Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kehabisan Akal Promosi? Brand Miras Buat Challenge Ayat Al-Qur’an Berhadiah Alkohol!

Senin, 10 Agustus 2026 20:11 WIB

Mantan Aktris Cilik Dea Imut Resmi Menikah dengan Mazaki Ahmad, Mahar Rp2.921.996 Viral

Senin, 10 Agustus 2026 20:09 WIB

Persib Gaspol! Rumput GBLA Dipoles Jelang Hadapi Manila Digger di Playoff ACL 2

Senin, 10 Agustus 2026 19:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kehabisan Akal Promosi? Brand Miras Buat Challenge Ayat Al-Qur’an Berhadiah Alkohol!
  • Mantan Aktris Cilik Dea Imut Resmi Menikah dengan Mazaki Ahmad, Mahar Rp2.921.996 Viral
  • Persib Gaspol! Rumput GBLA Dipoles Jelang Hadapi Manila Digger di Playoff ACL 2
  • Kasus Handi Pria Bandung Tewas di Sumedang, 15 Orang Kini Diperiksa Polisi
  • Usai 7 Tahun, Persija vs Persib Bakal Kembali ke GBK pada 12 September?
  • Pria di Kuningan Tega Habisi Ibu Kandung Gara-gara Kesal Dibangunkan Salat Subuh
  • Pria Bandung Tewas di Sumedang, Diduga Disekap dan Dianiaya hingga Babak Belur
  • Cek Bansos Agustus 2026 Lewat HP, Cukup Pakai NIK KTP! Ini Caranya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 10 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kehabisan Akal Promosi? Brand Miras Buat Challenge Ayat Al-Qur’an Berhadiah Alkohol!

By Aga GustianaSenin, 10 Agustus 2026 20:11 WIB9 Mins Read
Viral Challenge baca surah Al-Quran hadiah miras. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gemerlap lampu panggung festival musik malam itu membakar semangat ribuan anak muda yang berjejal di area venue. Udara riuh oleh gelak tawa, dentuman nada bass yang menggetarkan dada, serta riak obrolan antarpenonton yang sedang menanti penampilan grup musik favorit mereka. Di sela-sela pergantian penampil—tepat saat massa tengah riuh rendah menunggu aksi panggung musisi Hindia—kerumunan memadati pelataran festival untuk sekadar membeli minuman, berswafoto, atau mencari hiburan ringan.

Di salah satu sudut area eksibisi, berdiri sebuah booth megah dengan tata cahaya warna-warni yang mencolok. Booth tersebut milik brand minuman beralkohol populer bernama Newport. Bangunan stan yang dirancang futuristik itu tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin menikmati atmosfer malam. Namun, di balik pendar lampu neon yang memikat, sebuah aksi pemasaran (marketing gimmick) sedang berlangsung—sebuah aksi yang kelak akan memicu gelombang kemarahan publik di seluruh penjuru negeri.

Seorang MC atau pemandu acara di booth tersebut memegang mikrofon, melontarkan tantangan (challenge) interaktif kepada para pengunjung festival. Gimmick semacam ini sejatinya merupakan hal biasa dalam festival musik anak muda untuk menarik perhatian massa. Namun, kali ini, ada batas tebal yang dilompati tanpa rasa canggung: penyelenggara stan menantang pengunjung untuk menghafal ayat suci Al-Qur’an, dengan imbalan satu botol minuman keras secara gratis.

Tantangan spesifik yang diberikan malam itu adalah melantunkan Surah Ad-Duha. Bagi publik Muslim, Surah Ad-Duha adalah salah satu surat mulia dalam Al-Qur’an yang sarat akan makna penyejuk jiwa, kehangatan kasih sayang Ilahi, dan janji pertolongan Tuhan di saat kesusahan. Namun malam itu, di tengah hiruk-pikuk festivitas malam dan aroma alkohol yang menyeruak, ayat-ayat sakral tersebut dilantunkan demi sebotol miras gratisan.

Rekaman 54 Detik yang Mengguncang Jagat Maya

Kejadian tersebut mungkin akan berlalu begitu saja swallowed oleh riuk festival, andai saja seorang pengunjung festival tidak merekamnya dan membagikannya ke media sosial. Lewat akun Threads bernama @jarrkojarr, video berdurasi singkat itu diunggah ke dunia maya.

Dalam rekaman video tersebut, terlihat suasana riuh di depan booth Newport. Beberapa pengunjung festival tampak mendekati pemandu acara, mencoba melantunkan baris demi baris ayat Al-Qur’an di bawah sorotan lampu stan. Terdengar gelak tawa dan sorak-sorai riang saat peserta berhasil menyelesaikan hafalan dan menerima imbalan botol minuman beralkohol yang disodorkan dari atas meja bar.

Pengunggah video, @jarrkojarr, tak mampu menyembunyikan rasa kecewa dan kegeramannya. Dalam tulisan pendamping video yang diunggahnya, ia menuliskan kalimat tajam yang mencerminkan kekecewaan mendalam:

“Lo jualan minuman tapi Al-Qur’an lo jadiin challenge, dan dikasih 1 botol lagi. Sakit.”

Unggahan tersebut bak percikan api di atas tumpukan jerami kering. Dalam hitungan jam, video tersebut menyebar luas lintas platform—dari Threads, X (Twitter), Instagram, hingga TikTok. Ribuan komentar membanjiri unggahan tersebut. Sebagian besar netizen mengecam keras aksi tersebut yang dinilai tidak hanya miskin etika, tetapi juga bentuk komodifikasi dan pelecehan terhadap simbol agama paling mendasar.

Sentimen publik membuncah bukan tanpa alasan. Dalam ajaran Islam, minuman beralkohol (khamr) secara tegas dan mutlak dikategorikan sebagai hal yang haram (رجس – najis/perbuatan keji). Menyandingkan, menukarkan, atau menyejajarkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an—yang diposisikan sebagai pedoman hidup tertinggi—dengan hadiah berupa produk yang diharamkan oleh agama yang sama, dianggap sebagai bentuk insultasi (penghinaan) yang sangat fatal.

Amarah Netizen dan Fenomena Pengulangan Blunder

Kolom komentar berbagai unggahan viral tersebut mendadak riuh oleh akumulasi kejenuhan dan amarah warganet. Banyak netizen yang menumpahkan rasa geramnya karena merasa peristiwa seperti ini terus berulang tanpa adanya efek jera yang nyata.

Tak sedikit netizen yang menyoroti motif di balik aksi nekat strategi pemasaran tersebut. Salah satu netizen menilai bahwasanya gimmick semacam ini lahir dari keputusasaan brand yang mulai kehilangan porsi pasar.

“Mereka udah kehabisan akal buat promosiin Miras karena gak laku kyk dulu, anak muda skrg lebih bnyk yg memilih aktivitas positif seperti olahraga dan kajian agama,” ujar seorang netizen.

Sentimen tersebut memperlihatkan bagaimana publik menilai adanya pergeseran gaya hidup anak muda urban saat ini yang dinilai kian sadar akan kesehatan fisik dan spiritualitas, sehingga memaksa lini industri minuman keras melakukan manuver pemasaran yang agresif—meski harus menabrak norma sosial.

Di sisi lain, kekecewaan publik juga dipicu oleh pola penyelesaian masalah yang dianggap terlampau klise dan berulang dari waktu ke waktu.

“Mulai mulai lagi nih, ujung ujungnya minta maaf!,” cetus netizen lainnya dengan nada jengkel.

Komentar senada juga bermunculan mengingat insiden promosi produk minuman beralkohol yang menyinggung simbol keagamaan bukanlah kali pertama terjadi di Indonesia.

“Dulu pernah kaya gini kan, sekarang ada lagi aja,” tambah netizen lain menyindir berulangnya skenario blunder yang sama.

Kritik-kritik pedas dari netizen ini mempertegas bahwa masyarakat sudah lelah dengan pola pemasaran kontroversial (controversy marketing) yang sengaja diciptakan untuk meraih perhatian (clout), dengan asumsi bahwa segala keributan nantinya cukup diselesaikan melalui selembar surat pernyataan permohonan maaf bermaterai.

Mengenal Newport – Produk Lokal di Bawah Naungan Orang Tua (OT) Group

Di balik riuhnya kontroversi ini, publik mulai bertanya-tanya mengenai profil produk minuman bernama Newport tersebut. Dari mana asalnya dan siapa konglomerasi di balik merek ini?

Meski menyandang nama gaya Barat (western-sounding name), Newport merupakan merek minuman beralkohol buatan dalam negeri (asli Indonesia). Newport diproduksi di bawah naungan Orang Tua (OT) Group—salah satu grup konglomerasi produk konsumen (fast-moving consumer goods atau FMCG) terbesar dan tertua di Indonesia. Di lini industri minuman beralkohol (alkomod/spirits), operasional produksinya berada di bawah anak perusahaan OT Group, seperti PT Beverindo Indah Abadi maupun lini manufaktur minuman fermentasi/distilasi grup tersebut.

Merek Newport sendiri dipasarkan sebagai produk ready-to-drink (RTD) berbasis racikan vodka (vodka mix) serta varian racikan rasa buah dan soda. Beberapa variannya yang populer di pasaran antara lain Newport Passion Blue, Newport Revolution, dan Newport Red dengan kadar alkohol berkisar antara 5% hingga 19.7% ABV. Lini produk ini sengaja dikemas dengan gaya trendi, menyasar segmen dewasa muda (young adults) urban yang kerap menghadiri konser, festival musik, serta kehidupan malam di kota-kota besar Indonesia.

Keterlibatan merek dari grup konglomerasi raksasa seperti OT Group dalam blunder promosi keagamaan ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat perusahaan sekelas ini biasanya memiliki standar tata kelola dan panduan etika korporat yang sangat ketat.

Gelombang Kecaman dan Reaksi Tokoh Agama

Reaksi keras tidak hanya datang dari warganet awam, tetapi juga dari para tokoh agama dan figur publik. Salah satu respons paling menohok datang dari penceramah kenamaan, Ustadz Hilmi Firdausi. Melalui akun media sosial resminya (@hilmi.fidausi), ia melayangkan teguran terbuka yang keras kepada pihak produsen dan penyelenggara:

“Untuk Brand Miras Newport, kalian sudah kelewatan, membuat promosi hafal ayat Al-Qur’an ditukar sama Miras. Segera klarifikasi dan minta maaf. Ini sudah masuk ranah penistaan agama!”

Kritik tajam Ustadz Hilmi menyuarakan kegelisahan umat yang lebih luas. Isu ini dengan cepat bergeser dari sekadar “kesalahan gimmick pemasaran” menjadi diskursus hukum dan norma sosial mengenai penistaan agama (blasphemy). Banyak pihak menilai bahwa tindakan ini melanggar Pasal-pasal terkait ujaran kebencian berbasis SARA dan penodaan agama yang tertuang dalam hukum pidana di Indonesia.

Para pengamat budaya dan sosiolog pun turut menyoroti fenomena ini. Mereka melihat adanya krisis sensitivitas dalam industri kreatif dan pemasaran modern. Demi mengejar engagement, sensasi viral, atau kesan “unik”, batas-batas kebudayaan, norma agama, dan rasa hormat terhadap keyakinan masyarakat sering kali diterjang tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.

Tanda Tanya Besar Kurasi dan Pengawasan Festival

Di balik kehebohan yang melibatkan brand Newport, sorotan tajam juga tertuju pada pihak penyelenggara festival musik (Event Organizer). Festival musik berskala besar sejatinya memiliki struktur tata kelola yang ketat, mulai dari perizinan, keamanan, hingga kurasi stan sponsor atau tenant yang berpartisipasi.

Pertanyaan besar yang kini bergulir di tengah publik adalah: Bagaimana mungkin sebuah aktivitas promosi yang sangat sensitif dan berpotensi memicu konflik SARA lolos dari pengawasan tim kurasi di lapangan?

Sebagai penyedia wadah, penyelenggara acara memikul tanggung jawab moral dan operasional untuk memastikan seluruh aktivitas di dalam area festival mematuhi kode etik, hukum yang berlaku, serta kesopanan publik. Lemahnya sistem pengawasan di area stan (booth monitoring) membuat aktivasi merek berjalan tanpa kontrol, hingga menghasilkan blunder fatal yang mencoreng reputasi festival itu sendiri.

Hingga laporan ini dibuat, publik masih menunggu kepastian dan tindakan tegas. Pihak brand minuman Newport maupun jajaran manajerial penyelenggara festival belum mengeluarkan pernyataan resmi (official statement) terkait kegaduhan yang meluas ini. Keheningan dari pihak-pihak bertanggung jawab ini justru makin menyulut kekecewaan masyarakat yang menuntut permohonan maaf secara terbuka serta proses hukum jika terbukti ada unsur kesengajaan penodaan agama.

Membaca Batas Antara Kreativitas dan Etika Pemasaran

Kasus challenge ayat Al-Qur’an berhadiah minuman keras ini menjadi catatan kelam baru dalam rekam jejak pemasaran digital dan acara hiburan di tanah air. Kejadian ini mengingatkan publik pada beberapa kasus serupa di masa lalu, di mana promosi produk minuman keras menggunakan nama-nama bernuansa keagamaan sempat memicu gelombang protest besar hingga berujung pada sanksi hukum dan penutupan gerai.

Ada beberapa pelajaran mendasar yang patut dipetik dari peristiwa kontroversial ini:

  1. Batas Suci yang Tak Boleh DilanggarKreativitas dalam dunia pemasaran (marketing) memang menuntut kebebasan berpikir (out-of-the-box). Namun, kebebasan tersebut tidak pernah bersifat absolut. Nilai-nilai keagamaan, simbol-simbol sakral, dan keyakinan spiritual masyarakat adalah batas merah yang tidak boleh dijadikan bahan lelucon, komodifikasi, apalagi dijadikan alat promosi barang-barang yang bertentangan dengan ajaran agama tersebut.
  2. Dampak Fatal Pemasaran Sensasional (Clout Chasing)Eksploitasi isu-isu sensitif demi meraih atensi sesaat sering kali berujung pada bencana reputasi (reputational disaster). Bagi sebuah merek, kehancuran citra dan hilangnya kepercayaan publik jauh lebih mahal harganya dibandingkan potensi keuntungan dari gimmick viral yang tidak beretika.
  3. Pentingnya Kurasi Ketat Penyelenggara AcaraPromotor dan penyelenggara festival musik tidak boleh hanya memosisikan diri sebagai penyewa lahan. Mereka adalah garda terdepan yang bertugas menjaga keamanan, kenyamanan, dan nilai-nilai etika selama acara berlangsung. Sistem monitoring terhadap aktivasi sponsor harus dilakukan secara real-time dan ketat di lapangan.

Penutup – Menjaga Marwah di Tengah Kebebasan Berekspresi

Festival musik seharusnya menjadi ruang aman dan inklusif bagi semua orang untuk menikmati seni, mengekspresikan diri, dan merayakan keberagaman. Ketika festival musik ternoda oleh tindakan irasional yang melecehkan keyakinan agama tertentu, keindahan seni itu sendiri menjadi luntur.

Peristiwa di booth Newport malam itu—di mana ayat-ayat suci Surah Ad-Duha dibaca di tengah dentuman musik festival demi sebotol minuman keras—akan tetap dikenang sebagai pengingat pahit. Sebuah peringatan keras bahwa ketika adab dan etika dicabut dari kreativitas, yang tersisa hanyalah kebisingan yang melukai rasa keadilan dan kesucian nurani masyarakat.

Publik kini menanti keberanian pihak-pihak terkait untuk bertanggung jawab secara gentleman: menyampaikan permohonan maaf yang tulus, melakukan evaluasi total, serta memastikan bahwa nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan tidak akan pernah lagi dijadikan barang dagangan murah di atas panggung hiburan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Challenge Hafal Al-Quran Miras Skandal Newport Viral Newport
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kasus Handi Pria Bandung Tewas di Sumedang, 15 Orang Kini Diperiksa Polisi

Pria di Kuningan Tega Habisi Ibu Kandung Gara-gara Kesal Dibangunkan Salat Subuh

Pria Bandung Tewas di Sumedang, Diduga Disekap dan Dianiaya hingga Babak Belur

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Cek Bansos Agustus 2026 Lewat HP, Cukup Pakai NIK KTP! Ini Caranya

Jawa Barat Krisis Guru, Pengajar Terpaksa Memegang Mata Pelajaran di Luar Keahlian

Ajang Drag Race di Sulawesi Utara Makan Korban, 8 Penonton Tewas Dihantam Mobil Balap

Terpopuler
  • Menuju Muswil VII KAHMI Jabar, Pansel Umumkan 16 Calon Presidium dengan Rekam Jejak Strategis
  • FOTO: Dedikasi Tanpa Batas Tim Medis Mengawal Keselamatan Laga Piala Presiden 2026
  • Genap 1 Tahun, PRI Jawa Barat Tegaskan Komitmen Jadi Rumah Rakyat
  • MUSWIL VII KAHMI Jabar Tuntas, 7 Presidium Terpilih Bawa Mandat Baru
  • 16 Bakal Calon Presidium MW KAHMI Jabar Jalani Verifikasi, Siapkan Pemimpin Baru Periode 2026-2031
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.