sampai 2 minggu gitu. Ada yang baru ditanam juga yang potensi gagal panen,” lanjut Aep.

Kawasan Sukabumi Selatan—seperti Kecamatan Ciemas, Jampangkulon, dan Surade—menjadi daerah yang terpukul paling parah. Wilayah yang selama ini menyokong kebutuhan pangan daerah dengan potensi lahan mencapai 26.000 hektare tersebut kini mengalami penurunan aktivitas penanaman yang sangat signifikan.

“Kita punya sawah itu di selatan itu hampir 26.000 hektare. Tiap hari tuh biasanya kita kalau normal nanam luas pertanaman kita sekitar 650-800 hektare. Hari ini mungkin hanya 100 hektare. Jadi memang hari ini bagi petani El Nino ini begitu terasa ya, pasti mempengaruhi terhadap apa perekonomian,” jelasnya.

Pasokan Beras Lokal Dipastikan Masih Aman

Di tengah kekhawatiran meluasnya area sawah yang terdampak, Pemerintah Kabupaten Sukabumi memastikan bahwa stok pangan untuk kebutuhan masyarakat setempat masih berada pada posisi aman. Hasil panen sepanjang semester pertama tahun 2026 dinilai sanggup menopang kebutuhan konsumsi daerah.

“Untuk stok bahan pangan kita aman. Untuk Sukabumi aman. Malah kita kan sebenarnya produksi kita kalau untuk lokal melebihi. Kita Januari sampai bulan Juli 2026 mencapai 680.000 ton,” tegasnya.

Pihak dinas berharap kondisi iklim dapat segera membaik mendekati akhir tahun agar target Indeks Pertanaman (IP) tidak mengalami penurunan drastis.

“Hari ini IP kita mungkin baru sampai 2. Nah, mudah-mudahan nanti indeks pertanaman kita ke 3. Mudah-mudahan sih berharap di September-Oktober ini bisa,” tambah Aep.

Sungai Cikaso Surut dan Urgennya Pemulihan Kawasan Hulu

Kondisi di lapangan kian pelik lantaran alir air dari sumber-sumber utama terus menyusut. Selain kendala teknis pada beberapa jaringan irigasi, sungai-sungai besar yang selama ini menjadi penopang utama seperti Sungai Cikaso juga mengalami penurunan debit air yang parah.

“Memang hari ini debit airnya di beberapa irigasi yang kewenangan pusat sama provinsi memang ada yang rusak. Tapi yang paling utama memang kendalanya itu karena enggak ada hujan. Kedua, memang sumber-sumber mata airnya memang kecil. Termasuk sekarang sungai-sungai besar juga kayak Sungai Cikaso,” ungkap Aep.

Sebagai pendorong penanganan darurat, bantuan mesin pompa air dan pembuatan sumur bor telah disalurkan ke sejumlah lokasi. Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) serta para penyuluh lapangan turut dikerahkan untuk mendampingi para petani di wilayah terdampak.

“Seperti kemarin di Palabuhanratu ada sekitar 50 hektar tanaman padi usia sebulan yang kekeringan, langsung kita turunkan bantuan pompa air. Namun untuk wilayah selatan, tantangannya memang pada ketersediaan sumber airnya yang sudah sangat minim,” katanya.

Aep menegaskan bahwa solusi jangka panjang membutuhkan keterlibatan lintas sektor untuk menyelamatkan area resapan air di wilayah hulu. Implementasi Perda Patanjala Nomor 10 Tahun 2025 tentang Pelestarian Pengetahuan Tradisional Dalam Pelindungan Kawasan Sumber Air menjadi tumpuan utama dalam menjaga keberlanjutan sumber air daerah.

“Penanganan kekeringan ini tidak bisa oleh Dinas Pertanian saja. Jadi intersektor ya. Penanaman kembali bukit-bukit tadi yang sesuai dengan Perda itu, Patanjala. Sumber-sumber air ini memang harus dilindungi. Di sumber-sumber air yang kayak di Jampang itu kan dari Cikaranggeusan tuh, yang di atasnya memang banyak yang gundul,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi virus HIV/AIDS

Puluhan Kasus HIV/AIDS Ditemukan di Pangandaran, Sejumlah Calon Pengantin Ikut Positif Terinfeksi

bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas

kekerasan

Bejat! Oknum Guru Ngaji di Sukabumi Cabuli 7 Anak, Modus Ajak Main

Viral! Sejumlah Pengunjung Diduga Keracunan Massal Usai Makan di Restoran Korea Bandung

Sempat Tuai Penolakan, Sekolah Pengganti SDN 026 Bojongloa Akhirnya Dibangun

Rezeki Akhir Tahun! PKH, BPNT, Beras hingga BSU Rp900 Ribu Masuk Periode Penyaluran

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.