bukamata.id – Fenomena cuaca ekstrem El Nino yang mendera wilayah Jawa Barat mulai menghantam sektor pertanian di Kabupaten Sukabumi secara drastis. Akibat surutnya pasokan air dan kemarau yang berkepanjangan, ribuan hektare lahan pertanian warga kini terancam mengalami gagal panen total atau puso, dengan kondisi terparah terpusat di kawasan selatan.
Berdasarkan data Pemkab Sukabumi, dampak kemarau ini telah meluas hingga mengancam ribuan hektare areal tanam dari total puluhan ribu hektare lahan persawahan yang tersebar di berbagai wilayah.
“Dari total lebih dari 62.000 hektar luas sawah kita di Kabupaten Sukabumi, tercatat ada 8.925 hektar pertanaman sawah maupun tegalan yang terdampak kekeringan,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, saat ditemui di kantor UPTD Distan, Baros, Kota Sukabumi, Jumat (14/8/2026).
Fase Kritis Tanaman dan Penyusutan Luas Tanam di Selatan
Dampak krisis air ini paling dirasakan oleh para petani yang baru memasuki masa awal tanam. Tanaman padi yang baru berumur hitungan hari hingga dua pekan sangat rentan mati jika pasokan irigasi terhenti secara mendadak.
“Yang terdampak yang pertama yang lagi pertumbuhan vegetatif. Baru ditanam mungkin seminggu sampai 2 minggu gitu. Ada yang baru ditanam juga yang potensi gagal panen,” lanjut Aep.
Kawasan Sukabumi Selatan—seperti Kecamatan Ciemas, Jampangkulon, dan Surade—menjadi daerah yang terpukul paling parah. Wilayah yang selama ini menyokong kebutuhan pangan daerah dengan potensi lahan mencapai 26.000 hektare tersebut kini mengalami penurunan aktivitas penanaman yang sangat signifikan.
“Kita punya sawah itu di selatan itu hampir 26.000 hektare. Tiap hari tuh biasanya kita kalau normal nanam luas pertanaman kita sekitar 650-800 hektare. Hari ini mungkin hanya 100 hektare. Jadi memang hari ini bagi petani El Nino ini begitu terasa ya, pasti mempengaruhi terhadap apa perekonomian,” jelasnya.
Pasokan Beras Lokal Dipastikan Masih Aman
Di tengah kekhawatiran meluasnya area sawah yang terdampak, Pemerintah Kabupaten Sukabumi memastikan bahwa stok pangan untuk kebutuhan masyarakat setempat masih berada pada posisi aman. Hasil panen sepanjang semester pertama tahun 2026 dinilai sanggup menopang kebutuhan konsumsi daerah.
“Untuk stok bahan pangan kita aman. Untuk Sukabumi aman. Malah kita kan sebenarnya produksi kita kalau untuk lokal melebihi. Kita Januari sampai bulan Juli 2026 mencapai 680.000 ton,” tegasnya.
Pihak dinas berharap kondisi iklim dapat segera membaik mendekati akhir tahun agar target Indeks Pertanaman (IP) tidak mengalami penurunan drastis.
“Hari ini IP kita mungkin baru sampai 2. Nah, mudah-mudahan nanti indeks pertanaman kita ke 3. Mudah-mudahan sih berharap di September-Oktober ini bisa,” tambah Aep.
Sungai Cikaso Surut dan Urgennya Pemulihan Kawasan Hulu
Kondisi di lapangan kian pelik lantaran alir air dari sumber-sumber utama terus menyusut. Selain kendala teknis pada beberapa jaringan irigasi, sungai-sungai besar yang selama ini menjadi penopang utama seperti Sungai Cikaso juga mengalami penurunan debit air yang parah.
“Memang hari ini debit airnya di beberapa irigasi yang kewenangan pusat sama provinsi memang ada yang rusak. Tapi yang paling utama memang kendalanya itu karena enggak ada hujan. Kedua, memang sumber-sumber mata airnya memang kecil. Termasuk sekarang sungai-sungai besar juga kayak Sungai Cikaso,” ungkap Aep.
Sebagai pendorong penanganan darurat, bantuan mesin pompa air dan pembuatan sumur bor telah disalurkan ke sejumlah lokasi. Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) serta para penyuluh lapangan turut dikerahkan untuk mendampingi para petani di wilayah terdampak.
“Seperti kemarin di Palabuhanratu ada sekitar 50 hektar tanaman padi usia sebulan yang kekeringan, langsung kita turunkan bantuan pompa air. Namun untuk wilayah selatan, tantangannya memang pada ketersediaan sumber airnya yang sudah sangat minim,” katanya.
Aep menegaskan bahwa solusi jangka panjang membutuhkan keterlibatan lintas sektor untuk menyelamatkan area resapan air di wilayah hulu. Implementasi Perda Patanjala Nomor 10 Tahun 2025 tentang Pelestarian Pengetahuan Tradisional Dalam Pelindungan Kawasan Sumber Air menjadi tumpuan utama dalam menjaga keberlanjutan sumber air daerah.
“Penanganan kekeringan ini tidak bisa oleh Dinas Pertanian saja. Jadi intersektor ya. Penanaman kembali bukit-bukit tadi yang sesuai dengan Perda itu, Patanjala. Sumber-sumber air ini memang harus dilindungi. Di sumber-sumber air yang kayak di Jampang itu kan dari Cikaranggeusan tuh, yang di atasnya memang banyak yang gundul,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










