Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bikin Turis Asing Terpikat, Ini 7 Surga Wisata Indonesia yang Tak Kalah Cantik dari Bali

Selasa, 3 November 2026 12:24 WIB

Mengupas Makna Dibalik Lirik ‘Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit’ yang Buat Aviwkila Pilih Vakum Medsos

Selasa, 3 November 2026 12:14 WIB

Intip Fantastisnya Penghasilan Nadia Omara usai Video KHW 400 Tembus Puluhan Juta Views!

Selasa, 3 November 2026 12:03 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bikin Turis Asing Terpikat, Ini 7 Surga Wisata Indonesia yang Tak Kalah Cantik dari Bali
  • Mengupas Makna Dibalik Lirik ‘Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit’ yang Buat Aviwkila Pilih Vakum Medsos
  • Intip Fantastisnya Penghasilan Nadia Omara usai Video KHW 400 Tembus Puluhan Juta Views!
  • Sinyal Bahaya Emiten Raffi-Nagita: Saham RANS Ambles Lebih dari 50 Persen!
  • I.League Cup 2026/2027 Kick Off Hari Ini: Cek Jadwal 6 Matchday Pertama dan Nasib Persib Bandung
  • Penertiban 48 Bangli Bundaran Cibiru Bandung dan Jeritan Kompensasi Pedagang
  • Akhirnya Comeback! Dari Skandal Podcast Sampai Tutup Channel, Juan dan Eve Buka Lembaran Baru!
  • Ujian Fisik Skuad Persib: Usai Tarung di Australia, Langsung Tantang Java United di Pekan Ke-9
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 3 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dedi Mulyadi dan Filosofi Sunda sebagai Landasan Kebijakan Publik

By Putra JuangSenin, 20 Januari 2025 15:45 WIB3 Mins Read
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: net)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gubernur Jawa Barat terpilih 2025-2030, Dedi Mulyadi merupakan salah satu sosok yang memiliki kecintaan dan kepeduliaan terhadap budaya Sunda.

Ya, wajar saja. Sedari kecil, Dedi Mulyadi memang sudah terbiasa dengan budaya adat Sunda. Pria kelahiran Kabupaten Subang pada 11 April 1971 ini, berasal dari keluarga petani yang sederhana.

Dedi Mulyadi sudah terbiasa mengolah sawah dan menggembala domba milik orang tuanya dengan kehidupan desa yang penuh dengan kebersamaan.

Maka tak heran, mantan Bupati Purwakarta dua periode ini dikenal sebagai orang yang sederhana dan sangat dekat dengan masyarakat.

– Filosofi Sunda sebagai landasan kebijakan publik

Selain Iket Sunda yang sering dikenakannya di banyak kesempatan, filosofi Sunda sebagai landasan kebijakan publik juga kerap dipraktikan oleh Dedi Mulyadi.

Sebab menurutnya, kebudayaan Sunda memiliki konsep tata kelola kehidupan yang sehat dan selaras dengan alam semesta.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Tetap Selidiki Dugaan Pemotongan Dana Kompensasi Sopir Angkot Puncak Bogor

“Tradisi nenek moyang di Jawa Barat itu bisa menjadi masukan bagi masyarakat saat ini, utamanya untuk menghindari bencana alam,” ucap Dedi, Minggu (29/3/2020).

Dedi mengatakan, salah satu aspek dalam kebudayaan Sunda ada sebuah istilah Tri Tangtu di Buana, yakni pembagian tata ruang menjadi tiga wilayah.

Ketiganya ialah dunia atas yang terdiri dari pegunungan, dunia pertengahan untuk perkampungan, dan dunia bawah yakni pantai. Di antara ketiganya itu memiliki jarak yang cukup jauh satu sama lain.

“Perkampungan penduduk ada di tengah itu untuk menghindari bencana, makanya tidak boleh ada perkampungan di lepas pantai dan gunung. Wilayah selain pemukiman itu dijadikan hutan untuk menjaga kelestarian alam semesta,” jelasnya.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Janji Kelola Anggaran Secara Efektif Demi Pembangunan Jabar

– Kebudayaan Sunda punya filosofi mendalam

Dedi begitu menginginkan supaya kebudayaan Sunda digali menjadi sebuah penelitian mendalam sebagai dasar filosofi pembangunan di Jabar.

Dedi mengatakan, kebudayaan Sunda ke depan jangan hanya menjadi cerita semata, tapi juga harus bisa melahirkan peradaban di Indonesia.

“Sehingga cerita Sunda bukan hanya cerita dari sisi bahasa tapi harus melahirkan peradaban,” ujar Dedi, Sabtu (19/10/2024).

Menurutnya, kebudayaan Sunda mesti bisa diterjemahkan mulai dari pertanian, arsitektur, pendidikan, hingga tata kelola lingkungan. Sehingga hal tersebut akan lebih memperkaya kebudayaan di Nusantara.

“Misal, tulisan Sunda buhun itu diteliti apa maknanya, dari makna itu lahirlah nanti karya ilmiah. Jadi saya ingin nanti ada jurnal-jurnal internasional memiliki latar berpikir akademik berdasarkan dari falsafah kesundaan,” imbuhnya.

– Filosofi Sunda membawa dampak kesejahteraan bagi masyarakat

Baca Juga:  Sentilan Dedi Mulyadi ke PLN: Telat Bayar Listrik Diputus, tapi Pas Mati Lampu Bikin Pabrik Rugi dan Ikan Koi Mati!

Saat ini, Dedi Mulyadi yang masih menunggu jadwal pelantikan sebagai gubernur Jabar yang rencananya dilaksanakan pada Februari 2025 mendatang, menjalankan aktivitas kesehariannya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang.

Di tempat ini, Dedi membuktikan filsafat Sunda ‘Réa Ketan, Réa Keton’ telah membawa dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

‘Réa Ketan, Réa Keton’ adalah filsafat tentang ketahanan pangan. Menurutnya, filsafat Sunda tersebut merupakan dasar pembangunan bagi manusia.

“Itu kalimat filosofi Sunda yang memiliki makna pembangunan, misalnya kalimat ini. Réa ketan réa keton; Buncir leuit, loba duit; Bru di juru bro di panto, ngalayah di tengah imah; di pipir aya petikeun; di kolong aya si jambrong, na para aya si jago itu adalah kalimat tentang sistem ketahanan pangan,” kata Dedi, Kamis (28/11/2024).

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

budaya Dedi Mulyadi kebijakan publik Sunda
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Sinyal Bahaya Emiten Raffi-Nagita: Saham RANS Ambles Lebih dari 50 Persen!

Penertiban 48 Bangli Bundaran Cibiru Bandung dan Jeritan Kompensasi Pedagang

Dilarang Nge-Vape di Area Kantor Polisi, Nekat Bakal Disanksi!

Ini Rincian Biaya Hidup Warga Jabar Biar Bisa Survive Sebulan Menurut BPS

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Apakah Namamu Terdaftar? Cek Penerima Bansos November 2026 di Sini

Panik Didatangi Polisi, Tiga Pemuda Bersajam di Karasak Bandung Tak Berkutik

Terpopuler
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • KHW 400 OTW Layar Lebar? Heboh Rumah Produksi Daftarkan Judul Film Mirip Konten Nadia Omara!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.