bukamata.id – Beberapa detik rekaman live streaming mampu mengubah seorang influencer populer menjadi figur yang paling dibicarakan di Indonesia. Nama Resbob, sosok yang sebelumnya hanya dikenal sebagai streamer penuh gimmick dan provocateur digital, kini menjadi pusat badai. Sebuah kalimat bernada SARA yang keluar dari mulutnya dalam siaran langsung sontak memicu gelombang kemarahan, terutama dari masyarakat Sunda dan komunitas yang turut disinggung.
Video berdurasi pendek itu beredar cepat, seperti percikan api yang jatuh di ladang kering. Dalam hitungan jam, wajah Resbob memenuhi lini masa, bukan karena prestasi, tetapi karena ucapannya yang dianggap merendahkan identitas etnis tertentu. Duduk santai di kursinya, Resbob tampak tak menyadari bahwa perkataannya akan memicu ledakan reaksi nasional. Tawa rekannya di samping hanya memperparah persepsi publik bahwa penghinaan itu sengaja dilontarkan—dan dianggap lucu.
Namun, ini bukan kali pertama Resbob bersinggungan dengan kontroversi. Bagi mereka yang mengikuti sepak terjangnya, insiden ini terasa seperti puncak dari pola panjang perilaku digital yang sering kali berada di area abu-abu.
Awal Mula Badai: Ketika Satu Kalimat Menggores Harga Diri Identitas
Dalam video yang beredar, ia menyebut frasa yang diduga melecehkan suku Sunda. Kata-kata yang keluar begitu ringan, tanpa sensor, tanpa refleksi. Di Indonesia—negara dengan tingkat sensitivitas tinggi terhadap isu identitas—ucapan seperti itu bukan sekadar kekhilafan. Ia menandai potensi gesekan antarkelompok, terutama ketika disiarkan oleh seseorang dengan puluhan ribu pengikut.
Reaksi publik tidak menunggu lama. Di TikTok, Instagram, dan X, kolom komentar dipenuhi kecaman. Netizen menilai tindakan itu bukan “candaan”, melainkan ujaran kebencian yang harus dipertanggungjawabkan. Komunitas suporter yang disebut dalam hinaan itu merespons keras. Para pegiat budaya Sunda merasa tersinggung dan menuntut klarifikasi serta permintaan maaf.
Banyak warganet bertanya-tanya: sampai kapan influencer bisa bebas berbicara tanpa memikirkan dampaknya? Pertanyaan itu menggema lebih keras ketika pejabat daerah ikut turun tangan.
Pernyataan Tegas Wakil Gubernur: Saat Pemerintah Turun Menenangkan Publik
Ketegangan meningkat setelah Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, memberikan pernyataan resmi. Dalam konferensi pers, ia mengungkapkan kemarahannya dan mendesak aparat untuk bertindak.
“Saya meminta kepolisian memproses dan menangkap pemilik akun tersebut,” tegasnya, Kamis (11/12/2025).
Pernyataan itu bukan hanya cerminan ketersinggungan emosional seorang pejabat, melainkan bentuk proteksi untuk mencegah konflik sosial yang lebih besar. Jawa Barat memiliki sejarah keharmonisan yang dijaga ketat—ucapan yang menyentuh ranah SARA bukan sesuatu yang bisa disepelekan.
Setelah komentar Wagub viral, laporan ke kepolisian mulai mengalir. Desakan netizen agar kasus ini diproses secara hukum semakin kuat.
Reaksi Publik: Dari Amarah, Seruan Boikot, hingga Dorongan Reformasi Etika Digital
Kolom komentar akun Resbob berubah menjadi arena kecaman massal. Video-video reaksi bermunculan, sebagian dari warga Sunda yang menyayangkan pernyataan tersebut, sebagian lagi dari kreator konten yang menyerukan boikot.
“Lucu itu ada batasnya. Ini sudah kebencian,” tulis seorang pengguna X.
Yang menarik, insiden ini justru memunculkan gerakan baru: kampanye digital mengenai pentingnya menjaga etika dalam live streaming. Banyak yang menuntut platform memperketat pengawasan terhadap konten yang berpotensi provokatif. Muncul pula diskusi soal perlunya aturan khusus bagi influencer, mengingat dampak mereka terhadap opini publik semakin besar.
Sebab, dalam dunia digital masa kini, seorang figur online memiliki kekuatan membentuk persepsi jutaan orang—baik secara positif maupun negatif.
Jejak Kontroversi Resbob: Bukan Kejadian Perdana
Bagi sebagian besar netizen lama, sikap Resbob sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Rekam jejaknya di dunia konten penuh dengan episode yang menuai pro dan kontra. Meski tidak selalu menyentuh ranah SARA, gaya komunikasinya yang agresif dan flamboyan sering kali dianggap memancing drama.
Beberapa bulan sebelumnya, ia juga pernah menuai kritik karena konflik dengan sesama streamer. Komentarnya kerap dianggap merendahkan lawan debat, walaupun saat itu masih bisa dianggap sebagai bagian dari “persona konten”. Namun insiden terbaru ini melewati batas—karena menyentuh identitas kolektif.
Perbedaan antara kontroversi sebelumnya dan yang satu ini jelas: kali ini, dampaknya tidak hanya mengenai satu individu, tetapi menyentuh martabat satu kelompok etnis.
Di sinilah letak masalahnya. SARA bukan materi candaan. Di Indonesia, isu ini membawa risiko perpecahan, memantik sentimen horizontal, bahkan memicu konflik nyata.
Live Streaming: Ruang Spontan yang Sering Memancing Bencana Komunikasi
Fenomena influencer seperti Resbob menunjukkan sisi lain dunia digital: spontanitas live streaming. Tidak seperti konten rekaman yang dapat diedit, live streaming berjalan cepat, tanpa filter. Figur publik yang terbiasa memancing sensasi sering kali lupa bahwa batas-batas etika tetap berlaku.
Itulah mengapa begitu banyak insiden viral muncul justru dari live streaming—karena tidak ada jarak antara pikiran, kata-kata, dan publik.
Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa ruang digital memerlukan kedisiplinan baru, terutama bagi konten kreator dengan audiens besar.
Antara Permintaan Maaf, Proses Hukum, dan Masa Depan Resbob
Publik kini menunggu dua hal: tindakan kepolisian dan reaksi langsung dari Resbob. Akankah ia meminta maaf secara terbuka? Atau memilih membungkam diri dan menunggu situasi mereda?
Jika proses hukum berlanjut, kasus ini bisa menjadi preseden baru dalam penanganan ujaran kebencian di ruang digital Indonesia. Di sisi lain, permintaan maaf yang tulus setidaknya dapat meredakan ketegangan emosional masyarakat Sunda—yang merasa harga diri budayanya direndahkan.
Yang jelas, insiden ini mengukuhkan satu pelajaran penting: dalam era digital, kata-kata dapat menimbulkan luka sosial secepat kilat.
Penutup: Ketika Satu Influencer Menjadi Cermin Masalah Lebih Besar
Kontroversi Resbob bukan sekadar tentang satu orang yang salah bicara. Ia adalah cermin dari masalah yang lebih besar: kurangnya literasi digital, minimnya kontrol emosi dalam ruang publik online, dan ketiadaan batas etika yang jelas bagi influencer.
Kasus ini menyalakan alarm bahwa kebebasan berpendapat tetap memiliki koridor hukum dan moral. Ketika konten menyentuh ranah kebencian, publik berhak bereaksi. Pemerintah berhak bertindak. Dan influencer wajib bertanggung jawab.
Warga Sunda, komunitas suporter, dan publik luas menunggu perkembangan berikutnya. Yang dipertaruhkan bukan hanya nama Resbob, tetapi masa depan ruang digital yang lebih sehat dan harmonis.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











